Mon10252021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Laporan Utama

laporan utama

Seleksi Ketenagaan Profesional Kesehatan Baru pada RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, telah melaksanakan seleksi penerimaan tenaga harian lepas (THL) bidang
kesehatan yang dilaksanakan hari Senin, 11/01/2015 bertempat di Ruang aula lantai 3 Setda Kabupaten
Banjarnegara.
Proses seleksi ketenagaan diikuti 736 pelamar dan yang memenuhi persyaratan administrasi sejumlah 454 orang.
Selengkapnya rincian pelamar adalah sebagai berikut :
Dilihat dari jumlah pelamar, maka yang tertinggi adalah tenaga bidan sejumlah 264 orang disusul D3
keperawatan, S1 keperawatan, Nutrisionis dan apoteker.
Sedangkan kebutuhan ketenagaan professional kesehatan di RSUD Hj. Anna Lasmanah untuk tahun 2016 terdiri
dari beberapa formasi, antara lain : dokter anestesi, perawat anestesi, bidan, perawat, nutrisionis dan apoteker
sejumlah 38 formasi. Kebutuhan tenaga professional kesehatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
adanya kenaikan jumlah kunjungan dan bertambahnya ruang pelayanan rawat inap baru yaitu VVIP A dan
penambahan jumlah tempat tidur sebanyak 25 buah, gedung PICU dan NICU serta pelayanan Haemodialisis yang
direncanakan mulai operasional pada bulan Maret 2016.
Dari data pelamar pada tabel 1 dan data informasi  kebutuhan ketenagaan profesional di atas, maka yang belum
terisi formasinya adalah ketenagaan anestesi baik dokter maupun perawatnya. Selengkapnya, kebutuhan ketengaan
professional  kesehatan pada tabel 2.
Dengan adanya kekosongan pelamar pada ketengaan anestesi, maka pihak BRSUD Hj. Anna Lasmanah Kabupaten
Banjarnegara akan terus berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Daerah untuk pengisian kebutuhan ketenagaan
dimaksud. (why).

Himbauan Tanam Serentak Sulit Terealisasi

Imbauan agar petani bisa menanam padi serentak pada masa tanam pertama (MT1) sulit direalisasikan. Pasalnya,
sebagian lahan sawah saat ini masih ada yang belum panen.
Kepala Dinas Pertanian , Perikanan Dan Peternakan Nurudin mengatakan imbauan kepada petani menanam padi
serentak kerap disampaikan kepada petani.
Namun pada praktiknya memang sulit terealisasi di lapangan. ’’Pada musim tanam ini kami imbau petani
menanam serentak, tapi dari laporan yang masuk masih banyak yang belum tanam,’’ katanya, Kamis (26/11).
Menurutnya, salah satu faktor petani belum bisa memulai tanam, karena masih banyak lahan sawah yang belum
panen.
Tanaman tersebut merupakan tanaman pada musim tanam ketiga periode masa tanam 2014-2015. ’’Karena
masih menunggu panen, untuk menanam di MT1 ini belum bisa,’’ungkapnya. Mulai Desember Setya
menambahkan, berdasarkan laporan yang masuk dari petugas di tiap kecamatan, baru sebagian saja yang sudah
mulai tanam padi.
Rencana tanam dari beberapa kecamatan ada yang dilaporkan akan dimulai bulan Desember. ’’Ada juga yang
sampai bulan Januari dan Februari,’’jelasnya.
Dia mencontohkan, laporan dari Kecamatan Purwanegara yang sudah tanam pada bulan November baru sekitar
167 hektare. Pada Desember direncanakan tanam 635,9 hektare dan sisanya 389,9 hektare mulai tanam pada Januari.
’’Jadi, belum bisa tanam serentak pada November seperti yang diharapkan,’’paparnya.
Setya menambahkan, di Kecamatan Banjarmangu juga ada kendala keterbatasan tenaga untuk tanam dan
mengolah lahan. Jadi, beberapa petani menunggu buruh tani menyelesaikan pekerjaan di lahan petani lain. ’’Kondisi
ini kami maklumi, karena kenyataannya seperti itu,’’ lanjutnya.
 Sebelumnya, Ketua Komisi Irigasi Kabupaten Banjarnegara Doni Sutrisno mengungkapkan, musim tanam
pertama (MT 1) kalender tanam 2015-2016 dimulai sejak awal November setelah aliran irigasi kembali normal.
Petani diimbau segera menanam padi untuk MT 1. ’’Irigasi sudah lancar dan hujan juga mulai turun. Karena itu,
kami imbau petani segera menanam,’’ katanya, saat sosialisasi pola tata tanam tahun 2015-2016, Kamis (20/11).
 Jika tanam lebih awal, lanjutnya, petani Banjarnegara diharapkan bisa panen pada awal panen raya sekitar bulan
Maret tahun depan. Dengan demikian, petani bisa mendapatkan hasil jual gabah yang tinggi. ’’Kalau panennya di
awal, biasanya harga gabah masih tinggi. Selain itu, petani juga bisa untuk melanjutkan tanam untuk MT 2,’’
ungkapnya.
(**anhar)

50 Anak Yatim dapat Santunan

Sebanyak 50 anak Yatim dari desa Kebutuh Duwur, Kecamatan Pagedongan, memperoleh dana santunan dari para
hadirin pengajian akbar santunan anak Yatim yang diselenggarakan oleh LKS Al Mukhsinin dan Yayasan Daarul
Yatama Banjarnegara di lapangan desa setempat. Acara utama diisi Pengajian oleh pimpinan Yayasan Daarul
Yatama Habib Alwi bin Muhammad Babud yang didampingi oleh anak-anak Yatim. Demikian dijelaskan oleh
Sekretaris Daarul Yatama Edi Mufidun, di sela-sela kegiatan pengajian beberapa waktu lalu.
“Inti materi ceramah, Habib mengajak hadirin untuk senang merawat anak yatim karena pahalanya yang besar
dan menyisihkan sebagian rejeki untuk kepentingan mereka. Habib juga menceritakan kemuliaan yang diperoleh
seseorang jika senang merawat anak-anak Yatim” katanya.
Kegiatan pengajian Akbar Yayasan Daarul Yatama di Kebutuh Duwur, sambungnya, merupakan hasil kerja
sama Yayasan dengan warga desa setempat. Pengajian akbar ini, kata Edi, merupakan kegiatan ke 24 sepanjang
tahun 2015 yang dilaksanakan di desa-desa di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.
“Yayasan Daarul Yatama telah menyelenggarakan kegiatan pengajian akbar santunan anak Yatim untuk 23 Desa
di Banjarnegara dan 1 desa di Wonosobo dengan total anak yang mendapat santunan sejumlah 926 anak yatim dan
total jumlah uang santunan yang dibagikan kepada mereka sebesar Rp 366.978.800” katanya.
Kegiatan ke 25, lanjutnya, akan dilaksanakan besok pada hari Sabtu tanggal 17 Oktober 2015 di desa Lengkong,
Kecamatan Rakit mulai pukul 20.00 WIB. Silahkan kalau mau menghadiri dan mencari barokah dari menyantuni
anak Yatim. “Tujuan kami hanya satu, kami ingin memotivasi umat Islam pada umumnya untuk mencintai anak-
anak Yatim” katanya.
Ditambahkan oleh Ketua Pengajian Akbar dari desa Kebutuh Duwur, Ramlianto, metode penggalangan dana
untuk anak-anak Yatim dilakukan langsung di lapangan. Jadi, lanjutnya, penggalanan dana langsung setelah
pengajain dari Habib.
“Biaya penyelenggaraan untuk tenda dan snack diperoleh dari donatur. Sehingga tidak akan mengurangi hak
untuk anak yatim pada nantinya” katanya.
Acara diawali ceramah pengajian dari Habib untuk memotivasi hadirin yang hadir untuk merelakan sebagian
rejekinya bagi anak-anak Yatim. Anak-anak yatim yang tampil juga diminta doanya bagi kesejahteraan bersama dan
juga untuk keselamatan para donatur. Setelah acara ini, lanjutnya, penggalangan dana dibuka. Hadirin dengan
sukarela menyalami dan mencium kepala anak Yatim kemudian menaruh bantuan mereka pada kotak yang
disediakan.
“Dana yang diperoleh dihitung saat itu dan dibagikan saat itu juga. Hal ini untuk menghindari kecurigaan”
katanya.
Pada kegiatan ini, kata Ramli, terkumpul dana sebesar Rp 21.480.000;-. Jumlah ini kemudian dilengkapi bantuan
dana dari Yayasan Daarul Yatama. Sebelum dibagikan uang yang dikemas dalam masing-masing amplop, lanjutnya,
dibuka dan dihitung di hadapan warga kemudian dibagikan langsung pada 50 anak Yatim yang dilakukan di
hadapan warga dan hadirin.
“Masing-masing anak memperoleh dana sebesar Rp 425.000;-” katanya.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menyambut baik upaya yang dilakukan oleh warga masyarakat desa
Kebutuh Duwur bersama LKS Al Mukhsinin dan Yayasan Daarul Yatama. Tanpa gembar-gembor, lanjutnya,
mereka telah melakukan kerja nyata. “Tanpa publikasi besar-besaran Yayasan Daarul Yatama telah melakukan aksi
nyata memberikan bantuan langsung kepada anak-anak Yatim. Tentunya Pemkab mengucapkan terima kasih atas
kepedulian ini karena kegiatan ini jelas sangat membantu tugas pemerintah” katanya.
Untuk satu kecamatan Pagedongan dengan 9 desa saja, lanjutnya, jumlah anak Yatim ada 360 orang. Berapa
jumlah anak-anak yatim di Kecamatan lain dengan jumlah desa yang lebih banyak seperti halnya Banjarmangu
dengan 17 Desa. Bila dalam satu desa terdapat 50 anak yatim, lanjutnya, maka dengan jumlah kelurahan dan desa
sejumlah 278 akan ada lebih dari 10 ribu anak Yatim.
“Pemerintah memang mempunyai tanggung jawab atas anak-anak Yatim, namun jika semua beban diserahkan
kepada Pemerintah, Pemerintah tidak akan mampu. Maka kepedulian semacam ini merupakan hal yang sangat
membantu sekali” katanya. . (**—eko br)

Sepenggal Narasi KSI 2015

Sebenarnya keberanian (atau Tekad) bukanlah sebuah talenta. Keberanian (atau Tekad) adalah 

sebuah keputusan! Keberanian (atau Tekad) bukanlah posisi tanpa rasa takut, keberanian (atau 

Tekad) adalah hadirnya sebuah panggilan – sebuah mimpi yang menarikmu ke sesuatu yang lebih 

dari dirimu sekarang. Maka dari itu, keberanian (atau Tekad) adalah sesuatu yang tidak mungkin 

hilang dari dirimu. Keberanian (atau Tekad) adalah sesuatu yang selalu dapat kamu pilih. Jadi, 

pilihlah keberanian hari ini! (Robert H. Schuller. Hours of Powers : My Daily Book of Motivation and 

Inspiration).

Sebuah Pengantar

Tulisan berikut lebih tepat merupakan serpihan kecil dari buku besar sejarah penyelenggaraan Kongres 

Sungai Indonesia (KSI). Ada dinamika dan romantika besar di dalamnya yang merupakan nafas dan elan 

peristiwa ini. Butuh kedalaman dan kehati-hatian bila ingin menyusunnya menjadi buku besar karena data-

datanya yang tersebar tidak saja ruang dan lingkup, namun juga pelaku-pelakunya. Paling tidak hal itu bisa 

dirujuk pada aktivitas kepanitiaan yang secara verbal berada di dua tempat Banjarnegara dan Semarang. Namun 

di Semarang juga masih terbagi, yang di Wisma Perdamaian dan yang di Gedung Setda Propinsi.

Di Banjarnegara sendiri paling tidak terbagi dalam masing-masing bidang yang terbagi sesuai struktur 

kepanitiaan, namun terbagi juga di setiap kegiatan. Masing-masing memiliki dinamika dan cerita sendiri-sendiri 

seperti bagaimana akhirnya Ekspedisi sungai terwujud, bagaimana Lomba Mancing se Indonesia terlaksana, 

 

bagaimana bidang Seminar akhirnya dapat menyelenggarakan kegiatan dengan baik, bagaimana Jambore akik 

 

terselenggara, bagaimana #JazzswaraX bisa ada, bagaimana pameran lukisan terselenggara, bagaimana Lomba 

 

Foto sungai se Indonesia dapat dilaksanakan, bagaimana pameran terselenggara, bagaimana aksi hijau terwujud, 

dan seterusnya. 

Dinamika dan kronologisnya bila dapat diceritakan dengan baik tentu menjadi narasi besar yang enak 

dibaca. Pembaca bisa belajar sejarah kegiatan, hambatan dan solusi, dan keberhasilan serta kegagalan yang 

terjadi. Didukung foto-foto kegiatan yang yahuud dan pernak-pernik cerita yang ada di dalamnya. 

Mhm…kebayang deh… 

Karena itu, penulis mohon maaf bila tidak semua cerita bisa ditampilkan. Hal ini tidak mengartikan yang 

tidak ada di tulisan ini tidak penting. Seperti ditegaskan di atas, semua penting. Dalam kontek ini, penulis 

dibatasi ruang di media dan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis.

Sekilas Tentang KSI

Kongres Sungai Indonesia (KSI) iku si panganan apa? Kepriwe karepe? Arep ana ribut-ribut apa maning? 

Anggarane ngasi milyaran. Duite sapa? Begitulah sejumlah pertanyaan muncul pada awal-awal 

penyelenggaraan KSI dikomunikasikan ke publik. Kekhawatiran ini bahkan sampai terlahir menjadi diskusi 

“keras” yang diselenggarakan Parlemen Jalanan di Sekretariat KSI. Ilustrasi diskursusnya bahkan sempat 

meramaikan media dalam sejumlah penerbitan. Sedikit panas, namun kegiatan terus berjalan.

Barangkali begitu karakter alamiah untuk hal-hal baru. Apalagi ruang lingkupnya cukup besar. Sehingga 

banyak menarik perhatian, banyak orang bertanya, dan banyak orang yang khawatir. Sedikit tekanan memang. 

Tapi sekali lagi, mungkin begitu dinamikanya untuk hal-hal baru. 

Untuk urusan utama tetap jalan terus. Kata pesan sponsor: Bus Sumber Kencono sopirnya nekat-nekat, 

karena prinsipnya kalau berani menerjang kebanyakan halangan di depan hampir pasti memilih 

menghindar…he..he..he…

Mungkin benar KSI 2015 telah direncanakan secara matang, namun sepanjang ide terus dibombardir di tingkat 

wacana maupun eksekusinya, penulis melihat kegiatan ini sebagai sebuah keberanian mengambil keputusan. 

Meminjam istilah Robert H. Schuller, diantara rasionalitas yang dikerjakan, penyelenggaraan KSI 2015 lebih 

merupakan upaya perwujudan sebuah tekad.  

Sehingga, apa yang muncul kemudian di perjalanan bukan merupakan sebuah kebetulan atau kejutan, namun 

datang karena kuatnya upaya mewujudkan mimpi.

KSI bertemakan “Sungai Sebagai Pusat Peradaban Bagi Kelangsungan Hidup dan Kesejahteraan Manusia” 

resmi terselenggara dari tanggal 26 – 30 Agustus 2015 bertempat di Balai Budaya, Hotel Surya Yudha, dan di 

Pikas, Madukara. Hadir pada acara ini 1000 orang peserta dari Perguruan Tinggi, Pemerintahan dan LSM.

KSI digagas dalam waktu lama

KSI mungkin mimpi. Tapi pelaku-pelakunya tidak hanya hidup di alam kepala. Ide-ide itu mewujud dalam 

praksisnya. Direntang panjang selama satu tahun dari tahun 2014 hingga pelaksanaan kegiatan di bulan Agustus 

2015. Iramanya sempat terhenti beberapa pekan sebab prioritas beralih pada penanganan bencana Longsor 

dusun Jemblung desa Sampang, Kecamatan Karangkobar pada bulan Desember 2014 – Februari 2015. Kira-kira 

bulan April 2015, kegiatan roda kepanitiaan mulai bergerak kembali. 

Ibarat sebuah roda, putarannya mulai dengan perlahan diiringi gerak yang konstan dimana makin mendekati 

tujuan kecepatan putaran roda makin cepat. Dan pada ujungnya, rentang panjang penyelenggaraan KSI ini 

berjalan sukses dengan keberhasilan penyelenggaraan ikon-ikon KSI di berbagai venue. KSI dibuka oleh 

Menteri Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, dihadiri oleh Menteri PU DR. Ir. 

Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M. Sc dan ditutup oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di tepian

Sungai Serayu. Pertandanya adalah Maklumat Serayu dan Pidato Kebudayaan dari Gubernur.

Upaya menghadirkan Jokowi

Presiden Republik Indonesia, Jokowi menjadi target utama tamu VVIP KSI. Ide ini muncul dari teman-

teman Semarang. Kehadiran Presiden sangat penting untuk mengangkat nilai KSI. Meski belum tentu datang, 

namun nama Jokowi sudah ada dalam list paling puncak media publikasi. Ampuh juga resep ini, karena 

orang/perusahaan/swasta menjadi tidak debatabel. 

Dua hari ebelum pembukaan KSI di tanggal 26 Agustus, kabar kedatangan Jokowi masih tetap. Kabar ini 

rupanya cukup ampuh menghebohkan dan menggugah antusiasme masyarakat dan media. Sampai hari H 

pelaksanaan KSI, kabar kehadiran Jokowi masih santer. Meski telah ada pemberitahuan dari Kodim 0704 akan 

pembatalannya. 

Beruntung forum loby Ketua Umum Pelaksana KSI Banjarnegara, Drs. Hadi Supeno, M. Si., yang juga 

Wakil Bupati Banjarnegara berhasil melakukan akses langsung dengan Menko PMK Puan Maharani. Ibu Puan 

Maharani memastikan hadir di Pembukaan KSI. 

Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya keras dan juga sedikit keberuntungan. Saat mulai melakukan 

komunikasi, Wabup mendapatkan kejutan. Rupanya salah satu Deputi Menko PMK adalah mantan staf Wabup 

sewaktu di KPAI. Sehingga banyak membantu dalam hal komunikasi dengan Menko. 

Kebetulan kedua, PT. Bank Rakyat Indonesia Pusat rupanya mempunyai agenda sendiri dengan Menko 

PMK. Peresmian perumahan relokasi korban bencana yang dibangun melalui dana CSR BRI di dusun 

Wadasinatar, Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa akan dilakukan oleh Ibu Puan Maharani. Maka, klop 

lah…

Keberuntungan Masih Mengiringi

Wabup memutuskan, Balai Budaya menjadi sentra kegiatan KSI. Karena itu, Balai Budaya harus dibenahi 

dan didandandi agar pantas dan menarik. Bentuknya apa belum jelas. Terlintas ide di kepala, menghias Balai 

Budaya selaras dengan ikon kegiatan KSI yaitu pohon Aren dan Bambu. Idenya, venue yang ada covered by 

Bamboo. Ide ini terinspirasi dari keberhasilan Bujel dan teman-teman Gayam yang bikin kegiatan pameran 

kampung. Dimana materialnya bambu. Ini menjadi alasan, mengapa David Bujel yang diberi tanggung jawab 

seksi setting dan dekorasi. 

Argumen lain, Panitia ingin melihat wajah baru kegiatan di Banjarnegara dengan cara memberi kesempatan 

seniman muda untuk tampil. Hanya sayang, karena kesibukannya David tidak bisa mengambil tanggung jawab 

itu. Dan itu disampaikannya di hari mendekati pelaksanaan. 

Di tengah galau siapa yang akan mengerjakan bidang kreatif ini, tanpa sengaja terjadi dialog dengan Adib 

pemilik Sanggar Lukis Beruang Gayam, Awek, dan teman-teman lainnya yang tengah dipasrahi untuk mengisi 

pameran lukisan. Rupaya mereka itu bersama David adalah arsitek dan pelaksana pembuatan design pameran di 

pungkuran. Jadi, klop lah.

Gagasan disampaikan kepada mereka bahwa deskripsinya adalah membangun instalasi yang bertemakan Bambu 

dan Aren. Anggap saja Balai Budaya sebagai media. Teman-teman paham. Kami minta mereka buat gambarnya 

disertai penjelasan filosofisnya untuk dipaparkan pada rapat selanjutnya yang akan dihadiri oleh Wabup. Rapat 

dilaksanakan bulan Ramadhan di Ruang Kepala Sekolah SMP N 1.

Kepala Sekolah SMP N 1 Drs. Setyo Pramono, M. Pd., merupakan Koordinator Pameran. Karena kesibukan 

Dia baru bisa gabung dengan Team pada Rapat di SMP N 1. Hebatnya, Dia langsung nyambung dengan teman-

teman seniman muda Banjarnegara. Rupanya pertemuan ini seperti tumbu nemuni tutup. Mas Pram dulu adalah 

seniman lukis di Yogyakarta. Sejiwa, pengalaman dan pengetahuan ditambah lagi kemampuan manajerial yang 

baik, membuatnya sukses mewujudkan pameran yang baik.

Ide dan konsep seniman muda ini kemudian diwujudkan menghias Balai Budaya. Tak dinyana, apresiasi 

masyarakat luar biasa. Berbagai komentar dan pujian disampaikan pada teman-teman muda ini. Bahkan secara 

lantang Anggota DPRD Propinsi Khayatul Makki yang datang ke lokasi menyatakan “Wong Banjar ya ra kalah 

karo seniman kota liya nek diwehi kesempatan. Buktine keton kaya dekorasi Balai Budaya” katanya.

Dirinya berharap, ke depannya seniman-seniman muda Banjarnegara lebih banyak lagi diberi ruang dan 

kesempatan untuk berkarya.

Masalah datang justru untuk urusan dalam. Panitia provinsi tidak mau bergabung dengan daerah untuk 

urusan pameran. Mereka maunya sendiri-sendiri. Lokasi dibagi saja, begitu mintanya. Sehingga aula dalam 

Balai Budaya dipisah menjadi dua. Dari provinsi menampilkan promosi perkantoran seperti Perum Perhutani, 

Dinas PSDA Provinsi, BP DAS, ESDM, dan Sido Muncul. Sedangkan dari Kabupaten menampilkan foto dan 

lukisan bertemakan Sungai. 

Masalah muncul karena teman-teman propinsi menyiapkan pameran dengan perangkat stetsel lebih baik. 

Sementara Banjarnegara dengan dana terbatas tidak mampu berbuat apa-apa. Beberapa hari menjelang tanggal 

26 Agustus, penulis mendapat tamu dari Bappenas yang ingin ikut pameran. Karena berkaitan dengan pameran, 

penulis berkoordinasi dengan koordinatornya. Waktu itu penulis bertanya, apa yang kita punya untuk pameran. 

Rupanya kita hanya punya stetsel pameran dari kayu sederhana dan sudah dicat kuning. Informasi ini membuat 

penulis galau, sebab bila dipajang satu ruang dengan provinsi kita habis. Harus dicara jalan keluarnya. 

Muncullah ide untuk mengecat warna Jati pada papan pameran. Itu cara kita mensiasati dengan biaya murah. 

Telpon masuk, Nancy dari Bappenas dah di Balai Budaya. Segera kami meluncur.

Nancy dari Bappenas merupakan anggota proyek Cita Citarum. Salah satu hasilnya adalah foto-foto luar 

biasa yang sering digunakan untuk promosi lewat pameran foto. Mereka memastikan ikut pameran dan semua 

peralatan akan mereka bawa dari Bandung, termasuk stetsel pameran.  Saat itu, kami sampaikan kesulitan kami 

akan media pameran. Media yang ada kurang layak untuk pameran sekelas ini. Tiba-tiba ada tawaran dari 

Nancy, bagaimana jika media semua dari mereka. Memang keberuntungan datannya tidak tahu dari arah mana 

dan seringnya dari arah yang tidak terduga-duga. Wow…jadi klop lah. 

Hasilnya seperti yang telah kita tonton. Banyak pengunjung, peserta dan sejumlah tamu yang hadir tidak 

menyangka, di Banjarnegara ada pameran yang bisa dikemas sebagus itu. Kesan ini pun ada di Koordinator 

Pameran Setyo Pramono yang tiap malam selalu menempani anak buahnya lembur hingga pagi di Balai Budaya. 

“Sak ngertiku, nembe iki ono pameran neng sek nonton ngasi antri pengen ndelok. Isuk tekan sore. Padahal ro 

ana surat perintah kanggo sekolah-sekolah dikon nonton ki…”. 

Cerita dari Sejumlah Venue

Jazz SwaraX 

Agenda acara Jazz swaraX itu muncul belakangan pada pertengahan bulan Agustus usai gelaran Dieng 

Culture Festival (DCF). Kehadirannya dimaksudkan untuk memberi warna lain hiburan yang telah ada. 

Pilihannya Jazz yang jarang tampil dibandingkan Musik Dangdut yang sangat populis di masyarakat. 

Kehadirannya juga untuk memberi apresiasi bagi publik genre musik lain selain dangdut. 

Dalam sambutan pengantar kegiatan, Wabup Drs. Hadi Supeno, M. Si., juga menyinggung hal ini. Dia 

merasa surprise dengan berjubelnya penonton #jazzswaraX. 

“Sungguh saya surprise dengan begitu banyaknya penonton. Sebab malam ini pagelaran musik Jazz bukan 

dangdut yang sudah familiar sekali di tengah masyarakat” katanya. 

Rencanaya, pengisi acara selain pemenang lomba band, ada juga group jazz dari SMA N 1, group musik 

chicken soul, dan puncak acaranya adalah Band Jateng dengan penampilan istimewa saxoponist Nano Tirto 

yang juga Dirut Bank Jateng. Namun, peristiwa sepekan menjelang pementasan merubah rencana yang telah 

matang itu. 

Sepekan sebelum hari H, ada kegiatan rapat KSI bersama Gubernur di Semarang. Usai acara Wabup 

menemui Dirut Bank Jateng, Nano Tirto, di kantornya. Pertemuan khusus empat mata. Keluar dari pertemuan, 

Wabup nampak sumringah. Dia bersyukur menyempatkan waktu untuk bertemu Nano malam itu. Ternyata 

Nano pada hari Jumat tanggal 28 Agustus itu ada acara di Jakarta. Namun sebagai ganti panitia memperoleh 

kejutan luar biasa. Bank Jateng menghadiahi artis Ibukota Mus Mujiono sebagai bintang tamu #JazzswaraX. 

Woow…keren..

Kejutan lain datang di awal acara, Menteri Pekerjaan Umum Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M. Sc 

tampil sebagai drumer berkolaborasi dengan anak-anak SMA N 1 Banjarnegara membawakan sejumlah lagu. 

Kalau tidak cermat betul, penonton tidak akan mengerti kalau penabuh drumnya seorang Menteri. Pertama, 

karena pakaian casual beliau dengan kaos yang dibungkus kulit bercelanakan Jean.

Kedua, tidak seperti masa orde baru, masyarakat sekarang kurang begitu mengenal jajaran para Menteri. Kecuali 

mereka yang berhubungan dekat dengan tugas-tugas kementrian yang diampu Menteri tersebut ataupun 

Menterinya yang populer di media.

Maka tampillah format penampilan #jazzswaraX seperti yang telah kita nikmati. Meski kehadiran saxoponis 

profesional Nano Tirto urung, namun penonton memperoleh ganti yang sepadan. Penampilan Mus Mujiono 

mampu menyihir 1500 orang yang hadir menonton #jazzswaraX. Tak lupa, Sang Maestro meluangkan sessionya 

untuk duet dengan Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., yang dengan apik membawakan lagu Juwita Malam. 

Malam itu, halaman balai budaya seluas 100 m2 menyemut ditutupi lautan manusia dan kendaraan.

Sungguh malam yang indah. Diantara dera kelelahan pekerjaan, di alam terbuka berhias cahaya rembulan, di 

tepian sungai serayu, sungguh nikmat betul menonton dan menikmati pertunjukan musik secara live. 

Atmosfernya beda dengan menonton TV ataupun mendengarkan lewat audio player. 

