Tue10192021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Info-Logi Masa Depan Bahasa Banyumas

Masa Depan Bahasa Banyumas

Bahasa Banyumas atau yang dikenal sebagai dialek Banyumas keadaannya kini cukup memprihatinkan. Ada kecenderungan, orang-orang yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap (termasuk juga Kebumen) sebagai komunitas terbesar pengguna bahasa Banyumas. Mulai “meninggalkan” bahasa ngapak-ngapak. Mulai “melupakan” bahasa yang sudah lama hidup dan berkembang di tlatah Banyumas.

 

Terlebih-lebih mereka yang hidup di perumahan dengan     warga yang heterogen yang tidak hanya berasal dari wilayah Banyumas, tetapi bisa dari berbagai suku, mereka dalam erkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia yang dianggap lebih afdol, lebih mudah untuk berkomunikasi dan dapat dipahami oleh semua golongan.

Berbagai alasan dapat dikemukakan. Bahasa Banyumas dianggap tidak gaul, perasaan malu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Banyumas, tidak pede ketika menggunakan bahasa Banyumas, bahasa Banyumas terasa “kasar” karena tidak “bandhek”, tidak seperti bahawa Jawa dialek Yogyakarta dan Solo.

Masa depan bahasa Banyumas dalam keadaan gawat. Keadaanya mungkin sudah kritis. Jika tidak ada usaha yang nyata untuk mempertahankan keberadaan bahasa Banyumas, dikhawatirkan lambat laun bahasa Banyumas akan musnah. Musnahnya suatu bahasa, temasuk bahasa Banyumas, bisa aja terjadi. Menurut catatan Unesco, lebih dari 50% dari 6.000 bahasa di dunia dalam keadaan bahaya, 96% dari 6.000 bahasa diucapkan oleh 4% populasi dunia, 90% dari bahasa dunia tidak ditunjukkan di internet. Rata-rata satu bahasa lenyap setiap dua minggu (majalah Talenta volume 2 No. 11 November 20).  Musnahnya satu bahasa terjadi jika bahasa itu sudah tidak digunakan lagi oleh para pengguna bahasa.

Jika bahasa banyumas sampai musnah karena sudah tidak ada yang menggunakannya untuk berkomunikasi, tentu saja sangat merugikan kita. Bagaimanapun juga, bahasa Banyumas sebagai bahasa daerah, akan memperkaya budaya bangsa Indonesia. Merupakan salah satu kekayaan bahasa dari sekian banyak bahasa yang ada dan berkembang di Indonesia.

Sebagai Muatan Lokal

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bahasa Banyumas adalah dengan dimasukkannya bahasa Banyumas sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD/MI hingga SMA/Madrasah Aliyah. Mungkin saja gagasan ini dianggap sebagai gagasan yang ngayawara.  Gagasan yang mengada-ada. Akan tetapi, gagasan ini bisa dipertanggungjawabkan dan masuk akal. Selama ini, yang termasuk muatan lokal dalam kurikulum di sekolah-sekolah adalah bahasaJawa dialek Yogyakarta atau Solo yang di anggap lebih “baku” dan “standar”.

Jadi, “kiblat” pengajaran bahasa jawa, sebagai muatan lokal, adalah dialek Yogyakarta karena dianggap lebih “halus”. Sementara bahasa Banyumas tidak diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah Banyumas. Padahal, dalam keseharian, para siswa di wilayah Banyumas berkomunikasi dengan dialek Banyumasan bukan dialek Yogyakarta. Maka, yang terjadi kemudian adalah hal-hal yang menggelikan. Karena mereka terbiasa mengucapkan “a” untuk huruf  a yang bila dibaca dengan bahasa Jawa yang standar “o”, maka akan tetap mengucapkan “a”. kata “lara” (sakit) yamg mestinya di ucapkan “loro” akan tetapi di baca “lara” oleh siswa yang berada di wilayah Banyumas. Sehingga ada guyonan, ketika mengucapkan kenthang menjadi kenthong.

Bahasa Banyumas bisa dijadikan sebagai “pendamping” bahasa Jawa yang berkiblat pada dialek Yogyakarta. Bisa saja dalam 1 minggu ada 4 jam pelajaran bahasa Jawa: masing-masing 2 jam untuk dialek Banyumasan dan Yogyakarta. Sehingga anak didik yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas (dan mungkin juga Kebumen) tidak tercabut dari akar budaya Banyumas. Mereka akan lebih mengenal bahasa sendiri. Mereka tidak akan merasa asing. Dengan bahasa Banyumas. Kosa kata yang berasal dari bahasa Banyumas akan dapat mereka pahami dengan benar.

Agar bahasa Banyumas dapat dimasukan sebagai muatan lokal di sekolah, perlu adanya standarisasi bahasa Banyumas. Sebab, tidak jarang ada kosa kata yang mempunyai makna yang berbeda antara daerah yang sat dengan daerah yang lain meskipun masih dalam wilayah Banyumas.

Untuk standarisasi itu, perlu pembicaraan yang serius di kalangan pemerhati, budayawan, pakar bahasa di dukung oleh pihak eksekutif dan legislatife dan pihak-pihak yang berkompeten di bidang pengambilan keputusan di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen).

Pemerhati, budayawan dan pakar bahasa untuk merumuskan bahasa Banyumas yang Baku, mungkin juga ucapan dalam bahasa Banyumas, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebahasaan.

Pihak eksekutif dan legislatife dan pihak terkait bertugas untuk mengeluarkan kebijaksanaan berkaitan dengan pemberlakukana bahasa banyumas sebagai muatan local di sekolah termasuk angaran yang di[erlukan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, maka keinginan untuk memasukan bahasa banyumassebagai muatan local akan dapat terlaksana dengan baik akan berjalan dengan optimal sementara ini sudah ada kamus dialek banyumas -Indonesia yang dapat di jadikan sebagai ryjukan pengambilan keputusan.

Budaya

Disamping memalaui jalur pendidikan, yang tifak kalah pentingnya adalah jalur kebudayaan. Sekarang ini ada kecendurungan seni budaya yang menjai primadona diwilayah banyumas, seperti calung mulai menimggalkan cita rasa banyumas. Ketika manggung calung dengan regnya labih banyak menfendangkan lagu-lagu camprsari atau dangdut dibandingkan dengan tembang-tembang banyujmasan. Mungkin itu tuntutan masyarakat atau usaha mereka agar dapat tetepa bertahan hidup di tengah-tengah serbuan berbagai jenis hiburan popular yang berkembangn dimasyarakat. Pada tahun 70-80an, Banyunmas pernah mempunyai grup dagelan yang sanagat popule, yaitu penag penjaol. Grup dagelan itu ealalau menyajikan cerita bahasa Banyumas, ternyata menarik. Merekapun laris mangung di mana-mana. Sehinga penag penjol cukup legendaries. Kini belum muncul dagelan yang sepopuler penag penjol

Saat ini muncul penyayni seperti grup sopsan yang membawakan lagu-lagi banyumasan yang juga mendapatkan tempat di masyarakat.

Usaha untuk mengembangkan bahasa banyumas yang merupakan upaya penyelamayan bahasa banyumas itu bukan untuk membangkitkan primordialisme atau kebanggaan terhadap bahasa daerah secara sempit dan berlebihan, bukan, itu semua demai keberlangsungan bahasa Banyumaas. (Rahmat Purwnato)

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan