Mon10252021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Laporan Khusus

laporan khusus

Yang Baru di Festival Serayu : Banjir Dawet dan Mancing Mania Siap Meriahkan Festival

 

 

 

 

 

 

 

Banjarnegara akan menggelar Festival Serayu Banjarnegara (FSB) 2015 pada 26-30 Agustus. Kepala Dinbudpar Banjarnegara Aziz Achmad, mengatakan rangkaian kegiatan Festival Serayu 2015 pada prinsipnya sama seperti kegiatan serupa yang digelar pada tahun 2013. Namun ada sedikit penambahan dan variasi menu event agar FSB 2015 kali ini lebih ‘menggigit’ lagi, dan yang terpenting membawa efek positif bagi ekonomi rakyat, dengan banyaknya kunjungan wisatawan yang berbelanja di Banjarnegara. 

Banjir dawet 

Kirab Budaya tetap menjadi unggulan. Tapi untuk tahun ini, kirab rencananya digelar pada malam hari. Selain itu, pesta 'Parak Iwak' juga tetap digelar dan yang terbaru adalah Banjar Banjir Dawet serta Kongres Sungai Indonesia, kata Aziz Achmad. 

Aziz mengatakan, kegiatan ‘Banjar Banjir Dawet’ akan digelar saat pembukaan Festival tanggal 26 Agustus dengan mendatangkan 300-an "rombong" (penjual) dawet yang siap membuat ribuan gelas dawet gratis untuk pengunjung. 

Rencananya, FSB 2015 akan dihadiri delegasi dari sejumlah kabupaten/kota yang diharapkan dapat turut menampilkan atraksi seni budaya daerah masing-masing. Untuk itu, pihaknya tengah gencar mempromosikan festival tersebut. 

"Kami sudah siapkan sejak awal, promosi juga sudah dilaksanakan. Kami harapkan kegiatan Festival Serayu 2015 dapat menarik kunjungan wisatawan ke Banjarnegara," kata Aziz.

Mancing mania dan Jambore Akik 

Yang menarik, Lomba ‘Mancing Mania’ tingkat nasional dan Jambore Batu Akik dipastikan akan ikut meramaikan FSB melalui kegiatan Kongres Sungai Indonesia (KSI). 

Rencananya Mancing Mania akan dipusatkan di Waduk Mrica tanggal 29 Agustus 2015. Ketua Penyelenggara Ambar Prastowo, saat audiensi dengan Wakil Bupati Banjarnegara di Rumah Dinas, Senin (16/2/2015), menyatakan kesiapannya untuk menyelenggarakan event tersebut. 

“Langkah awal yang kami lakukan adalah membuka hubungan dengan semua klub mancing yang ada di Indonesia. Ajang ini nantinya selain bertujuan sebagai sarana untuk mengumpulkan penghobi mancing mania dari seluruh Indonesia, juga akan mempunyai tujuan utama yakni mempopulerkan nama Banjarnegara ke dunia luar,” katanya. 

Pihaknya berharap acara mancing mania ini nantinya dapat menjadi salah satu sarana yang ikut memperluas cakupan promosi potensi dan wisata Banjarnegara. 

Ketua Maguro Fishing Team yang memimpin rombongan Mancing Mania, Lastiyo, mengaku, dirinya yang tinggal di Jakarta juga baru paham betul bahwa Banjarnegara ada di Jawa Tengah setelah datang sendiri ke sini. Karena itu saat ada ide mengadakan lomba Mancing Mania di Waduk Mrica, dirinya sangat mendukung ide tersebut. “Kegiatan ini telah terpublikasi melalui jejaring mancing mania yang beranggotakan 25 ribu orang dari seluruh Indonesia,” katanya. 

Sementara itu, pameran batu akik terbesar masih digodok persiapannya. Ketua Umum FSB telah menunjuk Kepala Dinsosnakertrans, Dwi Suryanto, S. Sos, M. Si sebagai ketua penyelenggaran pameran batu mulia yang kini tengah naik daun itu.

Optimis 

Wakil Bupati Banjarnegara, Drs. Hadi Supeno, M.Si, mengatakan, Kongres Sungai Indonesia merupakan salah satu agenda Festival Serayu tahun 2015. Sebagai event budaya, menurutnya, event baru sangat penting untuk menarik pengunjung guna hadir pada event tersebut. 

KSI 2015 nanti, lanjutnya, direncanakan akan diisi dengan sarasehan, seminar, worskshop, kongres, dan penampilan atraksi seni budaya dari komunitas pemangku sungai se Indonesia. 

"Selain itu juga akan diselenggarakan sejumlah kegiatan pendukung, seperti Lomba Menulis, Mewarnai, Membuat Lagu, lomba foto, festival Film, dan Lomba Mancing Mania. Lomba Mancing Mania diharapkan mampu memberikan partisipasinya meramikan kegiatan KSI seperti halnya kegiatan yang lain” pungakasnya. 

Selaku ketua umum FSB, Wabup Hadi Supeno mengharapkan kunjungan wisatawan saat Festival Serayu 2015 dapat melampaui kegiatan serupa yang digelar pada tahun 2013. Saat itu ribuan wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi Banjarnegara. “Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan citra positif pariwisata Banjarnegara yang sempat lesu akibat berbagai isu bencana alam.” Wabup juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang sudah siap berpartisipasi. (mjp)

 

 

 

 

 

 

 

Coffee Morning Paparkan FSB 2015

 

 

 

Persiapan penyelenggaraan Festival Serayu Banjarnegara 2015 yang di kemas dalam acara Coffee Morning, Rabu (18/1) digelar di Pendapa Dipayudha Adigraha. Berbagai persiapan di paparkan demi suksesnya acara yang diharapkan mampu menyedot satu juta wisatawan tersebut. Dalam coffee morning tersebut juga dikenalkan maskot dan logo Festival Serayu 2015. Untuk logo yang bertuliskan Festival Serayu  Banjarnegara 2015 yang memunyai 4 warna mengandung makna yang berbeda. Sedangkan Tipe huruf Creampuff pada teks Festival Serayu memberikan kesan elegan, kokoh, bersahabat dan klasik. (perlambang tetap melestarikan tradisi dan budaya yang ada). Sedangkan Warna birumerefleksikan air  atau sungai, membawa konsep merawat air atau sungai untuk kelangsungan peradaban . 

Tulisan Festival Serayu Banjarnegara 2015 yang mempunyai empat warna mengandung berbagai makna. Pilihan font Book Antiqua pada teks Banjarnegara 2015 memberikan kesan friendly, ramah, welcome dan modern.

“Warna hijaupada tulisan Banjarnegara menegaskan bahwa kebijakan pembangunan  Banjarnegara adalah melestarikan alam. Sedangkan Warna orangepada tulisan 2015 merepresentasikan semangat, sementara warna Merah melambangkan keberanian, tekad yang membara,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aziz Ahmad saat memaparkan makna maskot dan logo Festival Serayu 2015.

Sedangkan maskot Festival Serayu tahun 2015 sendiri bergambar Bima sedang menaiki perahu diatas sungai serayu. Maskot yang ditampilkan kali ini juga mengandung berbagai makna dan arti.

Pemilihan tokoh bima menjadi maskot Festival Serayu diangkat dari mitologi sejarah sungai serayu dan juga karena ketokohan Bima. “Bima yang digambarkan tersenyum menatap kedepan, merepretasikan masyarakat Banjarnegara yang ramah  optimis, pantang menyerah,” lanjut Aziz

Sedangkan Motif relung ombak, berbentuk  daun berirama merupakan representasi dari masyarakat Banjarnegara yg dinamis, bergerak maju dan optimis menghadapi tantangan, namun tetap mempertahankan nilai budaya.

“Dalam maskot tersebut juga terdapat gambar gunung berwarna hijau. Background gunung menggambarkan alam Banjarnegara yang berada di wilayah pegunungan. Warna hijau melambangkan menjaga dan merawat kelestarian alam,” jelasnya

Untuk setiap event, maskotnya juga berbeda yaitutokoh bima dalam berbagai aktifitas kegiatan FSB 2015. FSB 2015 nantinya juga  akan menyajikan berbagai event yaitu serayu expo pada tanggal 26 hingga 29 Agustus, di Stadion Soemitro Kolopaking, Banjar Banjir Dawet tanggal 26 Agustus di Stadion Soemitro Kolopaking, Banjarnegara bersholawat 27 Agustus di Alun-Alun Kota Banjarnegara

Yang berbeda dari FSB yang pertama adalah diadakannya Kongres Sungai Indonesia (KSI) pada tanggal 26 hingga 29 Agustus di Balai Budaya Banjarnegra. Kongres sungai ini berskala nasional dan akan diadakan juga mancing mania dalam kegiatan KSI.

