Sat10162021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Laporan Utama

laporan utama

Diresmikan, Gedung Sekretariat Kongres Sungai Pertama di Indonesia

Gedung Sekretariat Kongres Sungai Indonesia (KSI) yang untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di Banjarnegara, Jumat pagi (20/03) diresmikan secara sederhana. Gedung sekretariat menempati bagunan eks kantor Dintankannak di Jalan Pemuda No. 78 Banjarnegara. Secara simbolis peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Sekretaris KSI dan menyerahkan potongan tumpeng kepada Kepala Dinbudpar. Sejak peresmian ini, semua operasional kegitan KSI dipusatkan di kantor tersebut. Demikian dijelaskan oleh Sekretaris KSI, Ir. Singgih Haryono usai peresmian. “Selain agenda utama penyelenggaraan Kongres dan sidang-sidangnya, penyeleng-garaan KSI akan didahului dengan sejumlah kegiatan pra Konggres berupa sejumlah kegiatan dan lomba-lomba, baik tingkat lokal maupun nasional. Dan kantor sekretariat ini merupakan pusat informasi dan koordinasi dari semua kegiatan dan lomba, selain tentunya sebagai pusat kegiatan kesekretariatan KSI” katanya. Sejumlah kegiatan yang diselenggarakan untuk mendukung KSI, lanjutnya, adalah aksi hijau, ekspedisi sungai, festival fim indie, dan jambore akik. Sedangkan lomba-lombanya adalah lomba cipta lagu, lomba mewarnai, lomba melukis, lomba blogger, lomba film dokumenter, dan lomba foto tingkat nasional. “Semua kegiatan pendukung ini diselenggarakan dalam rentang waktu antara bulan April hingga Agustus mendatang saat pelaksanaan Kongres. Di sisi lain, bersamaan dengan pelaksanaan KSI di bulan Agustus diselenggarakan juga sejumlah kegiatan diantaranya ekspresi sungai dan pameran tentang sungai. Di forum inilah hasil kegiatan ekspedisi sungai dan lomba foto ikut dipamerkan di pameran sungai” katanya. KSI sendiri, imbuhnya, sudah di-Launching pada tanggal 06 Maret lalu di Wisma Perdamaian, Semarang oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Di launching di Semarang, lanjutnya, sebab pemerintah propinsi menjadi bagian dari penyelenggara kegiatan KSI. Dan Banjarnegara dengan FSB 2015 sebagai induk dari KSI, lanjutnya, menjadi tempat penyelenggaraannya. Karena itu, lanjutnya, panitia KSI memiliki dua tempat kesekretariatan yaitu di Semarang dan Banjarnegara.  “Urusan peserta dan pemateri ada di Sekretariat Semarang. Sedangkan berkait dengan keramaian event seperti lomba dan festival menjadi urusan sekretariat Banjarnegara” katanya.  Kabid Pemasaran pada Dinbudpar, Giri Praptono, S. Sos., MM, menambahkan bahwa Banjarnegara memiliki event pariwisata yang diselenggarakan dalam tempo waktu dua tahunan yaitu Festival Serayu Banjarnegara (FSB). Dimana untuk tahun 2015 ini diselenggarakan untuk kali kedua setelah sebelumnya FSB sukses besar di tahun 2013.  Event utama FSB adalah serayu ekspo, parade budaya, dan puncaknya adalah Parak Iwak. “Setiap event pariwisata yang diselenggarakan dengan agenda tetap senantiasa membutuhkan daya tarik baru agar tetap diminati wisatawan. Di dalam pelaksanaan FSB tahun 2015 ini menu barunya adalah Banjarnegara banjir dawet, parade budaya yang digelar malam hari, dan penyelenggaraan Kongres Sungai Indonesia” katanya. FSB punya menu kegiatan seni budaya sendiri, demikian juga dengan KSI. Namun diantara keduanya tidak ada yang tabrakan, justru saling mengisi sebab KSI merupakan bagian dari FSB 2015. “KSI ini merupakan kongres tentang sungai yang untuk pertama kalinya akan dilaksanakan di Banjarnegara. Karena itulah kita harus serius. Sebab sukses KSI juga sukses FSB 2015 dan utamanya adalah sukses Banjarnegara” katanya. Terpisah, Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno menambahkan bahwa penyelenggaraan KSI berlandaskan pada partisipasi warga. Penyelenggaraannya tidak mendasarkan pada dana APBD tapi pada bantuan, sokongan, dan partisipasi swasta dan perusahaan. Berbagai lomba yang diselenggarakan untuk meramaikan KSI pun terselenggara berkat peran serta komunitas, termasuk aktivitas dan dana untuk mendukung penyelenggaraan. “Karena itu saya mengajak semua orang yang peduli dengan masa depan sungai untuk bergabung dan meramaikan kegiatan ini. Sebab masalah sungai bukan masalah orang per orang, masalahnya pemerintah, dinas tertentu, atau perusahaan tertenu. Masalah sungai adalah masalah bersama pemerintah, masyarakat, dan perusahaan. Masalah kita bersama” katanya. Sungai-sungai kita, lanjutnya, itu saling terhubung dan jalin terjalin dengan daratan, gunung, dan laut. Sungai-sungai kita terhubung dengan perihal energi, perikanan, pertanian, pariwisata, air minum, dan keperluan hidup lainnya. Sebab sungai kita adalah simpul peradaban dan sungai adalah pusat peradaban. “Namun sungai menjadi rusak saat kita mendangkalkan pengertian sungai hanya sebagai halaman belakang, tempat kita membuang semua kotoran. Sehingga kehidupan kita tidak lagi menghargai sungai. Perilaku salah terhadap sungai inilah yang melahirkan banjir dan kekeringan yang sulit dikendalikan” katanya. KSI, lanjutnya, menjadi momentum sangat baik untuk melakukan upaya rethinking kita terhadap sungai bahwa sungai bukan halaman belakang namun sungai merupakan halaman depan. “Karena menjadi halaman depan, tentunya perilaku kita terhadap sungai berubah lebih baik sebab sungai merupakan wajah depan rumah kita” katanya.  (**—eko br)

 Peringatan 100 Hari Bencana Jemblung Wabup Ajak Masyarakat Perbanyak Ikhtiar, Bukan Saling Menyalahkan

Tak terasa, 100 hari sudah bencana tanah longsor Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar terjadi. Kamis 19 Maret 2015, digelar pengajian dan doa bersama memperingati bencana tersebut. Acara digagas oleh masyarakat dari desa Sampang, Desa Ambal dan desa-desa sekitarnya di wilayah Karangkobar.

Acara dihadiri Wakil Bupati Banjarnegara, Muspika Karangkobar, para kades di kecamatan Karangkobar. Juga menampilkan ustadzah Mumpuni dari Kroya Cilacap yang kesohor di layar kaca. Peringatan ini dihadiri ribuan pengunjung, antara lain keluarga korban bencana longsor, warga Sampang, Ambal dan sejumlah desa lainnya di wilayah kecamatan Karangkobar, Wanayasa, Kalibening, dan Batur. Kades Sampang, Purwanto dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini murni inisiatif dari warga masyarakat utamanya generasi muda. Ia dan masyarakat merasa sudah ikhlas dengan bencana yang menimpa desanya itu. “Kami ikhlas, mudah-mudahan kami bisa mengambil hikmah dari bencana ini, dan cukuplah terjadi di sini saja,”  katanya. Ia mengajak warganya untuk bersabar dan segera bangkit lagi dari musibah ini. “kita harus terus menatap masa depan, masa lalu biarlah jadi pelajaran. Kami bersama pemerintah daerah terus berusaha untuk pemulihan pasca bencana yang terjadi Hari Jumat kelabu tanggal 12 Desember tahun lalu,” katanya.

Relokasi

Sementara itu Wabup Hadi Supeno dalam sambutannya mengajak masyarakat korban longsor untuk bersabar dan tawakkal. “Bencana dan ujian, semuanya kehendak Tuhan. Kita manusia harus terus berikhtiar untuk menghadapi juga mengantisipasi, bukan terus saling menyalahkan,” katanya. Terkait relokasi, Wabup atas nama pemerintah memastikan di Dukuh Suren Desa Ambal.  “Dipilihnya lokasi tersebut karena beberapa pertimbangan seperti keamanan, dan tentu saja karena dipilih warga. Dipastikan pembanguan rumah segera teraksana tinggal menunggu proses lelang saja.”

Aren dan bambu

Terkait ikhtiar, Hadi Supeno meminta warga menanam aren dan bambu. “melihat tekstur tanah di sini yang gembur, janganlah ditanami singkong saja, coba bapak Ibu lihat tanaman apa yang masih berdiri kokoh di puncak bukit sana?” Tanya wabup sambil menunjuk pohon aren dan bambu yang tegar menghijau di bukit Tlagalele. Ikhtiar lain, lanjut Hadi, pemerintah telah memasang EWS (early warning system) di titik-titik tertentu, sebagai antisipasi terjadinya tanah longsor. Sementara itu, ustadzah Mumpuni dengan gayanya yang lugas dan cair mampu memberikan motivasi pengunjung.  Mumpuni mengajak masyarakat untuk selalu mensyukuri nikmat iman, sehat, serta nikmat sempat, dan selalu taat pada perintah agama. “Bencana adalah ujian dari Allah. Manusia harus sabar dan tabah menjalani, tapi harus mampu bangkit lagi dari keterpurukan untuk melanjutkan kehidupan dengan normal dan optimis,” ujar Mumpuni. Di balik itu, kita musti mampu mengambil hikmah dan pelajaran, agar peristiwa seperti ini tak terulang lagi. Selalulah waspada, saling menghargai sesama dan mencintai alam dengan tidak merusa tapi menjaga,” kata Ustadzah yang kerap tampil di layar televisi ini. (mjp).

Sensasi Air Panas Bumi dan Suhu Dingin D’qiano Water Park

 

 

 

Segera hadir di Banjarnegara, wahana baru tempat bermain air D’qiano Water Park yang berlokasi di desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Berbeda dengan tempat lain, selain airnya yang merupakan air panas alam, letaknya di ketinggian membuat dinginnya suhu udara menjadi bagian dari sensasi yang tak terlupakan saat berkunjung ke D’qiano Water Park.  Demikian dijelaskan oleh direktur D’qiano, Suchrodi, Rabu (18/03) di Q’iano Waterpark, Dieng.

“Saat ini pembangunannya mencapai 80%. Kita optimis, saat pada peresmian nanti sudah rampung semua. Rencananya, pada tanggal 4 April 2015 mendatang, wahana baru ini akan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo” katanya. 

D’qiano waterpark, imbuhnya, merupakan taman bermain air. Di tempat ini ada waterboom, kolam renang, dan kolam arus. Namun tempat ini menyajikan hal yang berbeda di tempat lain. Sebab air di sini merupakan air panas yang berasal dari mata air alam.. 

“Suhu air, sudah diatur agar temperaturnya tidak terlalu panas dan bisa untuk mandi. Tantangan lain pemandian di Q’iano waterpark adalah tempatnya yang berada di ketinggian Dieng yang berada di atas 2000 dpl. Udara di sini dingin, sehingga menjadi sensasi sendiri bagi wisatawan. Selain kolam renang, tersedia juga kamar mandi dengan perlengkapan tub yang bisa untuk berendam” katanya. 

Selain wahana air, sambungnya, di D’qiano juga tersedia wahana pendukung seperti wahana outbond yang representatif, tempat parkir yang luas, dan sarana tempat peribadatan. Dan yang jelas, lanjutnya, tempat ini sudah memenuhi perijinan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung.

“Dengan adanya ijin itu, kami bersikap profesional. Untuk keamanan pengunjung tempat kami memiliki tenaga Geologis, memiliki alat deteksi gas, memiliki ambulance yang senantiasa stand by, dan tersedia jalur evakuasi” katanya.

Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si, menyampaikan pihaknya berterima kasih sekali bahwa ada investor yang mau membangun destinasi baru di kawasan dataran tinggi Dieng. Apalagi modal yang ditanamkan juga cukup besar. 

“Taman air ini menambah warna baru dan akan meramaikan destinasi wisata Dieng. Nantinya, orang berlibur ke Dieng tidak semata melihat wisata Candi, kawah, pemandangan alam, dan seni budayanya. Namun bisa juga menikmati wisata modern di kawasan wisata D’qiano Park. Tempat bermain air seperti ini, biasanya paling disukai oleh anak-anak” katanya.

Kehadiran obyek wisata baru, lanjutnya, selain menambah tujuan wisata juga membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar. Warga selain bisa bekerja langsung di wahana, sambungnya, juga bisa bisa bekerja di bidang yang mendukung keberadaan obyek seperti pedagang makanan, pedagang oleh-oleh maupun produsen oleh-oleh, tumbuhnya homestay, tukang ojek, dan pekerjaan informal lainnya. 

“Jadi bisnis pariwisata itu selalu memunculkan multiplayer efek secara ekonomi. Tidak hanya bisnis intinya, namun juga melahirkan usaha pendukungnya” katanya. (**—eko br)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banjarnegara Siaga Bencana

Banjarnegara Siaga Bencana

Banjarnegara siaga bencana. Langkah kesiapsiagaan ini diperlukan karena sekarang ini tengah menghadapi puncak musim penghujan. Kamis malam (04/12), hujan yang turun merata di wilayah Banjarnegara menyebabkan terjadinya longsor di sejumlah titik. Demikian disampaikan Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., Kamis (05/12) di kantornya.
“Sebagai salah satu upaya kesiapsiagaan, Camat diinstruksikan untuk tetap stand by di rumah dinasnya masing-masing. Kepada Camat dan Kades juga diminta melakukan sosialisasi kepada warganya agar dalam menghadapi musim penghujan ini jika hujan turun deras, kaum lelaki diminta untuk tetap terjaga. Biar kaum perempuan dan anak-anak yang tidur” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan jajarannya, lanjutnya, diminta bekerja ekstra keras dan siap siaga 24 jam memantau wilayah rawan longsor. Semua relawan dan jejaringnya, lanjutnya, disiagakan menghadapi kemungkinan peristiwa darurat. Posko-posko bencana, lanjutnya, diaktifkan terus jangan sampai kosong.
“Alat komunikasi BPBD yang terhubung dengan posko kecamatan, nomor kontak telepon dan handhphone personil BPBD, harus disiagakan sepanjang malam agar kabar yang masuk kapanpun terpantau dengan cepat. Sehingga bencana cepat tertangani. Upaya maksimal kita, jangan sampai penanganan bencana terlambat sehingga menimbulkan kerugian materi yang besar. Apalagi sampai menimbulkan korban manusia” katanya.
Kepala BPBD Catur Subandrio, S. Sos, mengatakan hujan turun deras pada malam harinya menyebabkan terjadinya bencana longsor di sejumlah wilayah. Kejadian terbanyak, lanjutnya, ada di wilayah Banjarnegara utara. Di Kecamatan Banjarmangu, lanjutnya, ada tiga tempat. Longsor, lanjutnya, terjadi di desa Sijeruk, desa Prendengan, dan desa Paseh.  Longsor di desa Sijeruk, lanjutnya, mengancam perumahan warga. Sedangkan yang di desa Prendengan, lanjutnya, menyebabkan jembatan yang menghubungkan antar desa putus.
“Longsor di desa Paseh menutup jalan desa. Namun dengan upaya keras BPBD dan relawan, Posko kesiapsiagaan Bencana Kecamatan, dan warga pada pukul 10 malam bisa diatasi. Sehingga jalan bisa dilalui kembali” katanya.
Pembangunan jembatan darurat, lanjutnya, juga dilakukan menghadapi putusnya jembatan Prendengan. Jembatan darurat, lanjutnya, pada malam itu juga segera dibangun dengan menggunakan bantalan batang pohon dan pada pagi harinya sudah dapat dilewati kendaraan dan anak-anak sekolah.
“Upaya segera ini kami tempuh, agar lalu lintas perekonomian warga segera pulih. Sebab di wilayah tersebut perekonomian masyarakat bertumpu pada hasil pertanian salak. Apalagi sekarang ini tengah musim panen. Selain itu, prioritas kami adalah agar anak-anak dapat bersekolah” katanya.
Di Kecamatan Pandanarum, lanjutnya, longsor terjadi di desa Beji. Kecamatan Karangkobar, lanjutnya, longsor di desa Pagerpelah yang mengancam rumah warga dan di desa Slatri yang menutup akses jalan. Di Kecamatan Wanayasa, lanjutnya, juga terjadi longsor. Di Kecamatan Punggelan, lanjutnya, longsor terjadi di desa Bondolharjo. Di Kecamatan Sigaluh, lanjutnya, longsor terjadi di desa Bojanegara menyebabkan sejumlah rumah terancam longsoran. Dan di desa Clapar, Madukara, lanjutnya, jalan longsor.
“BPBD terus siap siaga dengan segala sumber daya yang ada. Dengan keterbatasan personel dan peralatan, BPBD banyak mengandalakan bantuan kesiapsiagaan relawan dan juga partisipasi masyarakat. Mengharapkan seluruh masalah ditangani semua oleh BPBD adalah hal tidak mungkin. Karena itu kami sangat berharap peran warga dan swasta. Jika ada bencana terjadi namun kiranya skalanya bisa diatasi oleh warga setempat, seyogyanya segera diambil tindakan tanpa harus menunggu BPBD yang menangani. Namun kejadian bencana sebagai laporan tetap penting untuk disampaikan ke BPBD” katanya.
Dalam hal peralatan, lanjutnya, BPBD masih kekurangan alat penanganan agar keadaan tanggap darurat segera diatas. Sejumlah peralatan tersebut diantaranya, lanjutnya, adalah lampu sorot yang penting untuk menangani kejadian bencana di malam hari.
“Selain lampu adalah senso, alat berat minimal satu buah loader dan truck dam untuk pengangkut, dana untuk operasonal posko di kecamatan-kecamatan, dan cadangan dana darurat yang segera bisa dicairkan untuk mengatasi keadaan darurat” katanya.
Sementara itu, Kepala Kelompok Teknis Stasiun Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara Hariyanto mengingatkan bahwa potensi bencana longsor di Banjarnegara masih tinggi. Sebab puncak musim hujan, lanjutnya, terjadi pada bulan Desember 2014 – Januari 2015. 
“Potensi longsor terbesar adalah pada wilayah yang memiliki kontur tanah dengan kemiringan 450 lebih. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya curah hujan yang ada di wilayah tersebut. Wilayah utara Banjarnegara menjadi daerah yang paling rawan karena kontur tanahnya yang berbukit-bukit dan terjal. Banyak perumahan warga berada pada kondisi tanah dengan kemiringan cukup rentan. Ditambah lagi, curah hujan di wilayah Banjarnegara utara berada di atas ambang batas normal 400 mm lebih” katanya.
Selain karena factor-faktor tersebut, lanjutnya, kondisi tanah dan tanaman di wilayah tersebut juga ikut berpengaruh pada kerawanan bencana longsor. (**—eko br).

Dusun Jemblung Longsor, Takdir Kebumian Menimpa Banjarnegara

Dusun Jemblung Longsor, Takdir Kebumian Menimpa Banjarnegara

Jumat 12 Desember 2014, tepatnya pukul 16.00 WIB, saat senja menjelang, Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar tiba-tiba meredup, langit berangsur-angsur menjadi memerah dan hujanpun mengguyur desa dengan titik-titik airnya yang makin lama makin membesar.
Dalam kondisi normal, panoramanya bakal memukau siapa pun, pemandangan alam yang selalu menimbulkan kesan spiritual dan religius.Namun sore itu, tepat pukul 18.00 WIB tak satu pun yang dapat disaksikan. Bahkan seberkas sinar matahari tak juga nampak. Bencana longsor pun datang menghancurkan seisi kampung. Air hujan tumpah ruah berbarengan dengan air mata dan teriakan seisi warga dan pengguna jalan yang melintas. Duka pun datang, Dusun Jemblung dalam sekejap tertimbun oleh tumpukan tanah.
Sehari sebelumnya, titik-titik air hujan yang sangat deras telah meredam sebagian wilayah di Kabupaten Banjarnegara. Stasiun geofisika kelas III Banjarnegara yang dioperasikan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mencatat curah hujan sepanjang Kamis, 11 Desember 2014, Tarikh Umum (TU) mencapai 112,7 milimeter.
Dan sehari kemudian, saat bencana longsor datang, curah hujannya masih sebesar 101,8 milimeter. Dalam dua hari saja intensitas hujan yang mengguyur seantero Banjarnegara telah mencapai 214,5 milimeter. Pada tahun-tahun sebelumnya, umumnya curah hujan sebanyak itu membutuhkan waktu sebulan Desember penuh (rata-rata) dalam menjatuhi segenap Banjarnegara. Jelas sudah, dengan volume air hujan yang setara dengan yang rata-rata diguyurkan selama 31 hari penuh, hujan sepanjang 11 hingga 12 Desember 2014 di Banjarnegara berkualifikasi hujan sangat deras atau hujan ekstrem.
Hujan yang sangat deras ini membuat sekujur Banjarnegara menggigil dan berharap-harap cemas. Kabar meluapnya Sungai Serayu, sungai utama di kabupaten ini, sembari mengalirkan arusnya demikian deras pun menyebar ke mana-mana. Sedemikian berlimpah air sungai ini sehingga tinggi genangan di Waduk Panglima Besar Sudirman (Mrica), yang ada di aliran Sungai Serayu, pun mencapai maksimum dalam waktu singkat. Akibatnya pengelola dipaksa membuka pintu-pintu pelimpas air (spillway)-nya untuk tetap menjaga keamanan bendung. Air Serayu pun menderas ke hilir dan sempat menenggelamkan sejumlah rumah. Kabar tak berkeruncingan pun menyebar ke mana-mana, mewartakan waduk telah bobol dan menenggelamkan hilir sungai meski hal ini segera dibantah oleh pengelola bendungan. Titik-titik tanah longsor pun bermunculan di mana-mana di kabupaten Banjarnegara. Namun, ternyata itu baru awal, karena bencana masih berlanjut.
Pada Jumat senja (12/12)  itu, mayoritas penduduk Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar lebih memilih meriung di kediamannya masing-masing. Hujan sangat deras hari itu baru saja berlalu. Namun titik-titik air yang lebih lembut masih berjatuhan, membuat orang-orang enggan keluar. Dusun sederhana berhawa sejuk itu terletak pada elevasi 930 hingga 940 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Mayoritas penduduk bergelut di dunia pertanian.
Dusun ini nyaris tak dikenal orang luar Karangkobar, meski berada di jalur jalan raya utama yang menghubungkan Kota Banjarnegara dengan Leksana (ibu kota Kecamatan Karangkobar) dan Dataran Tinggi Dieng. Jalan raya yang sama juga menjadi salah satu poros penghubung Banjarnegara dengan Pekalongan di utara. Jalan tersebut telah beraspal mulus dengan kualitas baik, meski naik turun dan penuh tikungan. Terdapat sekitar 150 rumah di dusun ini. Desa Sampang sendiri berpenduduk lebih dari 2.000 jiwa dengan 1.805 orang di antaranya terdaftar sebagai pemilih dalam daftar pemilih tetap Pilpres 2014 lalu seperti dipublikasikan KPU (Komisi Pemilihan Umum).
Situasi berubah dramatis pada pukul 17:00 WIB. Didahului suara mirip ledakan keras hingga dua kali, lereng sisi utara Gunung Telagalele yang persis ada di hadapan dusun ini mendadak longsor. Materialnya mengalir deras tak tertahankan ke kaki gunung. Hampir segenap dusun beserta penduduknya kontan terkubur di bawah timbunan lumpur tebal. Longsor dahsyat ini juga menimbun jalan raya beserta kendaraan apa pun yang sedang melintasinya saat itu. Hanya dalam lima menit, lansekap yang semula indah kini berubah menjadi timbunan tanah yang mengerikan. Luas kawasan yang terkena hantaman longsor dalam bencana dahsyat ini mencapai tak kurang dari 15 hektar dan sebagian menyumbat Sungai Petir, salah satu anak Sungai Merawu dalam DAS (daerah aliran sungai) Serayu.
Hingga Minggu 13 Desember 2014 TU, tim evakuasi yang kini sudah beranggotakan lebih dari 2.000 orang dari segenap eksponen relawan telah menemukan 42 jasad korban. Dari perkiraan 108 jasad yang terkubur, maka masih ada 66 orang yang belum ditemukan. Ribuan penduduk baik dari Desa Sampang maupun desa-desa sekitarnya telah diungsikan ke tempat-tempat pengungsian sementara, seiring Bukit Telagalele dan bukit-bukit lainnya di sini yang masih labil. Nama Jemblung dan Sampang pun sontak menjadi episentrum perhatian hingga skala nasional.
Lempung dan Napal
Skala kedahsyatan bencana longsor Jemblung (Sampang) 2014 ini menggamit kembali ingatan akan sejumlah bencana sejenis yang menerpa Banjarnegara dalam setengah abad terakhir. Misalnya bencana longsor Gunungraja (Sijeruk) 2006, yang terjadi pada 4 Januari 2006 TU dan merenggut 90 nyawa dengan 76 jasad korban berhasil ditemukan dan 14 sisanya tetap hilang. Atau bencana longsor Legetang (Kepakisan) 1955 yang spektakuler, yang terjadi pada 16 April 1955 TU akibat ambrolnya lereng Gunung Pengamun-amun di Dataran Tinggi Dieng dan menimbun tak kurang dari 351 orang.
Ketiga bencana longsor dahsyat itu pun harus disandingkan pula dengan bencana longsor dalam skala yang lebih kecil lainnya di Banjarnegara. Dalam kurun lima tahun terakhir, kabupaten ini berhadapan dengan 15 peristiwa tanah longsor atau rata-rata tiga peristiwa longsor per tahun. Semua bencana longsor menimbulkan kerugian material yang besar dan beberapa di antaranya bahkan merenggut korban jiwa, meski tak sefantastis bencana longsor dahsyat Legetang, Gunungraja, dan Jemblung. Pada saat yang sama dengan bencana longsor dahsyat Jemblung ini, Banjarnegara pun sedang berhadapan dengan tak kurang dari 66 titik longsor lainnya.
Mengapa bencana tanah longsor seakan jadi penyakit kambuhan bagi Banjarnegara?
Faktor utamanya terletak pada geologi Banjarnegara yang unik, khususnya kawasan Karangkobar-Merawu yang menjadi bagian sub-DAS Merawu. Kawasan ini merupakan bagian dari mandala Pegunungan Serayu Utara yang topografinya relatif bergelombang yang lereng-lerengnya setengah terjal hingga terjal. Segenap kecamatan Karangkobar terletak di dalam pegunungan ini, dengan gunung-gunungnya memiliki kemiringan lereng antara 15 hingga 40%. Kawasan Karangkobar-Merawu ini dialasi oleh batuan sedimen lempung dan napal hasil rombakan gunung berapi jauh di masa silam. Permukaannya ditutupi tanah hasil pelapukan yang cukup tebal.
Hal ini masih ditambah dengan tercabik-cabiknya kawasan Karangkobar-Merawu akibat aktivitas tektonik nun jauh di masa silam, yang membuat kawasan ini dibelah-belah dan ditekan hebat demikian rupa oleh beragam sesar (patahan) yang saling bersilang-siur dan aktif pada masanya. Kini sesar-sesar itu telah lama mati, namun imbasnya masih bisa dirasakan dalam wujud rapuhnya lempung dan napal yang mengalasi kawasan Karangkobar-Merawu. Lempung dan napal tersebut cukup sarang sehingga mampu menyimpan air namun juga membuatnya mudah longsor bila kandungan airnya telah jenuh.
Kekhasan ini masih ditambah dengan terus bergeraknya kawasan Karangkobar-Merawu akibat desakan dari dalam dari arah selatan. Desakan yang masih terus berlangsung membuat lempung dan napal seakan diremas-remas. Sejumlah gunung batu relatif padat, yang adalah sisa intrusi magmatik nun jauh di masa silam dan relatif tahan terhadap pengikisan oleh cuaca, pun turut terdorong oleh desakan tersebut hingga terputus dari akarnya. Situasi ini kian menambah rapuh lempung dan napal di segenap kawasan Karangkibar-Merawu. Tak heran jika tingkat erosi di sini demikian tinggi, bahkan meskipun vegetasi (tumbuhan) berkayu yang rapat masih menutupi lereng-lerengnya dengan baik. Tanah pucuk (topsoil) yang dihanyutkan air lantas mengalir ke sungai-sungai kecil yang menjadi bagian sub-DAS Merawu.
Hampir tiga perempat abad silam geolog legendaris van Bemmelen menyebut Sungai Merawu adalah sungai paling berlumpur di Indonesia. Tingginya erosi di sub-DAS Merawu memberikan kontribusi cukup besar bagi sedimentasi Waduk Panglima Besar Sudirman. Setiap tahunnya waduk ini dimasuki sedimen sebanyak 2,4 juta meter kubik. Sedimentasi tersebut setara dengan lumpur/tanah yang diangkut 1.300 dump truck kapasitas 5 meter kubik dalam setiap harinya. Selain erosi yang sangat tinggi, kekhasan kawasan Karangkobar-Merawu juga menjadikannya kawasan yang sangat rentan terhadap bencana tanah longsor baik dalam skala kecil maupun besar. Tak heran jika PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menempatkan mayoritas Kecamatan Karangkobar ke dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah (zona kuning) dan tinggi (zona merah).
Bencana tanah longsor dahsyat di kawasan Karangkobar-Merawu umumnya disebabkan akumulasi air hujan dalam lereng setengah terjal hingga terjal sampai mencapai titik jenuh. Selain menambah bobot lereng, akumulasi air juga membuat bagian bawah tanah lereng tersebut seakan dilumasi sehingga menciptakan bidang gelincir.

Begitu lereng tak lagi sanggup menahan bobotnya sendiri, bidang gelincir membuat proses melorotnya lereng menjadi lebih mudah. Jika bidang gelincirnya berbentuk cekung, maka tanah longsor bertipe rotasional pun terjadilah.
Longsor rotasional cukup khas karena mengandung energi besar sehingga saat segenap lereng merosot, ia mampu meloncatkan kaki lereng (lidah longsor) hingga beberapa puluh atau bahkan beberapa ratus meter dalam kecepatan cukup tinggi sebelum menyentuh tanah. Sementara puncak lereng (mahkota longsor) mungkin hanya beringsut beberapa meter hingga beberapa puluh meter. Loncatan ini sangat sulit dihindari. Namun bencana tanah longsor dalam skala besar tidaklah terjadi sekonyong-konyong. Selalu terdapat gejala pendahuluan sebelum peristiwa utamanya terjadi, dalam rupa terbentuk retakan-retakan di bagian atas lereng yang kemudian terus berkembang memanjang dan kian dalam menjadi retakan lengkung/retakan bulan sabit/retakan tapal kuda. Dari retakan inilah air hujan lebih mudah memasuki lereng dan terakumulasi. Tatkala hal ini sudah terjadi, bencana tanah longsor tinggal menunggu waktu.

Legetang dan Gunungraja
Hal tersebut teramati dalam bencana tanah longsor dahsyat Legetang 1955. 70 hari sebelum bencana terjadi, retakan sudah mulai terlihat di dekat puncak Gunung Pengamun-amun (elevasi 2.000 meter dpl) yang berjarak sekitar 500 meter sebelah timur Dusun Legetang, Desa Kepakisan. Para pencari rumput dan kayu bakar di gunung yang saat itu tertutupi hutan lebat pun telah mengetahuinya. Kian lama retakan tersebut kian melebar dan juga kian dalam, mengarah ke sisi tenggara. Retakan yang terus berkembang ini sering menjadi bahan obrolan sehari-hari penduduk Dusun Legetang, yang terletak pada elevasi sekitar 1.800 meter dpl. Namun tak ada yang merasa khawatir atau menduga terlalu jauh.
Situasi berubah dramatis pada pertengahan April 1955 TU. Setelah diguyur hujan lebat selama berhari-hari, lereng sisi tenggara Gunung Pengamun-amun telah demikian berat dan terlumasi dasarnya sehingga merosot ambrol dalam volume sangat besar. Penyelidikan geolog MM Purbo dari Jawatan Geologi (kini Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI) memperlihatkan kombinasi longsor bertipe rotasional dengan halangan bukti kecil di hadapannya membuat membuat lidah longsor meloncat jauh. Ia juga membentur bukit di hadapannya. Hingga akhirnya material longsor pun terbelokkan ke Dusun Legetang setelah meloncati sebatang sungai kecil jelang tengah malam 16 April 1955 TU. Segenap dusun ini pun terkubur di bawah timbunan tanah yang sangat tebal beserta 332 penduduknya dan 19 orang dari desa lain yang sedang bertamu ke dusun tersebut.
Bentang lahan Legetang pun berubah dramatis dari semula cekungan di sebuah lembah menjadi gundukan sedikit membukit. Dari 351 korban jiwa itu, hanya jasad kepala dusun yang berhasil dievakuasi. Sisanya terlalu sulit untuk digali akibat tebalnya timbunan tanah. Bencana dahsyat ini sontak menggemparkan masyarakat Banjarnegara khususnya di Dataran Tinggi Dieng. Penduduk segera menghubung-hubungkan bencana ini dengan sikap warga dusun Legetang, yang jauh dari kehidupan religius. Kini di ‘bukit’ yang menimbun Legetang terdapat sebuah tugu beton sebagai pengingat akan bencana yang paling mematikan di Dataran Tinggi Dieng dan Banjarnegara.
Hal serupa juga terjadi jelang bencana longsor dahsyat Gunungraja. Bahkan retakan di lereng bukit Pawinihan sudah terdeteksi semenjak 2004, atau dua tahun sebelumnya. Retakan tersebut terus berkembang dan melebar akibat erosi parit. Hingga dua minggu jelang bencana, retakan ini telah sepanjang 25 meter dengan lebar 1 hingga 2 meter sedalam 4 meter. Lebih tak menguntungkan lagi, erosi parit juga membuat ujung parit ini terbendung oleh material erosi sehingga air tak leluasa mengalir. Namun sepanjang waktu itu tidak ada langkah antisipasi. Meski demikian hingga November 2005 TU bencana relatif terhindarkan seiring masih seimbangnya arus keluaran air (lewat kemampuan tanah bukit untuk menyerap air) dengan arus masukan air (dari air hujan).
Situasi berubah dramatis pada November 2005 TU saat tanah di kaki bukit diperkeras dengan aspal sebagai jalan raya lokal yang menghubungkan Dusun Gunungraja Wetan dengan Dusun Kendaga, keduanya dalam wilayah Desa Sijeruk. Pengaspalan jalan lokal ini jelas bertujuan baik, untuk memperlancar arus transportasi setempat dengan efek multidimensinya. Namun dalam analisis pascabencana yang dilakukan tim Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah, pengaspalan jalan di kaki bukit membuat keseimbangan terganggu. Kini arus masukan air menjadi lebih besar dari arus keluarannya.
Puncaknya terjadi pada selang waktu antara 27 Desember 2005 hingga 4 Januari 2006 TU, saat Banjarnegara diguyur hujan lebat.
Masukan air di lereng bukit Pawinihan itu pun meningkat hebat tanpa diimbangi oleh peningkatan kemampuan keluaran air. Lereng yang jenuh air membuat bobotnya bertambah besar sembari menciptakan bidang gelincir didasarnya. Maka bencana tanah longsor dahsyat pun terjadilah, tak peduli bahwa lereng bukit itu masih tertutupi tumbuh-tumbuhan berakar tunggang dengan baik. Sebagian Dusun Gunungraja pun lenyap di bawah timbunan tanah, yang merenggut nyawa 90 orang dari sekitar 600 orang penduduknya.

Bagaimana dengan Longsor Dahsyat Jemblung?
Relawan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) yang sempat melakukan assessment sebelum bencana menyebutkan telah ada retakan di lereng utara Gunung Telagalele semenjak sebulan sebelum bencana. Retakan tersebut bahkan telah berkembang seiring datangnya musim penghujan. Berkaca dari pengalaman longsor dahsyat Gunungraja, yang hanya berjarak 5 kilometer di selatan Dusun Jemblung, maka sejumlah langkah antisipasi telah dilakukan. Penduduk yang bermukim di rumah-rumah yang persis ada di bawah retakan pun telah dievakuasi. Dapat dikatakan bahwa penduduk Dusun Jemblung telah mengetahui potensi longsor tersebut dan telah melakukan antisipasi. Satu hal yang belum jelas benar adalah seberapa jauh longsor yang bakal terjadi itu melanda. Anggapan yang berkembang, longsor yang bakal terjadi mungkin berskala kecil hingga sedang. Sehingga evakuasi hanya dilakukan di rumah-rumah di lereng, yang posisinya paling dekat ke retakan.
Asumsi ini ternyata tak terbukti. Longsor yang benar-benar terjadi ternyata berskala besar. Analisis tim respon cepat bencana UGM (Universitas Gadjah Mada) menyebut lereng yang longsor berdimensi tinggi 100 meter dan lebar 500 meter. Tipe longsornya mungkin rotasional, yang membuat lidah longsor meloncat dan menerjang hingga sejauh 600 meter. 35 rumah dan 1 masjid (Masjid al-Iman) bersama dengan penggal jalan raya Banjarnegara-Dieng tertimbun material longsor hingga bermeter-meter. Dari 308 penduduknya, 200 orang diantaranya berhasil menyelamatkan diri. Longsor dahsyat Jemblung merupakan yang terbesar di antara 34 titik tanah longsor lainnya yang berhasil ditemukan. Seluruhnya terletak di kawasan Karangkobar.
Pascabencana, tim kaji cepat yang beranggotakan UGM, BMKG, PVMBG, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan lainnya memperlihatkan potensi bencana masih tetap membayangi Dusun Jemblung ke depan. Potensi pertama datang dari material longsoran yang sebagian membendung Sungai Petir. Jika hujan deras, bendungan ini akan menghalangi air sungai untuk beberapa saat sebelum kemudian jebol menjadi banjir bandang.
Sementara potensi kedua datang dari mahkota longsor. Di sini terdapat telaga sepanjang 30 meter yang digenangi air hingga sedalam 1 meter. Bila hujan deras kembali mengguyur, air dalam telaga ini dapat menekan tanah di bawahnya yang telah demikian lunak dan rapuh sehingga longsor dapat kembali terjadi. Bahkan dalam prediksi terburuk, skala bencananya bisa melampaui apa yang barusan Dusun Jemblung alami!
Antisipasi
Dalam bencana tanah longsor pada umumnya, sedikitnya ada tiga faktor yang berkontribusi. Dalam kasus Banjarnegara khususnya di kawasan Karangkobar-Merawu, faktor pertama adalah kondisi geologi yang unik. Faktor kedua adalah hujan deras hingga hujan ekstrem. Dan faktor ketiga adalah tersumbatnya drainase sehingga air tidak bisa terbebas dengan leluasa dari lereng yang berpotensi longsor. Faktor pertama dan kedua adalah faktor yang terberi (given), atau sudah dari sononya demikian. Sehingga tak bisa dikendalikan manusia. Namun berbeda dengan faktor ketiga. Manusia dapat mengelola drainase lereng, sehingga tingkat kejenuhan airnya dapat direduksi. Saluran-saluran drainase sederhana dapat dibangun untuk keperluan itu. Di samping itu retakan yang sudah terbentuk harus segera ditimbuni lagi hingga rata. Juga tak boleh ada penggalian baik di lereng maupun kaki lereng, baik kecil-kecilan apalagi besar, atas alasan apa pun.
Bencana tanah longsor senantiasa membayangi Banjarnegara sebagai implikasi dari takdir kebumiannya yang unik. Takdir yang membuat tanah di sini sangat subur dan dapat ditumbuhi beragam tanaman budi daya. Takdir yang juga menjadikannya kawasan berpanorama indah dan sejuk. Jika dikelola dengan baik, dua hal tersebut dapat menjadikan Banjarnegara gemah ripah loh jinawi. Namun high risk high gain, di balik segala keuntungan tersebut tersembunyi pula bakat marabahaya.
Di masa beratus hingga ribuan tahun silam, potensi bencana tanah longsor mungkin tak menjadi masalah besar seiring jumlah penduduk yang masih jarang. Namun kini jumlah penduduk telah berlipat ganda, sehingga resikonya semakin besar. Maka patut disambut baik upaya tim UGM beserta institusi lainnya untuk memetakan potensi longsor Banjarnegara hingga ke tingkat dusun (sub-desa). Patut disambut pula gagasan gubernur Jawa Tengah untuk menransmigrasikan lokal penduduk dusun Jemblung yang masih tersisa. Gagasan transmigrasi lokal atau relokasi yang masih tetap berada dalam lingkup Banjarnegara patut dikembangkan tak hanya untuk Dusun Jemblung pasca bencana. Namun juga untuk dusun-dusun lain yang kelak diketahui memiliki potensi longsor yang tinggi. Agar kelak korban tak lagi berjatuhan. Semoga…
(**yovi humas/
disarikan dari berbagai sumber).

Basarnas dan Tim SAR Gabungan Intensifkan Pencarian Korban

Basarnas dan Tim SAR Gabungan Intensifkan Pencarian Korban
Pencarian korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah terus dilakukan. Hingga pukul 17.00 WIB, tim evakuasi Basarnas dan Tim SAR gabungan mengevakuasi 32 korban meninggal dunia, 76 korban masih pencarian.

Kepala Kantor SAR Semarang selaku SAR Mission Coordinator (SMC) Agus Haryono mengatakan, Tim SAR gabungan yang dibagi menjadi 4 SRU atau regu (SAR Rescue Unit) berhasil mengevakuasi 21 korban. “Kami beserta Tim SAR Gabungan terus mengintensifkan pencarian korban longsor,” kata Agus.
Yang pertama, kata Agus, pencarian menemukan korban sepasang suami istri yang terjebak di dalam mobil. Proses evakuasi terkendala karena kedua korban terjepit di jok depan. Basarnas Special Grup (BSG) harus memotong kabin bagian atas pickup warna putih itu.
“Pemotongan dilakukan dengan menggunakan peralatan ekstrikasi. Sulitnya pengambilan korban hingga memakan waktu sampai 3 jam, baru kedua korban berhasil dievakuasi sekitar pada pukul 09.00,” ujar Agus Minggu (14/12) malam.
Di titik lain, lanjut Agus, tim SAR gabungan menemukan 3 orang. Salah satu korban masih memegang setang sepeda motor dan terjepit di bawah mobil pikap warna biru.
“Korban laki-laki yang diketahui seorang satpam itu berhasil dievakuasi setelah mengangkat mobil yang menjepitnya, serta dengan menyemprotkan air ke tanah yang menimbunnya,” kata Agus yang memimpin pencarian langsung di lokasi longsor.
Menurut Agus, Tim SAR juga menemukan 2 korban laki-laki yang berada di sekitar mobil pick up tersebut. Proses evakuasi kedua korban ini tidak sulit. Karena cukup dengan menyemprotkan air ke dalam timbunan tanah di sekitar mobil tersebut.
“Sore harinya, pada pukul 15.15 WIB kembali menemukan korban berjenis kelamin perempuan. Korban ditemukan terjepit mobil pickup warna merah. Proses evakuasi korban dilakukan dengan menyemprotkan air ke sekitar jasad korban,” pungkas Agus.

Tingginya Antusias Relawan
Agus mengaku, pencarian hari ini sangat efektif, karena cuaca sangat mendukung. Sehingga dapat melakukan pencarian tanpa kendala yang berarti.
“Pencarian yang dilakukan oleh banyak orang, bahkan data menyebutkan jumlah relawan yang tergabung dalam tim SAR gabungan hingga mendekati angka 1.000 orang,” ungkap dia.
Agus menjelaskan, dalam evakuasi korban tanah longsor ini, Basarnas melibatkan 4 Kantor SAR yakni, Kantor SAR Semarang, Kantor SAR Yogyakarta, Kantor SAR Surabaya, Kantor SAR Bandung dan Basarnas Special Grub (BSG).
  Selain itu, kata Agus, relawan yang turut bergabung dengan Tim SAR gabungan terus bertambah. Berdasarkan data Posko Basarnas di lokasi bencana, Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar ada 34 instansi dan organisai SAR.
“Adapun Tim SAR gabungan terdiri atas Basarnas, TNI, POLRI, BPBD, Tagana, PMI, Wanadri, relawan serta organisasi  SAR lainnya. Untuk sementara operasi SAR dihentikan pada pukul 17.30 WIB dan akan dilanjutkan pada esok hari,” jelas dia.
Sementara menurut On Scane Comander (OSC), Koordinator Tim SAR  gabungan Nyoto Purwato mengatakan, proses evakuasi korban yang berada di dalam mobil memerlukan peralatan khusus dan tenaga rescuer yang benar benar mempunyai keahlian.
“Ketika menemukan korban yang berada di bawah mobil, kita stabilkan dulu mobilnya, kemudian baru kita ambil korbannya. Setelah itu kita lakukan penyemprotan air kepada tumpukan material di sekitar korban yang bertumpuk itu. Sedangkan evakuasi korban yang tertumpuk dan tertimpa mobil menggunakan ekstrikasi,” papar Nyoto.
Terkait banyaknya minat relawan yang ingin bergabung melakukan pencarian, Nyoto mengimbau supaya bekerja aman. Karena medan yang sulit, relawan harus mempunyai kualifikasi rescuer. 
Kalau memang dia belum mempunyai kualifikasi rescuer, imbuh Nyoto, maka tidak diperkenankan melakukan pencarian di medan sulit itu, dikarenakan kondisinya sangat berbahaya. “Kami tidak mengharapkan nantinya akan berakibat buruk ketika teman-teman relawan yang tidak mempunyai kualifikasi tersebut memaksa terjun ke lokasi yang berbahaya itu,” pungkas Nyoto.
 Sejak bencana tanah longsor menimpa kawasan Banjarnegara, Jawa Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 32 orang tewas. Sedangkan 76 orang lainnya diperkirakan masih tertimbun tumpukan lumpur.
Bau Tak Sedap
Bau tak sedap mulai meruap di lokasi longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Aroma menusuk hidung itu diyakini berasal dari jasad korban yang belum ditemukan dan mulai membusuk. “Kita kekurangan sarung tangan latex yang sampai ke siku, masker, dan vaksin. Kondisi jenazah yang mulai membusuk jadi tantangan kita saat ini,” Kata Agus
Menurut Agus, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah vaksin. Vaksin diperlukan agar anggota tim pencari korban tak terjangkit infeksi dan penularan penyakit dari mayat korban. “Saat ini total ada 800-1.000 orang yang melakukan evakuasi. Kami butuh sebanyak-banyaknya alat pendukung. Untuk vaksin, kami sudah komunikasikan dengan Wakil Bupati. Mungkin sore nanti akan turun,” terang Agus.

Tim evakuasi terus mencari korban longsor
Pencarian korban longsor Banjarnegara sudah masuk hari keempat. Siang tadi, pencarian korban sempat disetop sementara karena lokasi kejadian diguyur hujan lebat. Tapi, kini sudah dilanjutkan lagi.
Masih ada puluhan korban lain yang belum bisa diangkat dari timbunan tanah. Di sisi lain, jumlah akibat longsor saat ini berjumlah 1.145 jiwa. Mereka tersebar di 10 titik pengungsian. Kementerian Sosial bersama BPBD dan relawan telah mendirikan dapur umum untuk melayani kebutuhan dasar pengungsi.
Kementerian PU juga mengerahkan 15 alat berat untuk membuka jalan yang tertimbun longsor. Sekitar 300 meter jalan tertimbun longsor hingga ketebalan 2-3 meter. Tim gabungan dari Tim Reaksi Cepat BNPB, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, dunia usaha, relawan, dan masyarakat hingga saat ini bahu membahu melakukan panaganan darurat.
Sementara  Kepala Badan “Search and Rescue” Nasional (Basarnas) Marsekal Madya F.H. Bambang Sulistyo melihat banyak tanah di sekitar bukit yang longsor di Dusun Jemblung, Kabupaten Banjarnegar, Jawa Tengah, sudah mulai terkelupas. “Padahal, di bawah tanah yang mulai terkelupas itu terdapat rumah-rumah penduduk,” kata Bambang .
Bambang melihat kondisi tersebut saat melakukan pantauan dari udara dengan menggunakan helikopter Basarnas. Menurut Bambang, rumah-rumah penduduk itu tidak hanya berada di bawah tetapi juga di atas bukit yang longsor sehingga sangat rawan. “Saya melihat dari udara bahwa sebenarnya memang benar apa yang disampaikan oleh beberapa pejabat sebelumnya, di Banjarnegara ini banyak sekali potensi untuk longsor,” katanya.
Dia mengharapkan pemerintah daerah memikirkan kondisi tersebut sehingga dapat mengurangi potensi korban meskipun terjadi longsor. Terkait pencarian korban meninggal dunia, dia mengakui bahwa pada awal operasi terdapat kendala di lapangan, yakni masalah akses masuk ke lokasi dan kondisi cuaca.
Terkait upaya pencarian korban pada hari ketiga, dia mengatakan bahwa operasi pencarian untuk sementara dihentikan sejak pukul 14.00 WIB karena terjadi hujan. Berdasarkan data sementara di Posko Induk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, jumlah jenazah yang telah ditemukan sebanyak 50 orang terdiri 36 laki-laki dan 14 perempuan.
Kalau memang dia belum mempunyai kualifikasi rescuer, imbuh Nyoto, maka tidak diperkenankan melakukan pencarian di medan sulit itu, dikarenakan kondisinya sangat berbahaya. “Kami tidak mengharapkan nantinya akan berakibat buruk ketika teman-teman relawan yang tidak mempunyai kualifikasi tersebut memaksa terjun ke lokasi yang berbahaya itu,” pungkas Nyoto.
 Sejak bencana tanah longsor menimpa kawasan Banjarnegara, Jawa Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 32 orang tewas. Sedangkan 76 orang lainnya diperkirakan masih tertimbun tumpukan lumpur.

Bau Tak Sedap
Bau tak sedap mulai meruap di lokasi longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Aroma menusuk hidung itu diyakini berasal dari jasad korban yang belum ditemukan dan mulai membusuk. “Kita kekurangan sarung tangan latex yang sampai ke siku, masker, dan vaksin. Kondisi jenazah yang mulai membusuk jadi tantangan kita saat ini,” Kata Agus
Menurut Agus, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah vaksin. Vaksin diperlukan agar anggota tim pencari korban tak terjangkit infeksi dan penularan penyakit dari mayat korban. “Saat ini total ada 800-1.000 orang yang melakukan evakuasi. Kami butuh sebanyak-banyaknya alat pendukung. Untuk vaksin, kami sudah komunikasikan dengan Wakil Bupati. Mungkin sore nanti akan turun,” terang Agus.

Tim evakuasi terus mencari korban longsor
Pencarian korban longsor Banjarnegara sudah masuk hari keempat. Siang tadi, pencarian korban sempat disetop sementara karena lokasi kejadian diguyur hujan lebat. Tapi, kini sudah dilanjutkan lagi.
Masih ada puluhan korban lain yang belum bisa diangkat dari timbunan tanah. Di sisi lain, jumlah akibat longsor saat ini berjumlah 1.145 jiwa. Mereka tersebar di 10 titik pengungsian. Kementerian Sosial bersama BPBD dan relawan telah mendirikan dapur umum untuk melayani kebutuhan dasar pengungsi.
Kementerian PU juga mengerahkan 15 alat berat untuk membuka jalan yang tertimbun longsor. Sekitar 300 meter jalan tertimbun longsor hingga ketebalan 2-3 meter. Tim gabungan dari Tim Reaksi Cepat BNPB, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, dunia usaha, relawan, dan masyarakat hingga saat ini bahu membahu melakukan panaganan darurat.
Sementara  Kepala Badan “Search and Rescue” Nasional (Basarnas) Marsekal Madya F.H. Bambang Sulistyo melihat banyak tanah di sekitar bukit yang longsor di Dusun Jemblung, Kabupaten Banjarnegar, Jawa Tengah, sudah mulai terkelupas. “Padahal, di bawah tanah yang mulai terkelupas itu terdapat rumah-rumah penduduk,” kata Bambang .
Bambang melihat kondisi tersebut saat melakukan pantauan dari udara dengan menggunakan helikopter Basarnas. Menurut Bambang, rumah-rumah penduduk itu tidak hanya berada di bawah tetapi juga di atas bukit yang longsor sehingga sangat rawan. “Saya melihat dari udara bahwa sebenarnya memang benar apa yang disampaikan oleh beberapa pejabat sebelumnya, di Banjarnegara ini banyak sekali potensi untuk longsor,” katanya.
Dia mengharapkan pemerintah daerah memikirkan kondisi tersebut sehingga dapat mengurangi potensi korban meskipun terjadi longsor. Terkait pencarian korban meninggal dunia, dia mengakui bahwa pada awal operasi terdapat kendala di lapangan, yakni masalah akses masuk ke lokasi dan kondisi cuaca.
Terkait upaya pencarian korban pada hari ketiga, dia mengatakan bahwa operasi pencarian untuk sementara dihentikan sejak pukul 14.00 WIB karena terjadi hujan. Berdasarkan data sementara di Posko Induk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, jumlah jenazah yang telah ditemukan sebanyak 50 orang terdiri 36 laki-laki dan 14 perempuan.(**)

Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

 

 

 

Maraknya tindak pidana korupsi yang melibatkan birokrat, legislatif dan juga pengusaha menjadi keprihatinan bersama. Di Banjarnegara sendiri tercatat beberapa kasus tindak pidana lorupsi yang ditangani aparat penegak hukum, baik yang sudah ada putusan pengadilan maupun masih dalam proses persidangan.

Read more: Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

BPJS dan Harapan Baru

LAPORAN UTAMA
BPJS dan Harapan Baru
di Bidang Kesehatan
Tahun baru, semangat baru. Agaknya pameo ini dipahami betul oleh Pemerintah dimana mulai 1 Januari 2014 ini, sebuah kebijakan revolusioner di bidang kesehatan dasar mulai diterapkan bagi seluruh penduduk Indonesia. Karena sejak tanggal 01 Januari tersebut di Indonesia mulai berlaku sebuah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diklaim terbagus dan terbesar di Asia.

Read more: BPJS dan Harapan Baru

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan