Suprapto Memperoleh Tambahan Rizqi dari Mengoleksi Keris

Dalam catatan sejarah, keris adalah hasil karya adiluhung dari sang empu dan digunakan sebagai senjata paling favorit pada zaman kerajaan. Di dalamnya banyak menyimpan ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari dan memiliki nilai estetika tingkat tinggi, mulai dari seni tempa, seni ukir, seni pahat dan seni bentuk. Proses pembuatannya yang ruwet dan memerlukan keahlian tersendiri, membuat keris Indonesia memperoleh pengakuan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai warisan budaya dunia pada tahun tahun 2005.

Keris dengan segala estetika dan esoterinya, membuat sebagian masyarakat ingin memiliki sebagai barang koleksi. Suprapto (49 th) warga Kelurahan Kutabanjarnegara, Kabupaten Banjarnegara (Jateng) adalah termasuk salah seorang yang mencintai sekaligus mengoleksi benda itu.

Ditemui minggu pagi (10/3/2011), Suprapto nampak sedang sibuk mewarangi 3 bilah keris dan 1 buah tombak yang baru saja dibeli. Selang dua jam kemudian pamor sudah mulai muncul dan sore harinya alur pamor tampak lebih menonjol dan bersinar putih perak keabu-abuan.

Di ruang depan yang biasa digunakan untuk ngobrol tentang “Tosan Aji” dengan rekan seprofesinya, nampak juga puluhan benda antik berupa tombak yang ditata berdiri. Sebuah lukisan kuda yang sedang berlari di alam bebas juga dipajang melengkapi indahnya suasana di dalam ruangan berukuran 2,5 x 5 meter.

Sejak tahun 1990 kami menyukai “Tosan Aji”, ucap Suprapto PNS di Kelurahan Wangon, Kecamatan Banjarnegara itu mengawali perbincangannnya. Menghargai karya adiluhung dari sang empu yang memiliki estetika luar biasa, adalah alasan paling utama bapak dengan dua anak itu mengoleksi Tosan Aji.

Persis pada tahun 1998 dimana usia Suprapto belum menginjak 30 tahun, datang seorang tua membawa kandi yang ternyata di dalamnya berisi beberapa tombak dengan kondisi kurang terawat. “Niki kangge njenengan” ucap orang tua itu dalam bahasa Jawa yang maksudnya benda tombak itu untuk anda, dan Suprapto terkejut ternyata benda yang selama ini diimpi-impikan datang dengan sendirinya. Saat itu pula suami dari Eni Wahyuningsih langsung merogoh kocek untuk diberikan kepada orang tua itu sebagai imbalan.

Selama lebih kurang 21 tahun lamanya, Suprapto terus berburu Tosan Aji, berbagai pameran di beberapa daerah juga sering diikuti dan beberapa keris miliknya sudah banyak yang terjual. Pada umumnya pembeli datang sendiri ke rumah yang lokasinya berada di belakang Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara

Hingga saat ini sekretaris Paguyuban Nguri Uri Tosan Aji (Puri Taji) “Kudi Mas” Kabupaten Banjarnegara itu memiliki benda mahakarya Nusantara berupa keris sebanyak 40 buah, kemudian tombak ada sekitar 50 buah dan benda antik lainnya berupa pedang sebanyak 17 buah.

Keris-keris yang menjadi koleksinya itu diantaranya merupakan tangguh (Perkiraan zaman pembuatan) Majapahit Wirobumi, Mataram Hindu, Mataram Sultan Agung, Singasari, Kediri, Tuban, Pejajaran, dan Demak. Bagi Suprapto, benda-benda itu merupakan investasi yang sewaktu-waktu bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak.

Ditanya bagaimana cara memelihara tosan aji agar masyarakat lain ikut tertarik untuk melestarikan benda itu, selama ini Suprapto tidak pernah melakukan sesaji khusus. Pemeliharaan hanya dilakukan dengan pencucian untuk menghilangkan karat dengan air kelapa dan jeruk nipis, sedangkan warangan dilakukan khusus untuk keris yang sudah mengalami korosi karena termakan usia.

Disamping mengoleksi “Tosan Aji” Suprapto juga memiliki keahlian melakukan penjamasan/pencucian atau istilah lain warangan. Disamping kolektor dari daerah Banjarnegara sendiri, beberapa kolektor dari daerah lain juga banyak yang datang, mereka hanya sekedar ingin membersihkan keris miliknya dari kotoran yang menempel seperti karat.

Untuk penjamasan keris, Suprapto tidak memerlukan sesaji macam-macam kecuali hanya menyediakan air kelapa, jeruk nipis dan batu warangan. Penjamasan secara rutin dilakukan setiap hari minggu antara pukul 09.00 – 11.00 WIB. Proses pertama adalah membasuh atau merendam keris dengan air kelapa dan menggosokkan dengan jeruk nipis.

Menurut Suprapto air kelapa dan jeruk nipis cepat menghilangkan karat, setelah itu baru masuk pada proses mewarangi dengan menggunakan larutan batu warangan. Proses ini yang pada akhirnya akan membuat keris beserta pamornya menjadi kelihatan lebih cantik dan bersinar.

Proses mewarangi dilakukan dengan cara mencelupkan keris ke dalam larutan air jeruk nipis dicampur dengan larutan batu warangan selama lebih kurang 10 menit. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi besi dari korosi dan merubah warna menjadi kehitam-hitaman. Dengan cara itu alur pamor menjadi lebih tampak kontras dengan tampilan putih perak keabu-abuan. Hanya itu dan imbalannya ditanggung tidak mahal, karena Suprapto hanya mematok harga Rp 25.000,- / keris atau tosan aji lainnya dengan hasil memuaskan.

Suprapto biasanya membuat larutan untuk penjamasan benda itu sekaligus untuk ukuran sekitar 400 keris dan tosan aji lainnya. Air jeruk nipis yang diperlukan sekitar 1 liter yang dicampur dengan larutan batu warangan sebanyak 400 gr.

Untuk kepentingan bahan baku, ia harus mengeluarkan dana sebesar Rp 3 juta. Dari kegiatan menjual jasa mewarangi, Suprapto bisa mengantongi keuntungan sebanyak Rp 7 juta dengan rentang waktu antara 1 sampai 3 bulan. (Subagyo).