Parade budaya sebagai salah satu rangkaian FSB 2015 akan menampilkan berbagai atraksi budaya Banjarnegara. Parade budaya menjadi agenda rutin tahunan sebagai upaya melestarikan budaya asli Banjarnegara.

“Yang paling menarik wisatawan dari FSB pada tahun 2013 lalu adalah parak iwak yang mampu menyedot 150 ribu pengunjung. Parak iwak tahun 2015 diharapkan akan lebih semarak dengan persiapan yang lebih matang ,” tambahnya.

Sedangkan untuk menarik peminat fotografi, panitia juga mengadakan lomba foto nasional dalam rangka festival serayu. Para penggila foto dari berbagai daerah diharapkan hadir dalam event tersebut. “Obyek yang akan menjadi penilaian adalah rangkaian kegiatan yang ada dalam festival serayu Banjarnegara 2015,” kata Tien Sumarwati penanggung jawab event lomba foto nasional Festival Serayu Banjarnegara 2015.

 

Wakil Bupati pada kesempatan tersebut meminta kepada semua panitia untuk mempersiapkan semuanya mengingat pengunjung yang akan  hadir nantinya tidak hanya wisatawan lokal namun datang dari berbagai daerah di Indonesia , terutama dalam kongres sungai Indonesia. “Selain membawa dampak positif dibidang pariwisata, Festival serayu juga akan memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang konservasi , merawat sungai. FSB nantinya juga akan mendongkrak perekonomian Banjarnegara terutama dari event expo,” kata Hadi Supeno. (anhar).

 

 

 

Sundari Fahrudin Terpilih Kembali Menjadi Ketua DWP Periode 2014-2019

Ny. Hj. Sundari Fahrudin Slamet Susiadi akhirnya terpilih kembali menjadi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banjarnegara Periode 2014-2019, dalam acara Musyawarah Kabupaten (Muskab) III DWP Kabupaten Banjarnegara Tahun 2015 di Pendopo Dipayudha Adigraha Kabupaten Banjarnegara, Selasa (17/03). “Selain memilih Ketua Dharma Wanita Persatuan, dalam Muskab III kali ini juga disampaikan evalusasi program kerja dan laporan pertanggungjawaban kepengurusan Dharma Wanita Persatuan Periode 2009-2014, serta penyusunan program kerja periode 2014-2019” kata Ketua Panitia, Ny. Hj. Ratna Wawang Akhmad Wahyudi.

Pemilihan yang dilaksanakan secara voting ini memenangkan Ny. Hj. Sundari Fahrudin dengan jumlah perolehan suara 159, mengalahkan 3 kandidat ketua lainnya, yakni Ny. Hj. Ratna Wawang Akhmad Wahyudi yang memperoleh 37 suara, Ny. Tundjung Titho Agus Wigono dan Ny. Hj. Sri Rejeki Indarto yang masing-masing memperoleh 17 suara.

Penasehat DWP Kabupaten Banjarnegara, Ny. Sri Haryati Sutedjo Slamet Utomo mengatakan Dharma Wanita Persatuan merupakan organisasi kemasyarakatan yang menghimpun dan membina istri Pegawai Negeri Sipil yang  mandiri dan tidak terikat pada partai politik manapun, untuk itu DWP diharapkan mampu menentukan kebijakan organisasi dengan tujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM) dan kesejahteraan anggota serta memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. “Berbagai program harus direncanakan dan dilaksanakan untuk mengembangkan wawasan, meningkatkan keterampilan, meningkatkan kualitas sumber daya yang dimiliki dalam menghadapi tuntutan dan tantangan kehidupan yang terjadi sekarang ini, kita tidak boleh ketinggalan dengan berbagai peran sebagai wanita” katanya.

Sementara itu, Ketua DWP terpilih, Ny. Hj. Sundari Fahrudin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan yang telah diberikan dan berharap kerjasama serta dukungan dari semua pihak khususnya lapisan kepengurusan DWP untuk bersama-sama melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah diamanahkan.

“Untuk program-program Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Banjarnegara periode yang lalu yang sudah baik marilah kita pertahankan dan kita tingkatkan lagi untuk lebih baik lagi, selanjutnya program-program yang akan datang kita rencanakan dan kita laksanakan sebaik-baiknya” katanya.

Ny. Hj. Sundari Fahrudin mengingatkan kepada seluruh Unsur Pelaksana DWP Kabupaten Banjarnegara untuk menyampaikan laporan berkala dan tahunan secara tepat waktu dan ditingkatkan agar lebih baik lagi. ***** (Sudin)

Prihatin Maraknya Pendirian Jaringan Toko Modern Sekda Menghimbau Lembaga Koperasi Utamakan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Drs. H. Fahrudin Slamet Susiadi, MM melantik pengurus dan pengawas Koperasi “Hesti Utami” Setda Kabupaten Banjarnegara, (26/3) di aula Setda. Dilantik sebagai Ketua Koperasi “Hesti Utami” Periode 2015 - 2017 Teguh Handoko, S. Sos, Sekretaris Wiwi Dwi Catur, S. Sos, Bendahara Wiwik Pratiwi, SE, M.Si. Untuk Badan Pengawas diketuai oleh Rahmawati, SIP. Pengukuhan dan pengambilan sumpah itu dihadiri berbagai unsur dari Dekopinda, PKPRI, Dinas Indagkop dan UMKM juga pengurus dan pengawas periode sebelumnya. Dalam pengarahan usai pelantikan, Sekda Fahrudin Slamet Susiadi mengimbau seluruh unsur SKPD agar dapat memobilisasi PNS di lingkungan kerjanya, untuk proaktif membesarkan koperasi di masing-masing unit kerja, seperti Setda harus membesarkan Koperasi Hesti Utami ini. Untuk itu, Sekda memandang pentingnya trust atau kepercayaan antara anggota dan pengurus supaya anggota tidak ragu menyimpan uangnya di koperasi. “Pengurus Koperasi Hesti Utami harus menjalankan azaz transparansi dan akuntabilitas, operasional dilaksanakan oleh managemen yang baik dan fokus melaksanakan usaha untuk membesarkan koperasi,” katanya.

Prihatin “Toko Modern”

Di sisi lain, Sekda prihatin dengan maraknya pendirian jaringan toko modern. Menurutnya, pengertian “toko modern” seringkali salah kaprah. Toko modern bukan hanya toko-toko jaringan besar nasional milik pemodal besar yang dikenal masyarakat luas. Namun, toko milik koperasi, pengusaha kecil lokal yang managejennya baik pun disebut toko modern. Ciri-cirinya antara lain penataan barang yang bagus, tempat yang bersih dengan penerangan yang baik, pembeli yang bisa memilih barang sendiri, dan pelayan toko yang ramah dengan seragam yang sopan. Ciri lain adalah pengemasan yang baik, pembayaran yang computerized, sistem yang sudah on line, beberapa bisa melayani penjualan tiket pesawat dan kereta. “Jadi toko modern bukan hanya dimonopoli oleh dua brand besar yang sudah dikenal masyarakat selama ini,” lanjut Sekda menandaskan.

Lindungi ekonomi rakyat

Untuk itulah, secara khusus Fahrudin meminta Dekopinda, PKPRI dan Lembaga Koperasi untuk gencar mengembangkan sektor riil ekonomi rakyat. Boleh mengembangkan toko modern, tapi yang managemennya dikelola oleh koperasi. “Perbanyak outlet-outlet produk UMKM milik rakyat, karena jati diri koperasi adalah pemberdayaan ekonomi rakyat, jauhi prinsip kapitalisme yang dikuasai paraSementara itu, Ketua Koperasi Hesti Utami, Teguh Handoko, Saat ini terdapat tiga pelaku ekonomi, yaitu pemerintah dalam bentuk BUMN, swasta dan koperasi. Perbedaan swasta dan koperasi, bahwa pelaku ekonomi swasta memusatkan pada pemilikan modal atau saham. Sementara koperasi memusatkan pada orang, yaitu anggota koperasi yang terdiri atas orang-orang dan atau badan hukum koperasi. Setiap anggota koperasi memiliki hak yang sama dan tidak bergantung pada banyaknya saham yang dimiliki. pemodal besar,” pesan Fahrudin. (mujiprast).

 

 

Mensos Bantu Jadup 340 jiwa korban Longsor Banjarnegara Setiap Jiwa Mendapat Rp. 6 Ribu per Hari

 

 

 

Sebanyak 340 jiwa korban selamat bencana longsor Banjarnegara mendapat bantuan hidup dari pemerintah. Batuan diberikan secarasimbolis oleh menteri sosial (mensos) Khofifah Indar  Parawansa, Minggu (22/3) sore di relokasi korban jemblung, Dusun Suren, Desa Aliyan, Kecamatan Karangkobar. Dikatakan Khofifah, bantuan jaminan hidup diberikan selama 90 hari dengan nominal per hari Rp. 6 ribu. “Bantuan diberikan kepada 340 jiwa yang merupakan korban bencana di beberapa wilayah di Banjarnegara,”kata Khofifah. Rinciannya, Desa Karangtengah Kecamatan Wanayasa sebanyak 38 kepala keluarga  (KK) (127 jiwa), Desa Pandansari Kecamatan Wanayasa 25 KK (88 jiwa), Desa Sampang Kecamatan Karangkobar 27 KK(75 jiwa) dan Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu ada 16 KK (50 jiwa). “Data tersebut merupakan hasil usulan dari desa,” jelas Khofifah. Ditambahkannya, warga berhak mendapat jaminan hidup apabila memenuhi sejumlah persyaratan, salah satunya adalah bersedia direlokasi dari tempat bencana atau rawan bencana ke lokasi aman. Sementara korban bencana Jemblung Desa Sampang kecamatan Karangkobar juga mendapatkan bantuan berupa santunan kepada ahli waris yang sudah diberikan melalui rekening masing masing ahli waris sebanyak 118 orang senilai Rp. 5 juta, atau total sebanyak Rp. 590 juta yang di terimakan kepada 51 ahli waris. “Untuk santunan korban meninggal, diberikan melalui rekening santunan kepada ahli waris senilai Rp. 5 juta,” lanjutnya. Pada kesempatan tersebut Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo berharap bantuan bagi korban bencana Banjarnegara tidak berhenti hanya pada wilayah Dukuh Jemblung kecamatan Karangkobar, namun dapat menjangkau ke beberapa wilayah korban bencana di Banjarnegara. “Bantuan nantinya kami salurkan bagi korban bencana di wilayah Banjarnegara yang saat ini masih tinggal di pengungsian dan membutuhkan penanganan segera karena lokasi tempat tinggalnya membahayakan untuk ditempati antara lain di Dukuh Slimpet Desa Tlaga Kecamatan Punggelan dengan jumlah pengungsi sebanyak 148 KK yang terdiri dari 557 Jiwa, Desa Pandansari Kec. Wanayasa sebanyak 38 KK (127 jiwa) serta di Desa Duren Kecamatan Pagedongan sebanyak 23 KK (116 jiwa). Lebih lanjut Sutedjo berharap adanya lokasi program penanganan untuk korban bencana serta beberapa program penanganan permasalahan kesejahteraan sosial lainnya di Banjarnegara dari kementrian sosial RI seperti program rahabilitasi rumah tidak layak huni, program penaggulangan kemiskinan perdesaan dan perkotaan melalui kelompok usaha bersama,penambahan Alokasi sasaran program keluarga harapan, penambahan program jaminan perlindungan sosial melalui asisten jaminan sosial bagi lansia dan penyandang disabilitas berat (orang dengan kecacatan) serta program kampung siaga bencana di beberapa lokasi rawan bencana. (**)

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemkab Serahkan Alat Pertambangan

 

 

 

Pemkab Banjarnegara menyerahkan bantuan berupa mesin pemecah batu dan mesin pembuat batu bata ringan kepada kelompok usaha masyarakat pertambangan. Bantuan di berikan di secara simbolis di halaman dinas PSDA dan ESDM Jum,at (13/3) kemarin. Bantuan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan limbah pertambangan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Selain alat pertambangan pada kesempatan tersebut juga diberikan bantuan sambungan listrik untuk keluarga miskin sebanyak 121 unit yang berasal dari APBD yang tersebar di 12 Kecamatan di Banjarnegara. Sementara melalui APBD Propinsi diserahkan 50 unit sambungan listrik bagi keluarga miskin di Desa Duren, Desa Gentansari Kecamatan Gentansari serta desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa. Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) Banjarnegara, Arifin Romli mengatakan, bantuan mesin pemecah batu senilai Rp 134 juta diberikan kepada ikatan penambang batu alam Desa Giritirta Kecamatan Pejawaran. Sedangkan alat produksi bata ringan senilai Rp 99,5 juta diberikan kepada kelompok perajin bata Sumber Rejeki Desa Petir Kecamatan Purwanegara. “Bantuan ini bersumber dari APBD Banjarnegara 2014,”katanya. Arifin menambahkan, bantuan alat tersebut merupakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan, dengan alat tersebut maka limbah pertambangan golongan C bisa dioptimalkan menjadi produk yang bernilai tinggi. “Di Pejawaran, banyak limbah batu lempeng yang tidak dimanfaatkan. Mesin pemecah batu ini bisa mengolahnya menjadi batu split,” jelasnya. Sedangkan alat produksi batu bata ringan, lanjutnya, diharapkan dapat mengoptimalkan limbah tambang feldspar. Alat tersebut mampu memproduksi sekitar 0,8 meter kubik untuk sekali gelar. Dengan pemanfaatan teknologi ini diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar lokasi pertambangan. “Bahan bakunya dari limbah feldspar ditambah dengan material lain,” terangnya. Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, potensi pertambangan di Banjarnegara yang sudah dieksploitasi antara lain feldspar, talkum, batu lempeng, pasir dan batu kali. Selama ini, hasil tambang masih dikirim ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah. “Karena itu, pemkab berusaha agar ke depan bahan tambang tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tapi dalam bahan setengah jadi atau bahan jadi industri,” paparnya. Karena itu, Bupati berharap, bantuan mesin pemecah batu dan alat produksi bata ringan tersebut dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk mendapatkan nilai tambah dari pertambangan yang ada di Banjarnegara. “Manfaatkan bantuan ini sebaik-baiknya, jangan lupa untuk dirawat sehingga bisa menjadi penopang penghasilan untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya. (**anhar).

 

 

 

Ratusan Botol Miras Berbagai Merk Disita Satpol PP

Hasil penilaian Evaluasi Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2014 oleh Pemerintah Propinsi, Pemkab Banjarnegara masuk menjadi satu dari enam Kabupaten di Jawa Tengah yang dinilai memiliki kinerja terbaik selama tahun 2013. Pemkab Banjarnegara meraih skore 56. Posisi ini lebih baik 10 digit dari tahun sebelumnya dengan skore 46. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Drs. Fahrudin Slamet Susiadi, MM, kemarin, saat membuka Forum Komunikasi Pendayagunaan Aparatur Negara Daerah (Forkompanda) di Sasana Abdi Karya lantai 3 Setda. “Skore 46 itu sama dengan nilai C. Kini dengan skore 56 skore menjadi CC. Pada posisi ini, Pemkab Banjarnegara berada di posisi enam besar bersama Pemkot Kota Semarang, Pemkot Solo, Pemkab Sragen, Pemkab Purbalingga, dan Pemkab Banyumas” katanya.Prestasi yang meningkat ini, lanjutnya, hendaklah ditingkatkan untuk tahun berikutnya. Kunci dari itu, lanjutnya, adalah pencapaian kinerja harus lebih baik lagi. Maka, lanjutnya, menjadi kebutuhan penting kegiatan Forkompinda ini. Sebab penyelenggaraan Forkompinda, lanjutnya, merupakan bagian tidak terpisahkan dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemkab untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional. “Birokrasi professional diharapkan mempunyai karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, berdedikasi, dan memegang teguh nilai kode etik aparatur negara sesuai grand design reformasi birokrasi 2010-2025” katanya. Menurut Grand Design Reformasi birokrasi, lanjutnya, area perubahan dalam aspek manajemen adalah meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. Sedangkan inti dari akuntabilitas kinerja, lanjutnya, adalah kinerja yang direncanakan, kinerja yang diperjanjikan, kinerja yang dilaksanakan, kinerja yang dilaporkan, dan kinerja yang dievaluasi. “Harapannya, pembekalan ini dapat diserap dengan baik oleh para peserta sehingga pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Pemkab Banjarnegara sesuai dengan kapasitas masing-masing pegawai menuju terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik” katanya. Ketua Penyelenggara Forkompinda Assisten Bidang Administrasi Dra. Sri Trisnainingsih, M. Si., mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai wadah untuk konsolidasi dan komunikasi Pemkab dalam mewujudkan sistem akuntabilitas kinerja pemerintah. Peserta kegiatan, lanjutnya, berjumlah 71 orang. Mereka, lanjutnya, terdiri dari Sekda, Staf Ahli, Asisten, Kepala SKPD Kabupaten dan Kecamatan. “Untuk mencapai kualitas pembekalan yang baik, panitia mendatangkan langsung narasumber pejabat Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Harapannya, materi yang disampaikan mendalam dan apabila ada permasalahan di lapangan bisa langsung ditanyakan ke sumbernya” katanya. (**—eko br)

 

Ratusan Botol Miras Berbagai Merk Disita Satpol PP

Hasil penilaian Evaluasi Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2014 oleh Pemerintah Propinsi, Pemkab Banjarnegara masuk menjadi satu dari enam Kabupaten di Jawa Tengah yang dinilai memiliki kinerja terbaik selama tahun 2013. Pemkab Banjarnegara meraih skore 56. Posisi ini lebih baik 10 digit dari tahun sebelumnya dengan skore 46. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Drs. Fahrudin Slamet Susiadi, MM, kemarin, saat membuka Forum Komunikasi Pendayagunaan Aparatur Negara Daerah (Forkompanda) di Sasana Abdi Karya lantai 3 Setda. “Skore 46 itu sama dengan nilai C. Kini dengan skore 56 skore menjadi CC. Pada posisi ini, Pemkab Banjarnegara berada di posisi enam besar bersama Pemkot Kota Semarang, Pemkot Solo, Pemkab Sragen, Pemkab Purbalingga, dan Pemkab Banyumas” katanya.Prestasi yang meningkat ini, lanjutnya, hendaklah ditingkatkan untuk tahun berikutnya. Kunci dari itu, lanjutnya, adalah pencapaian kinerja harus lebih baik lagi. Maka, lanjutnya, menjadi kebutuhan penting kegiatan Forkompinda ini. Sebab penyelenggaraan Forkompinda, lanjutnya, merupakan bagian tidak terpisahkan dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemkab untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional. “Birokrasi professional diharapkan mempunyai karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, berdedikasi, dan memegang teguh nilai kode etik aparatur negara sesuai grand design reformasi birokrasi 2010-2025” katanya. Menurut Grand Design Reformasi birokrasi, lanjutnya, area perubahan dalam aspek manajemen adalah meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. Sedangkan inti dari akuntabilitas kinerja, lanjutnya, adalah kinerja yang direncanakan, kinerja yang diperjanjikan, kinerja yang dilaksanakan, kinerja yang dilaporkan, dan kinerja yang dievaluasi. “Harapannya, pembekalan ini dapat diserap dengan baik oleh para peserta sehingga pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Pemkab Banjarnegara sesuai dengan kapasitas masing-masing pegawai menuju terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik” katanya. Ketua Penyelenggara Forkompinda Assisten Bidang Administrasi Dra. Sri Trisnainingsih, M. Si., mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai wadah untuk konsolidasi dan komunikasi Pemkab dalam mewujudkan sistem akuntabilitas kinerja pemerintah. Peserta kegiatan, lanjutnya, berjumlah 71 orang. Mereka, lanjutnya, terdiri dari Sekda, Staf Ahli, Asisten, Kepala SKPD Kabupaten dan Kecamatan. “Untuk mencapai kualitas pembekalan yang baik, panitia mendatangkan langsung narasumber pejabat Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Harapannya, materi yang disampaikan mendalam dan apabila ada permasalahan di lapangan bisa langsung ditanyakan ke sumbernya” katanya. (**—eko br)

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan