Tue10192021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Laporan Khusus

laporan khusus

Merajut Kabupaten Konservasi,Festival Serayu dan KSI

 

 

 

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, SH., M. Hum., pada tahun 2011 mencanangkan Banjarnegara sebagai Kabupaten Konservasi. Berkait dengan kebijakannya ini, Bupati juga mengeluarkan kebijakan daerah yang menyasar masyarakat umum jika menebang satu pohon maka diwajibkan untuk mengganti sepuluh pohon. 

Siswa selaku generasi penerus estafet kehidupan pun tak luput dari jejaring pelestarian lingkungan. Khusus kepada siswa sekolah, terutama siswa baru, Bupati mengeluarkan kebijakan daerah kepada setiap sekolah agar semua siswa baru membawa satu bibit pohon untuk ditanam di sekolah atau di wilayah konservasi. Kebijakan Bupati yang sifatnya edukatif ini diharapkan menjadi penegas bagi generasi muda akan pentingnya upaya-upaya untuk melestarikan alam sekitarnya.

Keterkaitan dengan peran generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan ini menjadi urgen sebab mereka adalah generasi penerus yang akan menghuni bumi ini untuk masa selanjutnya. Lebih-lebih berkait letak geografis dan klimatologis Kabupaten Banjarnegara ini dimana separuh lebih wilayahnya merupakan wilayah rawan bencana longsor. Mau tidak mau, kesadaran akan lingkungan menjadi hal pokok kalau kita ingin hidup damai dengan alam. 

Bukti pentingnya kesadaran tersebut bisa dirujuk dari sejumlah kejadian besar tanah longsor di tahun 2006 dan tahun 2014. Kejadian besar pertama yang menguncang dahsyat kesadaran kita akan pentingnya kelestarian lingkungan terjadi pada tahun 2006 di dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Banjarmangu. Akibat peristiwa ini, 78 jiwa meninggal serta sejumlah jenasah belum ditemukan. Dan yang paling aktual, kejadian tanah longsor di dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar yang merengut 100 korban jiwa, dan sejumlah jenazah belum ditemukan hingga saat ini. 

Anjuran untuk menanam pohon Aren di tanah-tahan kritis pun bukan barang baru, dua tahun sebelumnya Bupati telah memompakan semangat ini pada masyarakat Banjarnegara. Pemkab bersifat pun persuasif, selain pohon aren, disediakan juga jenis pohon lain seperi damar, pinus, puspa, dan jenis bibit pohon buah-buahan seperti durian, rambutan, sirsak. Pohon buah-buahan, kata Bupati, selain manfaat untuk konservasi juga ada nilai ekonominya. 

 “Semua bibit pohon diberikan gratis. Silahkan masyarakat yang berminat mengajukan surat pada kantor Dinhutbun” begitu Bupati senantiasa memotivasi.  

Belakangan Bupati juga menggalakan penanaman pohon Kaliandra. Karena kata Bupati, dari sejumlah bencana dan tanah rawan yang diamatinya, tanah yang ada pohon Kaliandra senatiasa selamat dari terpaan longsor. 

“Pohon Kaliandra ini manfaatnya besar. Selain sebagai pohon konservasi untuk memperkuat struktur tanah, ponon Kalindra ini pun menyuburkan tanah dan daunnya sangat baik untuk pakan ternak” katanya.

Kebijakan Bupati menjadikan Kabupaten Banjarnegara sebagai kabupaten konservasi ini sejalan dengan program terusan one man one tree yaitu program 1 milyard pohon oleh Pemerintah Pusat. Dilaporkan oleh Dinhutbun, sampai akhir tahun 2014 tertanam hampir 10 juta pohon di wilayah Kabupaten Banjarnegara. 

Festival Serayu Banjarnegara

Sebagai wujud dari menjabarkan kebijakan Bupati menetapkan Banjarnegara sebagai Kabupaten Konservasi, Wakil Bupati dan staf melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya di lapangan. Maka terwujudlah adi karya kreasi yang mentautkan berbagai program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam sebuah event konservasi sekaligus pariwisata yaitu Festival Serayu Banjarnegara. 

“Perda DAS Serayu, Festival Serayu Banjarnegara 2013 dan Festival Serayu Banjarnegara 2015 dengan menu barunya Kongres Sungai Indonesia adalah wujud dari break down kebijakan Bupati menetapkan Banjarnegara sebagai Kabupaten Konservasi” katanya.  

Hanya saja penerapannya di lapangan, imbuh Wabup, dibungkus dengan seni budaya. Oleh karena itulah tema besar Festival Serayu Banjarnegara adalah merawat sungai, merawat peradaban.  Sedangkan berbagai kegiatan yang ada dalam festival serayu, lanjutnya, sebenarnya merupakan kegiatan rutin yang ada di SKPD namun dikumpulkan dalam satu kegiatan besar yang dibungkus dalam judul besar Festival Serayu Banjarnegara.

“Kegiatan pameran UMKM, pameran ternak, penebaran bibit ikan di kali, penanaman pohon, parade budaya, dan pentas seni merupakan kegiatan rutin yang telah ada di masing-masing SKPD. Jadi tanpa adanya Festival Serayu sekalipun kegiatan tersebut tetap jalan dan dilakukan oleh masing-masing SKPD. Hanya Parak Iwak yang merupakan kegiatan baru” katanya. 

Mengapa ajakan konservasi harus dibungkus dengan seni budaya, tanya Wabup retoris, sebab dengan bungkus seni dan budaya ajakan untuk merawat bumi menjadi indah. Selain itu, lanjutnya, alasan lain adalah untuk mendukung pengembangan pariwisata Banjarnegara. Sebab promosi pariwisata itu membutuhkan event.  Tanpa event, katanya, pengembangan pariwisata adalah nol besar. 

“Banjarnegara kaya akan potensi pariwisata. Dari Dieng hingga Susukan. Obyeknya banyak. Dari Candi, kawah, pemandangan alam, arung jeram, seni, budaya, batik Gumelem, keramik, tari-tarian, desa kuno, kuliner, adat istiadat, dan obyek wisata buatan seperti TRMS Seruling Mas, Surya Yudha Park, Serayu Park, dan yang terbaru D’qiano Hot Spring Water. Namun tanpa event, keberadaan mereka kurang terkenal di dunia wisata” katanya. 

Pentingnya Promosi Bagi Suatu Daerah

Pada suatu kesempatan Bupati pernah bercerita pengalamannya saat menunaikan ibadah Haji. Waktu itu kopernya terselip. Meski jelas tertulis Banjarnegara, namun koper tersebut dikirim oleh petugas Haji ke kota Banjar Kalimantan. 

“Jan jengkelna temenan. Lha jelas-jelas tertulis Banjarnegara ka dikirim maring Banjarmasin. Nelangsa rasane….”katanya.

Rupanya, cerita Bupati, kalau nama Banjarnegara tidak banyak orang kenal. Sehingga begitu tahu ada nama Banjarnegara yang dikenal orang Banjarmasin atau Banjar, Jawa Barat. Bahkan dalam beberapa kesempatan kegiatan di Jakarta, lanjutnya, orang masih saja belum begitu nggeh kalau ada Banjarnegara di Jawa Tengah.

Belum lama berselang saat bepergian ke Jakarta bersama kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), imbuh Wabup, kebetulan memperoleh nomor kursi Kereta Api bertolak belakang dengan pak Catur Kepala BPBD. Sehingga cukup dekat untuk dapat mendengar pembicaraan penumpang yang duduk di kursi belakang. Setelah kereta berjalan, teman seperjalanan Pak Catur yang sama-sama naik dari Stasiun Purwokerto ini menanyakan identitasnya. Herannya meski sama-sama naik dari Purwokerto saat disebut asalnya dari Banjarnegara orang ini memahami Banjarnegara sebagai Banjar, Jawa Barat. Duh….

“Hal ini menjadi salah satu alasan, mengapa penting untuk melakukan promosi daerah secara gencar. Sebab popularitas daerah berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memberi jalan bagi pelaku usaha untuk memasarkan berbagai potensi daerah secara lebih baik” katanya.

Menyadari pentingnya promosi bagi daerahnya, beberapa daerah melakukannya dengan sangat progresif dengan melakukan branding kotanya. Seperti Ibu Kota Indonesia Jakarta dengan tagline enjoy Jakarta. Promosi seperti ini tidak hanya dilakukan oleh suatu kota, bahkan negara seperti Malasya dengan Never Ending Asia. 

Menurut DR. Eko Suseno, Pakar Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana UKSW, di era sekarang ini, kesadaran suatu daerah untuk menguatkan citra daerahnya makin kuat sebab mereka sadar jika kuatnya citra daerah akan berdampak kuat bagi perekonomian. Karena itu, lanjutnya, sejumlah pemerintah daerah tidak segan mengeluarkan cukup banyak anggaran hanya untuk menentukan brand image daerahnya.

“Yogyakarta menghabiskan dana hingga milyaran rupiah hanya untuk menentukan tagline daerah “Yogyakarta Istimewa”. Di wilayah Jawa Tengah yang dinilai paling berhasil membranding kotanya yaitu Pekalongan dengan tagline The world city of Batik” katanya.

 

Pentingnya Event Promosi Pariwisata

Event sangat dibutuhkan untuk mendukung keberadaan pariwisata. Tanpa event, pariwisata sulit berkembang dan selamanya akan stagnant. Karena itulah, perencanaan, penjadualan, dan rutinitas event penting bila kita serius ingin mengembangkan pariwisata. Selain event itu sendiri, kebaruan event juga sangat penting untuk meningkatkan daya tarik. Tanpa adanya kebaruan, pariwisata bisa ditinggalkan oleh pengunjung sebab daya tariknya sudah hilang. 

“Inilah alasan kita mengapa dalam setiap event, panitia berupaya menampilkan hal-hal kebaruan. Pada event FSB 2015 ini hal yang baru ditampilkan adalah Banjarnegara Banjir Dawet, Parade Budaya pada malam hari, dan menu baru yang jangkauannya nasional yaitu Kongres Sungai Indonesia. Dari kreativitas menu ini diharapkan akan mengundang semakin banyak lagi pengunjung ke Banjarnegara” katanya. 

Pendapat Wabup ini dikuatkan Wartawan senior Suara Merdeka, M. Syarif, SW, dalam diskusi Sabtu malam (11/05) di halaman Sekretariat Kongres Sungai Indonesia (KSI). Dieng Culture Festival (DCF) yang sudah sedemikian kondang dan menglobal sekalipun, bila tanpa dilakukan kebaruan ide akan terasa basi. Icon cukur rambut gembel yang dijadikan unggulan untuk menarik wisatawan tanpa ada upaya merekayasa kebaruan akan sama saja dari tahun ke tahun.

“Namanya cukur rambut gimbal ya seperti itu-itu saja. Kalau ajeg saja, saya khawatir lama-lama tidak menarik. Sebaiknya panitia melakukan upaya kebaruan misalnya dengan adanya permintaan yang aneh dari biasanya. Ada anak atau orang yang setelah sekian lama menolak cukur mau mencukur rambutnya karena permintaannya sebuah mobil dipenuhi oleh panitia. Atau cara-cara kebauran lain. Intinya dari sebuah event adalah panitia harus pintar-pintar mengelola menu event” katanya. 

Manager The Pikas, Ahmad Fajar mengatakan bahwa promosi sangat penting untuk mendukung kemajuan usahanya. Hal ini dibuktikan sendiri olehnya dalam mengelola usaha arung jeram. Sebab dirinya mengelola usaha dimana orang dan masyarakat sekitarnya belum paham akan besarnya potensi Sungai Serayu. Hampir-hampir saat itu tidak pihak yang mau melirik atau membantu usahanya, baik dari kalangan pemerintahan maupun perbankan. Pada awal memulai usahanya, lanjutnya, dua tahun dirinya mengalami kerugian. 

“Selama dua tahun itu kegiatan kami hanya promosi-promosi saja. Aktivitas usaha isinya hanya merugi. Puluhan juta uang usaha kami ludes untuk masa-masa awal tersebut. Namun keyakinan kami terbayar setelah dua tahun tersebut, usaha kami mulai ada pemasukan. Masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya mulai mengenal arung jeram” katanya.

Baginya besarnya jumlah anggaran untuk promosi bukan merupakan hal tabu. Sebab masing-masing berbanding dengan besarnya jangkauan yang diinginkannya. Promosi memang membutuhkan biaya yang besar, bahkan kadang sangat besar. Namun seperti pameo dalam bisnis, kalau kita ingin hasilnya besar, maka investasinya harus besar pula. Maka jangan berharap, jika upaya promosi kita kecil, kita berharap hasilnya besar. Sebab promosi ini merupakan bagian dari konsekuensi.

“Pada saat parak iwak yang banyak menggunakan area lahan wisata Pikas membuat selama empat hari usaha kami terhenti. Taman dan lapangan juga ikut rusak. Bila dihitung secara nominal, kami rugi cukup besar karena tidak menerima tamu selama masa itu dan karena kerusakan yang ada” katanya.

Tapi dampak setelah kegiatan ini, lanjutnya, sangat kami rasakan. Sebab jangkauan promosi usaha menjadi lebih mudah dan lebih jauh. Hampir semua biro wisata yang kami tuju telah sangat familiar dengan Banjarnegara. 

“Biasanya kesan mereka adalah O…Banjarnegara yang kemarin ngadain Festival Serayu ya….” Katanya.

Dampak bagi peningkatan pendapatan, sambungnya, juga nyata. “Tiap bulan kini kami menerima tamu rata-rata 1000 orang. Jauh lebih baik dari masa-masa sebelum dislenggarakannya Festival Serayu” katanya. 

 

Mendulang Rupiah dari Ceruk Pariwisata

“Pariwisata adalah industri tanpa cerobong asap”, demikian sering Wabup lontarkan di berbagai kesempatan saat mempromosikan pariwisata. Sebab industri pariwisata, kata Wabup, melibatkan banyak pihak yang dikenal sebagai multiplayer efect. Sebuah icon pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Pariwisata membutuhkan akomodasi hotel, losmen, homestay, transportasi, restoran, rumah makan, pengrajin dan penjual cindera mata, pengrajin dan pembuat oleh-oleh kuliner khas, jasa guide, kemudahan perbankan, hingga ke jasa informal seperti tukang ojek dan tukang parkir. 

“Istimewanya industri pariwisata adalah di saat krisis, bisnis ini tetap jalan. Dan menurut prediksi para ahli ekonomi inilah bisnis masa depan” katanya.

Hal ini disetujui oleh Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Fauzi. Dirinya, mengatakan bahwa kegiatan DCF V tahun 2014 lalu merupakan kegiatan mereka yang paling sukses. Kegiatan ini dihadiri tidak kurang dari 50 ribu pengunjung pada dua hari pelaksanaannya. Diakui olehnya, kehadiran pengunjung yang mencapai ribuan membawa dampak luar biasa bagi perekonomian desa Wisata Dieng. 

“Dari tiket VIP yang dipasarkan secara online seharga Rp 250 ribu terjual hampir 2500 tiket. Belum lagi dari sisi akomodasi dimana semua homestay di desa wisata dieng kulon, dieng wetan, kepakisan, dan Karangtengah penuh semua. Belum lagi dari penjualan restoran, rumah makan, penjual bakso, makanan kecil, cindera mata, oleh-oleh khas Dieng, dan sebagainya. Kami perkirakan perputaran uang mencapai milyaran rupiah” katanya. 

Bila pengelolaan sektor pariwisata profesional, kata Wabup, maka sektor ini bisa diandalkan untuk menyumbang PAD. Sebagi contoh daerah lain yang sudah sangat profesional mengelola industri pariwisata adalah Kabupaten Badung, Propinsi Bali. Kabupaten Badung yang merupakan kabupaten terkaya di Bali memilki Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2011 sebesar  Rp 1,1 Trilyun dimana 76,19%  atau Rp 849 Milyard bersumber dari sektor Pariwisata. Jumlah ini diperoleh sebagian besarnya dari pajak Hotel dan restoran. 

Kelemahan paling besar dari upaya pengembangan pariwisata di Banjarnegara adalah Long of stay. Lama masa tinggal. Saat ini yang paling tinggi di Indonesia baru Bali dengan rata-rata lama tinggal 2,5 hari, Yogyakarta 1,5 hari, dan Jawa Tengah 0,5 hari. Lalu berapa long of stay untuk Banjarnegara. Untuk masalah ini kadang kita kalah dengan Wonosobo yang tidak memiliki obyek namun mempunyai banyak hotel. Biro perjalanan juga ramai dan aktif di Wonosobo. Namun kalau jalan Pekalongan – Batang sudah jadi, pasti akan merubah peta pariwisata Dieng. 

 “Wisatawan yang datang ke Banjarnegara cukup banyak. Untuk Dieng saja tercatat lokal dan mancara negara hampir mencapai angka 400 ribu pengunjung. Namun tidak banyak dari mereka yang menginap di Banjarnegara. Padahal kalau menginap peluang untuk memperoleh keuntungan dari sisi lain sangat besar seperti dari pajak restoran, pajak hotel, dan pemenuhan kebutuhan lainnya” katanya. 

Selain masalah di atas, masalah pengembangan pariwisata di Banjarnegara adalah ketersediaan akomodasi yang layak, juga menjadi masalah kita selain keberadaan pusat kuliner dan oleh-oleh khas Banjarnegara. 

“Rencana pembangunan hotel bintang 3 di Dieng sebenarnya sangat prospek. Ini mengartikan akomodasi siap. Tinggal bagaimana perbaikan infrastruktur pariwisata yang belum juga memadai. Ke depannya saat semua telah siap, infrastruktur harus bagus dan layak untuk sebuah icon pariwisata dunia” katanya. 

Kongres Sungai Indonesia

Kongres Sungai Indonesia adalah menu baru di Festival Serayu Banjarnegara 2015. Tema Sungai diangkat berdasar filosofi sederhana, dulu sungai menjadi pusat peradaban manusia, namun kini kondisinya beda. Sungai yang agung dan dihormati karena menjadi halaman depan kita, kini berubah menjadi halaman belakang sehingga menjadi tempat pembuangan sampah. Sungai yang indah kini hanya ada di kenangan. Ilustrasi ini digambarkan dengan kalimat ironi oleh Gubernur Ganjar Pranowo: Sungai sekarang ini berada diantara Singing dan Ngising.

Padahal peran sungai bagi kehidupan hingga kini masih tinggi sebab sungai hakekatnya adalah sumber air. Sungai juga adalah nadi yang mengalirkan “darah bumi” segala penjuru. Sungailah sesungguhnya tali temali daratan dengan lautan. Bila sungai kotor, penuh lumpur, dan mendatangkan banjir berarti ada yang tidak beres dengan cara hidup manusianya. Salah satu sebabnya adalah cara pandang manusia yang telah berubah terhadap sungai. Karena itu perlu dilakukan upaya rethinking dari pola pikir manusianya. Agar cara kita memperlakukan sungai juga berubah.

Sungai adalah poros tautan kehidupan. Listrik sumbernya dari pengelolaan air sungai, ikan diambil dari sungai, sawah dialiri dari sungai, pariwisata ada di sungai, pertanian mengambil air dari sungai, dan bahkan air minum kita diambil dari sungai. Maka dipilihlah tema KSI adalah Sungai sebagai pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan bersama.

Untuk memenuhi hajatan tersebut, panitia merencanakan akan mengundang 1000 orang peserta dari manca daerah se nusantara yang mempunyai sungai. Mereka akan datang ke Banjarnegara dan memenuhi hotel dan home stay dari tanggal 26 hingga 29 Agustus 2015. Dan tentunya tidak datang lenggang kangkung. Masing-masing peserta diminta membawa bibit bambu untuk ditanam di laboratorium bambu yang dikenal dengan nama arboretrum seluas 10 ha di kawasan Waduk Mrica. 

Mengawali niatan ini, pada tanggal 21 April 2015 dilakukan aksi hijau menanam bibit bambu di cikal bakal arboretrum. Dan esok harinya 22 April , ditanam pohon aren dan berbagai bibit pohon konservasi di 70 desa. Jumlah 70 ini untuk mengingatkan kita bahwa di tahun 2015 ini, bangsa dan negara Indonesia merayakan HUT kemerdekaan RI untuk yang ke 70 kalinya.

Di KSI ini pada pokoknya mereka diajak rembug bareng perihal sungai, permasalahannya, bagaimana masa depannya, dan apa tindakan kita selanjutnya. Daerah yang punya masalah sungai dengan perusahaan kayu diminta ngomong. Yang punya masalah dengan pertambangan diminta ngomong. Yang punya masalah dengan pengusaha industri garment diminta ngomong. Yang punya masalah dengan pabrik tapioka maupun penggergajian kayu juga diminta ngomong.

Tidak hanya masalah di lapangan, di bidang regulasi juga diangkat. Sebab sekarang ini tengah ada kekosongan regulasi tentang Sumber Daya Air. UU No. 07 tahun 2014 tentang Sumber Daya Air dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Di KSI akan dibedah masalah ini dan diupayakan ada rekomendasi dari Kongres terhadap masa depan regulasi Air.

Di sisi lain, daerah yang berhasil menata sungai dengan bagus seperti Yogyakarta dengan Kali code juga diminta menularkan kerberhasilannya. Bali dengan Subaknya. Dan tidak lupa, Banjarnegara dengan konservasinya. 

Selain kegiatan formal di ruangan, ada kegiatan ekspresi seni di luar ruangan. Bagi pecinta seni budaya, media ekspresi Sungai menjadi pesta seni budaya yang sangat langka terjadi di Banjarnegara. Bisa jadi hanya akan ada sekali seumur kota Banjarnegara.

Di sini akan hadir perwakilan seni dari para pemangku sungai dari Seluruh Indonesia. Maka jangan heran, bila semua sesuai rencana di Banjarnegara kita bisa menyaksikan tarian dari suku Dayak ataupun dari tarian khas dari suku-suku di Papua. Hadir pula komunitas seni Lima Gunung yang sudah sangat kondang. (**eko_BR)

 

 

 

 

Menteri PU Kembali Kunjungi Lokasi Bencana

DERAPUBLIKA

Menteri PU Kembali Kunjungi Lokasi Bencana

Menteri Pekerjaan DR. Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M. Sc, bergerak cepat. Minggu (21/12) dirinya kembali kunjungi lokasi longsor di dukuh Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar. Ini merupakan kunjungannya yang kedua setelah pada hari Minggu sebelumnya hadir bersama rombongan Presiden Jokowi. Kunjungannya kali ini langsung memfokuskan pada penanangan relokasi korban bencana. Hadi menegaskan pada Pemkab untuk segera menentukan lokasi relokasi bagi korban bencana agar pekerjaan pembangunannya segera dimulai.
Rombongan Menteri PU tiba di lokasi bencana dari arah dusun Krakal menuju desa Sampang. Dengan bejalan kaki, Hadi bersama rombongan langsung mengecek kondisi jalan di Banjarnegara – Karangkobar yang berada di atas dusun Jemblung tersebut.
Jalan ini semula tertimbun lumpur, namun sejak Senin (15/12) jalan sudah dapat ditembus oleh Tim Satkorlak Bencana. Keberhasilan menembus jalan ini, dua hari lebih cepat dari target Menteri PU kepada Presiden Jokowi yang menjanjikan waktu 5 hari untuk menembus jalan.
Rombongan Menteri disambut oleh Bupati, Wakil Bupati, Dandim 0704 selaku Incindent Commander, Ketua DPRD, dan Kepala DPU di tingkungan Ngaliyan yang berada di sisi tanah calon relokasi warga. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Menteri beserta sfat untuk Rapat di lapangan menyangkut relokasi warga.
“Kalau Pemkab siap sekarang juga tanah untuk relokasinya, saat ini juga tim kita bisa segera memulai pekerjaannya membangun perumahan untuk sarana relokasi bagi warga yang terkena korban bencana. Sebab Tim pembangunan perumahan dari kementrian PU sudah ada di lokasi.” katanya.
Menurutnya, tidak baik pengungsi terlalu lama di lokasi pengungsian, tidur berdesakan, apalagi untuk anak-anak. Warga yang mengungsi itu, lanjutnya, membutuhkan kebutuhan lain selain makan, tidur, dan tempat untuk berlindung. Selain itu, lanjutnya, mereka juga membutuhkan aktivitas kesehariannya agar kembali ke kehidupan normalnya. Karena itu, lanjutnya, Hadi meminta Pemkab untuk segera memutuskan dimana lokasi relokasinya. Dirinya berharap agar keputusanya tidak terlalu lama.
“Saya kasih waktu satu minggu keputusan itu sudah ada” katanya.
Bupati Sutedjo Slamet Utomo, SH., M. Hum., menyambut balik tantangan Menteri PU dengan meminta ketegasannya jajaranya untuk segera menyelesaikan urusan tersebut secepatnya.
“Segera tentukan tanah untuk relokasi dari alternatif yang ada. Klarifikasi apakah tanah tersebut aman sebagai tempat tinggal, dan bila ada pemiliknya pastikan juga apakah bisa dilepas untuk kepentingan relokasi. Usahakan jangan terlalu lama. Sebelum satu minggu saya minta sudah ada keputusannya” katanya.
Saat ini, lanjutnya, calon tanah untuk relokasi yang diketahui aman ada di desa Karanggondang. Selain aman karena sudah direkomendasi oleh ahli Geologi, lanjutnya, luasan tanah tersebut memenuhi syarat untuk tempat tinggal seluruh warga yang akan direlokasi. Selain ketersediaan jaringan listrik dan air, lanjutnya, akses jalan ke tempat tersebut juga lancar dan berada pada simpangan jalan yang strategis.
“Untuk mempermudah akses ke depan jalan tersebut akan diaspal. Namun karena ada permintaan untuk mencari alternatif lain dipersilahkan. Asal jangan terlalu lama, sehingga warga korban bencana segera menata hidupnya kembali” katanya.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menambahkan jumlah rumah di dukuh Jemblung yang diketahui hancur karena Bencana ada 22 rumah. Sementara 35 rumah lain, lanjutnya, terkena dampak langsung bencana.
“Jumlah ini masih ditambah dengan 8 rumah yang terancam bencana. Sehingga total kebutuhan rumah relokasi untuk dusun Jemblung ini dan rumah terdampak ada 65 rumah” katanya.
Selain ingin kepastian tanah untuk relokasi, lanjutnya, Menteri juga mengunjungi sejumlah ruas jalan yang amblas karena dampak bencana di sebelah barat POM Bensin Karangkobar, di Desa Leksana Wanayasa, Tanah calon relokasi Warga Pencil, Wanayasa, jalan longsor di Kalitlaga, jalan longsor di atas Bendungan Kali Tulis Pagentan, PLTA Tulis, dan Jalan di desa Clapar, Kecamatan Madukara yang longsor separo.
“Menteri PU berjanji akan segera melakukan perbaikan di semua infrastruktur yang rusak tersebut dan membangun rumah relokasi warga bencana” katanya.
(**—eko br)

Apel Besar Menandai Dihentikannya Proses Evakuasi Korban

Apel Besar Menandai Dihentikannya
Proses Evakuasi Korban
  95 Orang Tewas, 13 Orang Hilang

Minggu siang (21/12) penanganan evakuasi korban bencana longsor di dukuh Jemblung, desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, secara resmi dinyatakan berakhir. Momentum ini ditandai dengan apel besar pasukan Basarnas, BNPB, TNI, Polri, Relawan dan masyarakat di pertigaan dukuh Ngaliyan, Desa Sampang, 100 m dari lokasi bencana. Demikian penjelasan resmi Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., usai Rapat Koordinasi, Sabtu malam (20/12) di Posko Induk Penanganan Bencana Longsor, Dukuh Jemblung, Karangkobar di Gedung GOR PGRI.
“Apel akan dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB dan diikuti semua komponen penanangan bencana beserta masyarakat. Usai kegiatan apel yang dipimpin Bupati, kegiatan dilanjutkan dengan pamitan antara Relawan dengan masyarakat” katanya.
Untuk selanjutnya, sambungnya, kegiatan penanangan bencana dilanjutkan pada kegiatan Tanggap Bencana tahap dua yang akan berlaku mulai tanggal 22 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015 mendatang. Pada fase ini, lanjutnya, kita tengah prioritaskan pada penananganan pengungsi untuk secepatnya masuk pada huntara di rumah-rumah penduduk.
“Pengungsi secepatnya akan kami tempatkan di hunian sementara di rumah-rumah yang kita sewa dari penduduk. Sebab terlalu lama tinggal di pengungsian sangat tidak bagus bagi mereka. Sebab kebutuhan manusia tidak hanya tidur dan makan, ada kebutuhan-kebutuhan lain yang juga membutuhkan perhatian. Bila telah fiks pendataannya, Selasa semua pengungsi sudah bisa masuk ke huntara” katanya.
Istilah huntara, lanjutnya, mengacu pada hunian sementara. Artinya, lanjutnya, hunian yang sifatnya sementara. Di pemikiran kami, lanjutnya, terjemahan ini mengacu pada subyek yang mengartikan orang yang menetap sementara. Bukan obyek yang berarti rumah sementara untuk dihuni dalam bentuk bedeng-bedeng atau dalam tenda-tenda.
“Di musim penghujan, pemukiman bedeng-bedeng akan sangat berlumpur, becek, dan kumuh. Apalagi di wilayah ketinggian yang suhunya sangat dingin, bentuk hunian sementara seperti itu sangat tidak manusiawi. Karena itu kami mengambil inisiatif untuk menempatkan warga dukuh Jemblung di rumah-rumah sewaan yang ada di desa Ambal dan Karanggondang yang merupakan tetangga desa” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Catur Subandriyo, S. Sos., menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyiapkan landasan SK Bupati pemindahan pengungsi ke huntara yang isinya by name by addres. Sebab meskipun bagian dari prosedur penanganan bencana, lanjutnya, namun harus ada dasar hukumnya yang jelas. “Karena itu, BPBD sangat penting untuk meroleh kepastian asesmen pengungsi. SK juga dipersiapkan untuk 23 KK dari dusun pencil desa Karangtengah” katanya.
Komandan Satgas Penanganan Bencana Longsor Dukuh Jemblung, Dandim 0704 Letkol Inf. Edi Rochmatullah menambahkan kegiatan apel akan dilaksanakan secara sederhana. Kegiatan utama, lanjutnya, akan diawali dari sambutan masyarakat, dilanjut laporan dari Danrem, ditutup sambutan dari Bupati Banjarnegara.
“Apel dilaksanakan dalam suasana tidak formal. Masing-masing peserta hadir dengan seragam kerjanya karena hari Minggu ini merupakan hari terakhir evakuasi. Setelah itu diakhiri dengan salam-salaman dengan warga” katanya.
Pada masa tanggap darurat tahap dua ini, lanjutnya, sebagai leading sektornya adalah dan PMI. Sebagian besar personil TNI, lanjutnya, akan ditarik ke markasnya masing-masing. “Yang tinggal nanti TNI dari Kodim. Peran TNI di sini tidak lagi di depan memimpin operasi bencana namun berada di lapis kedua membackup penanangan bencana. Namun sepanjang diperlukan TNI selalu siap” katanya.
Untuk evakuasi korban, lanjutnya, sampai hari ke 9 pada Sabtu tanggal 20 Desember, jumlah korban MD yang berhasil ditemukan 93 orang. Hari Sabtu tidak ada penambahan, lanjutnya, karena pencarian korban terkendala hujan yang turun sejak pukul 10.00 pagi.  “Sebetulnya masyarakat sudah menerima jika evakuasi dihentikan pada hari Jumat kemarin. Namun kita tambah lagi 1,5 hari agar masyarakat lebih puas. Hanya saja setelah sekian lama tertimbuh, kita wanti-wanti sekali pada para petugas dan relawan hanya mereka yang menggunakan standar keamanan lengkap yang boleh menyentuh mayat. Sangat berbahaya mayat yang sudah mengeluarkan cairan disentuh dengan tangan telanjang. Tangan bisa hancur sebatas lengan karena membusuk terkena kuman,” katanya. (eko br).

Banjarnegara Kekurangan Alat Deteksi Dini Bencana

Banjarnegara Kekurangan Alat
Deteksi Dini Bencana
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio mengatakan bahwa kabupaten itu masih kekurangan alat peringatan dini tanah longsor atau “landslide early warning system” (LEWS).
“Kami mendapat lima unit LEWS dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), beberapa di antaranya telah dipasang di Desa Kertosari, Kecamatan Kalibening, dan Desa Tlaga, Kecamatan Punggelan. Namun jumlah tersebut masih belum mencukupi karena masih ada sekitar tujuh titik rawan longsor di Banjarnegara,” kata Catur di Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin.
Menurut dia, pihaknya telah memetakan sebanyak 12 titik rawan longsor yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Karangkobar, Punggelan, Pagentan, Pejawaran, Kalibening, Wanayasa, Banjarmangu, dan Madukara.
Ia mengatakan bahwa masing-masing kecamatan terdapat satu hingga dua titik yang perlu dipasangi alat LEWS.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengajukan penambahan alat LEWS kepada BNPB.
“Alat LEWS sangat penting untuk mendeteksi pergerakan tanah secara cepat sehingga jika terjadi gerakan tanah dapat segera diambil langkah cepat penyelamatan. Dengan demikian, jumlah korban dapat diminimalkan jika terjadi longsor,” katanya.
Lebih lanjut, Catur mengatakan bahwa hingga saat ini lebih dari 2.000 warga di Kecamatan Karangkobar, Punggelan, Wanayasa, dan Banjarmangu yang mengungsi akibat bencana tanah longsor.
Khusus untuk korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, dia mengatakan bahwa saat ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sedang menyiapkan hunian sementara (huntara) yang dilakukan dengan cara menyewa rumah warga yang ditinggal merantau oleh pemiliknya.
“Selain huntara, para korban juga mendapat biaya hidup sambil menunggu proses relokasi yang kini masih ditentukan lokasi pastinya,” kata dia.
Para korban selamat warga Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar segera direlokasi. Saat ini pendataan para pengungsi sudah dilakukan oleh tim terkait. (*anhar).

10 Ribu Bibit Kopi Arabica Ditanam di sekitar Telaga Merdada

 

 

 

Sebanyak 10 ribu bibit kopi Arabica ditanam paca acara Bulan Menanam Program Hijaunesia Power Peduli Planet PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Mrica (16/10) di Sekitar Telaga Merdada Desa Karangtengah Kecamatan Batur.

Read more: 10 Ribu Bibit Kopi Arabica Ditanam di sekitar Telaga Merdada

Tunjangan Tambahan Kades Hanya Untuk yang Benar-benar Bekerja

Adanya tambahan tunjangan kepala dan perangkat desa, bisa saja tidak diberikan kepada mereka bila kinerjanya dinilai kurang. Pemberian tunjangan tambahan tersebut, merupakan salah satu implementasi dari Undang-Undang Nomor  6 Tahun 2014, yang akan segera diterapkan.

Read more: Tunjangan Tambahan Kades Hanya Untuk yang Benar-benar Bekerja

Desa Wisata Gumelem Terus Dikembangkan

 

 

 

Gumelem merupakan desa yang terletak di kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Gumelem dibagi menjadi dua desa yaitu Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon.  Gumelem penuh dengan potensi, baik di sektor pariwisata maupun sektor usahanya. Di sektor pariwisata Gumelem memiliki banyak tempat yang dapat menjadi tujuan wisata seperti Masjid Kuno peninggalan Wali Songo, wisata Banyu Anget  (pemandian air hangat), makam Kiajeng Giri atau lebih dikenal dengan Girilangan dan berbagai tempat menarik lainnya.

 

Di sektor usaha Gumelem juga memiliki banyak peluang seperti pembuatan kerajinan kerang, produksi Gula jawa dan Batik Tulis. Potensi dari  batik tulis sangat bagus dengan adanya banyak sentra batik tulis antara lain oleh Giat Saptorini melalui Kelompok Usaha Batik Tulis “ GIAT USAHA “ yang dikelolanya.

Batik Tulis berhasil  mengangkat nama harum Banjarnegara. Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran para perintis Batik Tulis Gumelem yaitu, Sutirah Setiabudi dengan Setia Usaha-nya, Kuncoro dengan Batik Nova-nya, Yanto dengan Tunjung Biru-nya, dan ada juga Mirah dengan usaha Batik Mirah nya. Berbagai event atau pameran telah diikuti oleh para pengrajin batik Gumelem, diantaranya di Batam, Solo, Semarang, dan Jakarta. Berbagai metode pengembangan motif dan mutu selalu ditempuh untuk memuaskan konsumen.

Saat ini, Desa Gumelem Kulon dan Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan telah ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Penetapan desa wisata bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua desa tersebut sekaligus melestarikan budaya dan alam sekitarnya.

Hal itu disampaikan Sekda Fahrudin Slamet Susiadi, saat kunjungan kerja beserta Forkompinda beberapa waktu lalu di Masjid Jamii At Taqwa, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan.

Read more: Desa Wisata Gumelem Terus Dikembangkan

Memperingati Hari Ibu, GOW Anjangsana ke Pesantren

Dalam rangka memperingati Hari Ibu Ke-85, Gabungan Organiasi Wanita (GOW) Kabupaten Banjarnegara mengadakan kegiatan anjangsana/bhakti sosial ke Pondok Pesantren Al Fatah, Kelurahan Parakancanggah dan Pondok Pesantren Andalusia Kelurahan Sokanandi, Jumat (20/12). Kegiatan ini dipimpin oleh Ny. Hj. Sundari Fahrudin Slamet Susiadi, Ketua GOW Kabupaten Banjarnegara beserta pengurusnya.

Read more: Memperingati Hari Ibu, GOW Anjangsana ke Pesantren

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan