Indonesia Power Promosikan Batik Ramah Lingkungan

 Selama dua hari pelaksanaan Pesona Citra Batik Gumelem Banjarnegara 2015, PT. Indonesia Power UPB Mrica menampilkan batik alam hasil kerajinan kelompok binaannya Kelompok Usaha Bersama Batik “aGiri Alam” Gumelem Wetan. Upaya ini dimaksudkan sebagai ajang promosi bagi para pecinta batik bahwa pembuatan Batik Gumelem bisa dibuat dengan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan. Demikian disampaikan Manager Keuangan dan Administrasi, Murjoko, (26/11) di sela-sela kegiatan

Batik alam ini merupakan pengembangan dari binaan pengrajin batik sebelumnya. Usianya belum lama sebab KUB Giri Alam ini baru bulan Juni berdiri sehingga belum banyak menghasilkan, masih belajar, dan juga masih banyak orang belum tahu. Karena itulah kami tempuh upaya promosi ini” katanya.

 Pembinaan pada para pengrajin batik Gumelem melalui Corporate Social Responbility (CSR) PT. Indonesia Power telah dimulai sejak tahun 2010. Baru pada tahun 2015 kami mulai mengembangkan pembuatan batik dengan bahan-bahan alam yang ramah lingkungan. Pilihan ini, sambungnya, sejalan dengan misi perusahaan yang menitikberatkan pada pengembangan konservasi alam.

 “Harapan kami trend batik alam ini makin banyak peminatnya sehingga membantu pengembangan batik ramah lingkungan. Sebab jika peminatnya besar tentu akan membantu secara ekonomi para pengrajinnya sehingga batik alam ini tetap hidup” katanya.

 Selain itu, lanjutnya, kami berharap dari 15 pengrajin yang saat ini kami bina masing-masing mampu mengembangkan dan menularkan keterampilannya kepada para tetangganya sehingga ilmunya menyebar kepada para pengrajin Batik Gumelem lainnya.

 Humas PT. Indonesia Power Rina menambahkan bahwa untuk ajang Pesona Citra Batik Gumelem Banjarnegara 2015 penampilan kain Batik Alam baru sebatas di sesi eksibisi. Alasannya karena pecinta Batik Gumelem belum banyak yang tahu keberadaan batik alam. Untuk eksibisinya, pihaknya bekerja sama dengan Inggil Production dari Banjarnegara yang menaungi para model profesional.

 “Harapan kami penampilan para peragawati ini mampu membuka mata para pencinta batik Gumelem untuk mulai menggunakan batik alam sebagai pilihan pakaian batiknya” imbuhnya.

 Ketua Kelompok Usaha Bersama Batik “Giri Alam” Desa Gumelem Wetan, Waridah mengatakan pada prinsipnya perbedaan batik alam dengan batik lainnya adalah pada penggunaan pewarna batik. Batik alam pewarnannya menggunakan bahan-bahan non kimiawi seperti warna coklat dari pohon Tingi dan pohon Mahoni, warna kuning dari pohon Tenger, warna hitam dari Pohon Jolawe, warna merah dari pohon Secang, dan warna biru dari daun Tom.

Sayangnya dari seluruh bahan yang ada di sekitar kita baru Mahoni. Bahan-bahan lain kita beli langsung dari Yogya” katanya.

 Di dalam hal proses pembatikannya, lanjutnya, secara umum sama saja dengan pembuatan batik lainnya. Sedikit perbedaan hanya pada lama pembuatannya.

 “Hal ini disebabkan pada proses pencoretan dan pencuciannya batik alam memakan waktu lebih lama. Dengan pewarna alam pencoretan memakan waktu dua hari dan pencucian tiga hari. Dua-tiga hari lebih lama dibanding dengan pewarna non alami” katanya.

 Untuk hasilnya, lanjutnya, corak batik alam penampilan warnanya lebih lembut dibanding batik non alami. Keuntungan dari pewarnaan menggunakan batik alam ini, lanjutnya, warna batik usianya lebih lama dan kainnya juga cenderung lebih awet dengan model pewarnaan alam ini.

 “Untuk harga jual batik alam memang terkesan relatif lebih mahal dibanding batik non alami. Namun harga ini terbayarkan dengan keawetan warna batik dan kainnya” katanya. (**—eko br)