Memang sungguh profesional Sang Maestro. Meski tampil di kota kecil, dia tak tampak mengurangi energi 

penampilanya. Jadi mirip nonton konser musik internasional. Malam itu, Banjarnegara sungguh luar biasa 

Bro…. 

Lomba Foto

Saat diberi tugas menyelenggarakan lomba foto tentang sungai tingkat nasional, penulis tidak kebayang 

bagaimana melakukannya. Sebab Wabup wanti-wanti tidak ada dana untuk itu. Dana harus cari sendiri. 

 

Duh….Gimana ya. Ini lomba skalanya tingkat nasional. Tentu hadiahnya juga harus sepadan. Darimana uang 

datang….Khawatir juga, saat lomba telah dipublikasikan tidak ada dana penyokongnya…itu di bulan Oktober 

2014… 

Pikiran ini bolak balik mengganggu saya. Tentu tidak boleh terus begini. Saya tidak boleh berada di 

persimpangan. Kalau berani ya terus, kalau ragu mundur. Maka saya bulatkan tekad. Mengambil waktu khusus, 

langkah pertama yang saya ambil adalah berdoa pada Allah SWT. Menyerahkan semua beban ini pada 

Nya…memohon pertolongan-Nya. Bismillahirrohmanirrohim…

Di sisi lain, tugas tersebut sangat menantang karena secara pribadi, saya juga ingin memberikan sesuatu pada 

teman-teman komunitas fotografi di Banjarnegara KPFB yang belum lama terbentuk. Saya mempunyai 

keyakinan, kalau event nasional ini berhasil dapat memberikan kepercayaan diri pada mereka untuk duduk sama 

rendah, dan berdiri sama tinggi dengan teman-teman komunitas foto dari kota-kota lain. Ke depan, saya akan 

bangga menyaksikan banyak fotografer berbakat lahir dari Banjarnegara.

Sampai sekian bulan, tugas tersebut belum memiliki arah yang jelas sebab belum ada dana yang masuk. Pada 

suatu saat terlintas ide, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto Rahmat Hernowo adalah penggemar 

fotografi. Mengapa tidak mencoba untuk mengajukan proposal kepadanya. Gagasan itu segera saya sampaikan 

pada Wabup, sebab dalam pikiran saya tingkatan itu bukan level saya. Maka, pada suatu hari yang ditentukan 

Wabup dengan luar biasa datang langsung menemui Pak Rahmat di kantor BI Purwokerto. 

Maka, sekali lagi, birokrasi yang dalam ranah reguler panjang dan ruwet, pangkas seketika saat dua manager 

dapat bertemu langsung. Hari itu juga kami dapat kepastian, BI akan mensupport kegiatan lomba foto tingkat 

Nasional KSI. Alhamdulillah….

Tinggal tugas berikutnya menggaet sponsor tambahan untuk memenuhi anggaran penyelenggaraan Lomba. 

Untuk ini saya berkonsultasi dengan teman profesional fotografi Budi Prast yang terbiasa menangani lomba 

foto. PT. Datascrip Canon Indonesia menjadi pilihan kami. Gayung bersambut, Canon acc, maka klop 

lah…lomba foto Sungai tingat nasional KSI menjadi tambah bergengsi dengan keterlibatan Canon.

Peserta Lomba Foto berjumlah 220 orang dengan 440 karya tentang Sungai yang masuk. Obyek fotonya 

adalah aktivitas manusia yang berkaitan dengan sungai dari seluruh Indonesia. Ada yang berasal dari Papua, 

Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, Bangka 

Belitung, Riau, Sumsel, Jambi, Aceh, Medan, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa 

Timur. 

Foto-foto yang masuk menggambarkan kondisi sungai kekinian di Indonesia. Ada yang ditampilkan 

indahnya, dan sebaliknya ada yang tampil sisi buruknya. Kumpulan foto yang kemudian terhimpun dalam 

katalog foto KSI diharapkan menjadi pustaka Ilmu dan pengetahuan serta sejarah tentang Sungai Indonesia 

kekinian.

Tentu saja peran dari teman-teman komunitas KPFB sangat besar atas keberhasilan lomba foto ini. Mereka, 

teman-teman muda ini, punya gairah dan hasrat kuat dalam dunia fotografi dan IT yang berkait erat dengannya. 

Sistem online dan penyebaran jaringan medsos adalah sumbangan besar teman-teman yang memungkinkan 

publikasi lomba ini melanglang dunia, tidak cuma se Indonesia. Hal ini dibuktikan adanya komunikasi dengan 

fotografer dari Belanda, Perancis, Thailand, Vietnam, Malasya, dan Sovyet. 

Lomba Mancing se Indonesia

Lomba Mancing diberi judul Kopdar Waduk Mrica 2015. Peserta Kopi darat atau Kopdar berjumlah 300 orang 

yang datang dari seluruh Indonesia. Ada yang datang dari Kalimantan, Sumatera, dan hampir semua peserta dari 

seluruh Pulau Jawa. Acara ini juga diliput langsung oleh Mata Pancing dengan hostnya yang cantik dan seksi 

Jenifer. Liputannya telah disiarkan di Acara Mata Pancing edisi hari Sabtu tanggal 26 September 2015 di MNC 

TV.  (eko_br)

gilar-gilar

Peran CSR dalam Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat

Tanggung jawab sosial perusahaan, lebih dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility), kini menjadi salah satu topik fenomenal yang merebak dimana-mana. Perusahaan sebagai bagian dari masyarakat selalu menginginkan adanya keberlanjutan lingkungan hidup tempatnya melakukan usaha.

Read more: Peran CSR dalam Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat

Strategi Pengembangan Potensi Lokal Daerah

Dengan telah diresmikannya gedung DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 10 Pebruari 2015 oleh Bupati Banjarnegara menandakan kesiapaan Pemerintah Daerah dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif . Pemanfaatan gedung baru tersebut diharapakan sebagai wadah berbagai produk kerajinan kreasi masyarakat yang  mampu menjembatani produsen dan konsumen serta  pembeli dalam skala besar. 

Tujuan pembangunan ekonomi pada umumnya adalah peningkatan pendapatan riil per kapita serta adanya unsur keadilan atau pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha. Dengan mengetahui sasaran dan tujuan pembangunan, serta kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh suatu daerah, maka strategi pengembangan potensi yang ada akan lebih terarah dan strategi tersebut akan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah yang akan melaksanakan kegiatan usaha didaerah yang bersangkutan.

Dalam penerapan strategi pembangunan ekonomi daerah, tentunya peran pemerintah cukup penting dan menonjol, paling tidak ada beberapa peran yang dapat dijalankan oleh pemerintah dalam pembangunan ekonomi daerah.

Pertama, sebagai pelopor dan koordinator dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi. Sebagai pelopor, pemerintah daerah melalui BUMD, dituntut untuk mempelopori penggalian sumber daya alam yang bernilai ekonomis yang belum tersentuh oleh pihak lain. Selain itu, pemerintah daerah harus mengkoordinasikan di antara berbagai pihak yang mengusahakan pemanfaatan sumber daya ekonomi yang dimiliki daerah. Sebagai koordinator pemerintah daerah harus dapat melibatkan dan mengkoordinasikan berbagai dinas terkait, pengusaha swasta, UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) serta masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi daerah, hal ini terkait dengan telah diresmikannya gedung baru DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah)  yang diharapkan sebagai wadah berbagai produk kerajinan kreasi masyarakat yang  bertujuan menjembatani produsen dan konsumen .

Kedua, sebagai intrepereneur pemerintah daerah dituntut untuk terlibat secara aktif dan inovatif dalam mendorong aktivitas dan kreatifitas menjalankan bisnis di daerah. Banyaknya potensi sosial budaya di masyarakat Banjarnegara merupakan asset yang perlu untuk digali sebesar-besarnya, seperti kegiatan sosial masyarakat dan kesenian tradisional yang unik dari berbagai daerah di wilayah Banjarnegara, contohnya Nyadaran Gede, Gugur gunung,  tari Amplang, Ebeg, Rodad, Jepin, Dayak dll,  kalau dikemas secara profesional merupakan suguhan yang mempunyai  nilai jual yang menarik seperti kegiatan Dieng Culture Festival.

Ketiga, sebagai stimulator dan fasilitator. Pemerintah harus dapat merangsang investor untuk masuk ke daerahnya guna pemanfaatan sumber daya di daerahnya dengan memberikan berbagai insentif fiskal, mempermudah proses perijinan,  pembangunan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan, serta menjaga kondisi ekonomi makro daerah secara kondusif. Dengan sistem one stop service ( sistem pelayanan satu pintu) yang diberlakukan akan sangat merangsang minat para investor untuk berinvestasi, dan tidak menyulitkan proses perijinan.

Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan orang banyak. Pengusaha mempunyai kemampuan mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai inisiatifnya, memenuhi kebutuhan itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah. Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.

Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Prinsip-prinsip manajemen pembangunan yang pro-bisnis adalah antara lain sebagai berikut.

1. Menyediakan Informasi kepada Pengusaha

Pemerintah daerah dapat memberikan informasi kepada para pelaku ekonomi di daerahnya ataupun di luar daerahnya kapan, dimana, dan apa saja jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang akan datang. Dengan cara ini maka pihak pengusaha dapat mengetahui arah kebijakan pembangunan daerah yang diinginkan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan dalam kegiatan apa usahanya akan perlu dikembangkan. Pemerintah daerah perlu terbuka mengenai kebijakan pembangunannya, dan informasi yang diterima publik perlu diupayakan sesuai dengan yang diinginkan.

2. Memberikan Kepastian dan Kejelasan Kebijakan

Salah satu kendala berusaha adalah pola serta arah kebijakan publik yang berubah-ubah sedangkan pihak investor memerlukan ada kepastian mengenai arah serta tujuan kebijakan pemerintah. Strategi pembangunan ekonomi daerah yang baik dapat membuat pengusaha yakin bahwa investasinya akan menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Perhatian utama calon penanam modal oleh sebab itu adalah masalah kepastian kebijakan. Pemerintah daerah harus menghindari adanya tumpang tindih kebijakan jika menghargai peran pengusaha dalam membangun ekonomi daerah. Ini menuntut adanya saling komunikasi diantara instansi-instansi penentu perkembangan ekonomi daerah. Dengan cara ini, suatu instansi dapat mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan instansi lain, sehingga dapat mengurangi terjadinya kemiripan kegiatan atau ketiadaan dukungan yang diperlukan.

Pengusaha juga mengharapkan kepastian kebijakan antar waktu. Kebijakan yang berubah-ubah akan membuat pengusaha kehilangan kepercayaan mengenai keseriusannya membangun ekonomi daerah. Pengusaha daerah umumnya sangat jeli dengan perilaku pengambil kebijakan di daerahnya. Kerjasama yang saling menguntungkan mensyaratkan adanya kepercayaan terhadap mitra usaha. Membangun kepercayaan perlu dilakukan secara terencana dan merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah.

3. Mendorong Sektor Jasa & Perdagangan

Sektor ekonomi yang umumnya bekembang cepat di kota-kota adalah sektor perdagangan kecil dan jasa. Sektor ini sangat tergantung pada jarak dan tingkat kepadatan penduduk. Persebaran penduduk yang berjauhan dan tingkat kepadatan penduduk yang rendah akan memperlemah sektor jasa dan perdagangan eceran, yang mengakibatkan peluang kerja berkurang. Semakin dekat penduduk, maka interaksi antar mereka akan mendorong kegiatan sektor jasa dan perdagangan. Seharusnya pedagang kecil mendapat tempat yang mudah untuk berusaha, karena telah membantu pemerintah daerah mengurangi pengangguran. Pada waktunya pengusaha kecil akan membayar pajak kepada pemerintah daerah. Dengan menstimulir usaha jasa dan perdagangan eceran, pertukaran ekonomi yang lebih cepat dapat terjadi sehingga menghasilkan investasi yang lebih besar. Adanya banyak pusat-pusat pedagang kaki lima yang efisien dan teratur akan menarik lebih banyak investasi bagi ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Sebagian besar lapangan kerja yang ada dalam suatu wilayah diciptakan oleh usaha kecil dan menengah. Namun usaha kecil juga rentan terhadap ketidakstabilan, yang terutama berkaitan dengan pasar dan modal, walaupun secara umum dibandingkan sektor skala besar, usaha kecil dan menengah lebih tangguh menghadapi krisis ekonomi. Pemerintah daerah perlu berupaya agar konjungtur ekonomi tidak berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha kecil.

4. Meningkatkan Daya Saing Pengusaha Daerah

Kualitas strategi pembangunan ekonomi daerah dapat dilihat dari apa yang akan dilakukan pemerintah daerah dalam menyiapkan pengusaha-pengusaha di daerahnya menghadapi persaingan global. Globalisasi (atau penduniaan) akan semakin mempengaruhi perkembangan ekonomi daerah dengan berlakunya perjanjian AFTA, APEC, MEA dan lain-lain. Mau tidak mau, siap atau tidak siap perdagangan bebas akan menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat di semua daerah, oleh sebab itu perlu dilakukanupaya untuk menyiapkan pengusaha daerah. Pengusaha dari negara maju telah siap atau disiapkan sejak lama. Pengusaha daerah juga perlu diberitahu konsekuensi langsung dari ketidaksiapan menghadapi perdagangan bebas. Meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan persaingan itu sendiri. Ini berarti perlakuan-perlakukan khusus harus ditinggalkan. Proteksi perlu ditiadakan segera ataupun bertahap. Pengembangan produk yang sukses adalah yang berorientasi pasar, ini berarti pemerintah daerah perlu mendorong pengusaha untuk selalu meningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis. Peraturan perdagangan internasional harus diperkenalkan dan diterapkan. Perlu ada upaya terencana agar setiap pejabat pemerinah daerah mengerti peraturan-peraturan perdagangan internasional ini, untuk dapat mendorong pengusaha-pengusaha daerah menjadi pemain-pemain yang tangguh dalam perdagangan bebas, baik pada lingkup daerah, nasional maupun internasional.

5.  Membentuk Ruang yang Mendorong Kegiatan Ekonomi

Membentuk ruang khusus untuk kegiatan ekonomi akan lebih langsung menggerakkan kegiatan ekonomi. Pemerintah daerah perlu berusaha mengantisipasi kawasan-kawasan mana yang dapat ditumbuhkan menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Kawasan-kawasan yang strategis dan cepat tumbuh ini dapat berupa kawasan yang sudah menunjukkan tanda-tanda aglomerasi, seperti sentra-sentra produksi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan; klaster industri, dsb. Kawasan cepat tumbuh juga dapat berupa kawasan yang sengaja dibangun untuk memanfaatkan potensi SDA yang belum diolah, seperti yang dulu dikembangkan dengan sistim permukiman transmigrasi. Kawasan-kawasan ini perlu dikenali dan selanjutnya ditumbuhkan dengan berbagai upaya pengembangan kegiatan ekonomi, seperti pengadaan terminal agribisnis, pengerasan jalan, pelatihan bisnis, promosi dsb. Pengembangan kawasan-kawasan strategis dan cepat tumbuh ini perlu dilakukan bersamaan dengan upaya peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan keberdayaan masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era otonomi daerah dewasa ini, kecepatan dan optimalisasi pembangunan wilayah (daerah) tentu akan sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi (baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia). Keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang sangat berarti dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah.

 

Oleh : KUMBOKARNO

736 Honorer K II Mendapat SK CPNS

Sebanyak 747 honorer Kategori II Senin (2/1) menerima SK pengangkatan CPNSD Banjarnegara.  SK diberikan secara simbolis oleh Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo di Pendapa Dipayuda Adigraha. Dari jumlah formasi tersebut Kategori  II  tahun 2013 tenaga guru paling banyak yaitu 297 orang, tenaga kesehatan 6 orang dan tenaga teknis sebanyak 71 orang. Sama dengan tahun 2013 formasi honorer Kategori II tahun 2014, tenaga guru juga berjumlah 297 orang, Kesehatan 6 orang dan tenaga teknis  71 orang. “Untuk Formasi khusus dokter tahun 2014 dokter umum sebanyak 5 orang, dokter gigi 1 orang dan dokter spesialis sebanyak 3 orang,” kata Kepala Badan Kepegawain Daerah Banjarnegara Tito Agus Wigono. Tito menambahkan jumlah tenaga honorer kategori II Banjarnegara yang terdata di kementrian PAN dan Reformasi Birokrasi sebanyak 1.892 orang. Pada tahun 2013 tenaga honorer Kategori II mengikuti seleksi yang diadakan oleh Panselnas, dan dari hasil seleksi 747 dinyatakan lulus untuk mengisi  formasi tahun 2013 dan 2014. Pada tahun 2014 Pemkab Banjarnegara juga mendapatkan formasi khusus dokter sebanyak 9 orang. Dari 747 tenaga honorer K II  dinyatakan lulus seleksi dan melakukan pemberkasan di kantor regional Yogyakarta. Dan dari hasil pemberkasan 736 orang keluar persetujuan NIP nya dan sisanya 11 orang di nyatakan tidak memenuhi syarat. “Untuk formasi dokter dari 9 formasi , 8 dinyatakan lulus dan 1 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat,” lanjut Tito

Bersyukur Bupati sutedjo pada kesempatan tersebut meminta kepeda honorer yang diangkat menjadi CPNS untuk bersyukur mengingat ribuan orang mengantri untuk menjadi seorang PNS, untuk itu segeralah  berbenah dan melakukan pekerjaan rutin yang telah dilakukan selama ini. “Setelah diterima Saudara nantinya akan ditempatkan sesuai kebutuhan dan kompetensi, jangan kaget bila nanti Saudara ditempatkan di lokasi yang jauh dari tempat tinggal dan hal itu jangan sampai menjadi alasan untuk bermalas malasan dalam menjalankan tugas,” kata Sutedjo Setelah diangkat menjadi CPNS maka selanjutnya akan menjalani masa percobaan, dan berdasarkan undang undang nomer 5 tahun 2014 pasal 64 ayat 1 mensyaratkan masa percobaan selama 1 tahun setelah itu baru dapat diangkat sebagai PNS. “Kata dapat diangkat PNS bukan berarti pasti bisa diangkat, karena ada persyaratan  selama masa percobaan yang dibuktikan dengan penilaian prestasi kerja serta persyaratan lain untuk  mendukung lulus tidaknya dalam masa percobaan, dan sangat mungkin Saudara tidak diangkat menjadi PNS bila tidak memenuhi,”pungkasnya (**anhar)

Bersiap Menyambut Festival Serayu Banjarnegara 2015

Setelah sukses menggelar Festival Serayu Banjarnegara (FSB) pertama  di tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bersiap untuk menggelar FSB 2015 atau FSB kedua. Gelaran spektakuler ini diagendakan pada tanggal 26-31 Agustus mendatang. Agenda wisata yang digelar setiap dua tahun sekali ini, bakal digelar lebih meriah. Pemkab menargetkan pengunjung satu juta lebih, baik wisatawan nusantara maupun manca negara .

Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, belum lama ini mengatakan, kegiatan tersebut, tak lepas dari upaya pihaknya menjadikan Sungai Serayu sebagai ikon pariwisata alternatif di Kabupaten Banjarnegara. “Hal ini untuk menarik kunjungan wisatawan ke Banjarnegara, sekaligus mendorong akselerasi industri kreatif yang kini mulai bermunculan,” ujarnya.

Dalam FSB 2015, di antaranya akan digelar Pesta Parak Iwak, Serayu Expo, Parade Budaya, dan kegiatan pendukung lainnya, seperti Lomba Fotografi Tingkat Nasional dan Banjarnegara Bershalawat. “Serayu Festival juga dalam rangka memeriahkan Visit Jateng 2015,” tambah Hadi Supeno.

Parak Iwak Masih Menjadi Ikon FSB

Hadi Supeno mengatakan, khusus Pesta Parak Iwak, gelaran ini masih menjadi ikon dan akan ditetapkan sebagai puncak FSB. Pesta Parak Iwak merupakan sebuah bentuk pengejawantahan kesadaran masyarakat di sekitar Kali Serayu khususnya masyarakat Banjarnegara yang telah merasakan betapa besar “peran” Kali Serayu. Sungai Serayu bahkan sudah menjadi nadi hidup dan berkembangnya cipta, rasa dan karsa dalam kemajuan baik ekonomi, sosial dan budaya yang dapat dirasakan masyarakat Banjarnegara hingga saat ini. Pesta Parak Iwak ini adalah bentuk perwujudan dari kesadaran dan rasa tanggung jawab masyarakat Banjarnegara untuk nguri-nguri, merawat, melestarikan dan sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Seperti tahun sebelumnya, Pesta Parak Iwak diawali prosesi pengambilan “Ulam Sari Tirta Nyawiji” dari telaga-telaga di Dataran Tinggi Dieng (Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Sewiwi, Sendang Sedayu, Telaga Pengilon, Telaga Warna dan Telaga Cebong). Ulam Sari Tirta Nyawiji ditempatkan dalam bokor “Tumus Pandeleng Ing Manah” kemudian dikirab melalui Kota Batur, Wanayasa, Karangkobar, Banjarmangu dan disemayamkan di Madukara,” jelas Hadi.

Hari berikutnya, lanjut Hadi, Ulam Sari Tirta Nyawiji dikirab ke Sungai Serayu kemudian dilarung. Gelaran Parak Iwak itu akan dikemas secara apik, penuh kreasi, unik dan menarik. Para wisatawan dapat ikut kegiatan gogoh iwak (mencari ikan) bersama di Kali Serayu, makan bareng tumpeng dengan lauk ikan, sambil menikmati hiburan seni budaya khas Banjarnegara.

Kegiatan ini sebagai  bentuk penyadaran bahwa masyarakat Banjarnegara  harus memperlakukan Sungai Serayu dengan lebih baik lagi. Pesan lain adalah agar masyarakat sungai tidak hanya mengambil isi dari sungai, tetapi ikut merawat dan melestarikan keberadaan sungai.

Parak Iwak tahun ini akan digelar di tempat yang sama seperti tahun 2013 yaitu di Sungai Serayu Singomerto, Banjarnegara tanggal 30 Agustus 2015.

l Serayu Expo

Salah satu agenda FSB 2015 yang juga sayang jika dilewatkan adalah Serayu Expo. Event ini akan menyajikan pameran gelar produksi Usaha Mikro Kecil Menengah, produk pertanian, perikanan, peternakan asli Banjarnegara. Selain kegiatan expo, pengunjung yang datang juga dapat menikmati pentas seni yang tidak saja menampilkan seni tradisional Banjarnegara namun juga seni tradisonal daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Tidak ketinggalan pentas musik juga turut menyemarakan panggung Serayu Expo Banjarnegara 2015 yang rencananya akan digelar di Stadion Kolopaking, Parakancanggah, Banjarnegara pada tanggal 26-29 Agustus 2015.

l Parade Budaya

Beda dengan FSB sebelumnya, Parade Budaya dalam Festival Serayu Banjarnegara 2015 akan digelar malam hari, tepatnya tanggal 29 Agustus 2015 di Alun-alun Banjarnegara. Parade Budaya menampilkan berbagai kreatifitas seni dan budaya yang diangkat dari tradisi Banjarnegara yang lahir dari tempo dulu hingga kini. Berbagai tema yang ditampilkan seperti batik carnival khas Gumelem, dawet ayu, brenong kepang, jepin, ujungan dan lain-lain akan menjadi satu agenda menarik dalam rangkaian Festival Serayu Banjarnegara.

l Banjarnegara Bersholawat

Sebagai ungkapan rasa syukur dan pujian untuk sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi Banjarnegara, FSB juga akan menggelar event Banjarnegara Bershalawat. Merupakan event akbar spiritual berupa sholawat massal bersama Syech Habib Abdul Khadir Assegaf. Event ini akan digelar di Alun-alun Banjarnegara pada tanggal 27 Agustus 2015. “Seperti FSB sebelumnya ditarget pengunjung yang datang untuk turut serta bersholawat sebanyak 150 ribu pengunjung,” jelas Wabup Hadi.

Lomba Fotografi

Lomba Fotografi berskala nasional akan digelar dalam Festival Serayu Banjarnegara 2015 yang dijadikan obyek Lomba. Beragam event utama dan event-event pendukung serta sajian pentas seni tradisional, pentas musik yang digelar non stop selama Festival Serayu Banjarnegara 2015 merupakan tantangan bagi para penggemar fotografi untuk dapat menampilkan foto terbaiknya.

Menurut Kabag Humas, Tien Sumarwati, tujuan dari Lomba Fotografi ini adalah untuk mengabadikan dan mempromosikan rangkaian Event FSB 2015 serta destinasi wisata unggulan di Kabupaten Banjarnegara kepada masyarakat di tanah air dan dunia.

“Selain itu, kami juga akan menghimpun dokumen foto pada rangkaian FSB 2015 sebagai aset budaya yang berharga di masa depan, sebagai kelangsungan dari masa kini,” ujarnya.

Yang Membedakan FSB 2013 dan 2015

l  Kongres Sungai Indonesia (KSI)

Sebagai penguat Festival Serayu yang pada awalnya memang digagas untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sungai, tahun ini FSB akan diperkuat dengan satu event pendukung yaitu Kongres Sungai Indonesia (KSI).

Dikatakan Hadi selaku Ketua Paitia, Kongres Sungai berusaha untuk menelorkan inovasi-inovasi baru dalam budaya bersungai dengan segala macam pendekatan yang ujung-ujungnya adalah keselarasan hidup antara warga dan sungai yang hidup berdampingan dan saling mengasihi. “Tujuan dari Kongres Sungai ini utamanya adalah memetakan masalah dan tantangan serta potensi dan kebutuhan pemulihan, penyelamatan, pengamanan dan pengelolaan sungai beserta kawasan penyangga dan tersangga,”ujarnya.

Selain itu, lanjut Hadi, nantinya Kongres Sungai ini akan mengumpulkan seluruh daerah di Indonesia yang peduli akan keberadaan sungai untuk menyusun konsep dasar dan rancang kerja strategis pemulihan, penyelamatan, pengamanan dan pengelolaan sungai, beserta kawasan penyangga dan tersangga, sebagai basis penghidupan dan kelangsungan hidup rakyat, bangsa dan negara.

Selain itu, tambah Hadi, nantinya kongres ini mempunyai gol untuk membangun “poros masyarakat sungai Indonesia” sebagai jejaring kerja pemulihan, penyelamatan, pengamanan dan pengelolaan sungai, beserta kawasan penyangga dan tersangga, berbasis masyarakat, antar daerah/kewilayahan maupun pemangku kepentingan lainnya. Sesungguhnya, sambung  Hadi Supeno, Banjarnegara kaya akan berbagai obyek wisata, dan wisata air adalah salah satu unggulannya. Terbukti dengan penyelenggaraan Lomba Arung Jeram Tingkat Nasional dan Internasional yang pernah dilaksanakan di Sungai Serayu, Banjarnegara. “Karena itu, melalui Kongres Sungai ini harapannya bisa membangun sistem dukungan sinergis lintas sektor, lintas kawasan dan lintas pelaku bagi penguatan pengelolaan sungai sebagai pusat peradaban kehidupan rakyat, bangsa dan negara,” tegasnya.

Banjarnegara Banjir Dawet

Dawet ayu telah menjadi ciri khas Banjarnegara. Minuman yang manis menyegarkan ini akan dihidangkan gratis bagi wisatawan ditengah perhelatan Festival Serayu Banjarnegara 2015. “Puluhan pikulan dawet akan meramaikan Pesta Dawet yang menyajikan aneka jenis dawet seperti dawet lele, dawet lidah buaya, dawet ubi ungu, dawet ganyong, dan lain-lain yang murni merupakan hasil kreatifitas masyarakat Banjarnegara,” ujar Sri Mastuti, Kepala Dinperindagkop dan UMKM selaku pemangku kegiatan ini. Event ini akan menjadi pembeda dari FSB sebelumnya selain KSI. Menurut jadwal, Banjarnegara Banjir Dawet akan digelar di Stadion Kolopaking, Parakancanggah, Banjarnegara tanggal 26 Agustus 2015. (** yovi humas)

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan