Tue10192021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Pendidikan

Pendidikan

Belajar Patriotisme Tidak Cukup Hanya Teori

Belajar patriotisme itu tidak cukup hanya dengan teori. Namun harus dipraktekan di lapangan. Caranya mudah dan beragam. Kalau mempunyai karya ilmiah yang membantu mengurangi penderitaan kemanuisaan itu juga bagian dari patriotisme. Demikian disampaikan oleh Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., (28/10) di hadapan peserta Pendidikan Patriotisme, Moral, dan etika yang diselenggarakan oleh Dewan Harian Cabang 45 di Sasana Bhakti Praja.

Read more: Belajar Patriotisme Tidak Cukup Hanya Teori

Tenaga Pendidik Diminta Melaksanakan Kode Etik Guru

 

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo mengajak para guru, dosen dan tenaga kependidikan untuk mengamalkan jati diri PGRI, melaksanakan kode etik guru dan selalu meningkatkan komitmen dan profesionalisme dengan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik dan masyarakat.

 

Kepada Masyarakat kami minta bantuannya untuk memberikan kesempatan terbaik kepadapara guru untuk melaksanakan tugas profesionalnya,” kata Bupati Sutedjo saat membacakan sambutan Ketua umum PB. PGRI pada upacara hari guru Nasional dan HUT PGRI ke -70 tahun 2015 di Lapangan Kecamatan Klampok (25/11).

 

Sutedjo menambahkan sampai saat ini banyak pihak berharap agar PGRI tetap berfungsi seperti awal berdirinya 70 tahun lalu yaitu dijadikan sebagai satu-satunya organisasi profesi guru Indonesia yang menaungi dan berjuang bagi para guru dalam meningkatkan mutu pendidikan.

 

Sebagai organisasi profesi guru, PGRI telah memiliki instrumen penting sebagai bingkai mentalitas dan moralitas guru dalam bekerja yaitu kode etik guru dan dewan kehormatan guru Indonesia (DKGI),” lanjut Sutedjo.

 

Sejak tahun 1973 PGRI telah memiliki kode etik guru yang pada tahun 2008 disesuaikan dengan ketentuan yang di persyaratkan perundang undangan dan terakhir disempurnakan pada tahun 2013.

 

PGRI telah membentuk pengurus DKGI di setiap propinsi dan Kabupaten di Indonesia untuk menegakan kode etik guru. Impelemtasi kode etik guru secara konsekuen menuntun perilaku moral guru Indonesia ke arah guru yang profesional, sejahtera, telindungi serta bermartabat,” tambah Sutedjo.

 

Lebih lanjut Bupati Sutedjo juga meminta Kepada PGRi Banjarnegara untuk ikut berperan dalam rangka mensukseskan Banjarnegara sebagai kabupaten konservasi. PGRI melalui satgas juga diminta lebih berperan nantinya dalam menangani bencana yang kerap terjadi di Banjarnegara.

 

Terpisah Ketua PGRI Banjarnegara Sukirman mengatakan dalam rangka hari guru dan HUT PGRI ke 70 telah dilaksanakn berbagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas guru berupa kegiatan Ilmiah yaituseminar penguatan Demokrasi Pancasila, Diskusi dampak periodisasi kepala sekolah, sosialisasi perlindungan hukum bagi guru.

 

Dalam rangka HUT PGRI dan hari guru tahun ini juga di gelar kegiatan olah raga dan seni, berupa pertandingan bola volley antar anggota PGRI, lomba bidang seni, pertandingan tenis meja, pertandingan bulutangkis, lomba menyanyi solo, donor darahguru dan anggota PGRI, serta pemberian penghargaan PGRI award bagi anggota PGRI,” kata Sukirman.

 

Upacara peringatan Hari guru Nasional dan HUT PGRI ke -70 tahun 2015 juga dimaksudkan untuk meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermartabat dalam peningkatan sumber daya manusia yang bermutu.

 

Peringatan Hari guru Nasional dan HUT PGRI diharapkan mampu membangun dan memperkokoh solidaritas dan kesetiakawanan anggota kepada PGRI sebagai organisasi profesi guru,” tambah Sukirman.(**anhar)

Read more: Tenaga Pendidik Diminta Melaksanakan Kode Etik Guru

Wabup Hadi Supeno Berikan Motivasi 314 Peserta Olimpiade Sains

Wakil Bupati Banjarnegara, Drs. Hadi Supeno, M. Si memang dikenal pandai memberikan motivasi. Pesan-pesan yang menarik, cerdas, diselingi humor-humor segar ini mampu menghidupkan suasana dan membakar semangat 314 peserta pada  pembukaan Olimpiade Sains Nasional SMA / MA tingkat Kabupaten di Politeknik Banjarnegara, 11 Februari 2015. Dalam kesempatan itu, Wabup mengajak agar para siswa mencontoh mental para ilmuwan luar negeri yang disebutnya sebagai tipe pekerja keras. “Jika kalian ingin jadi ilmuwan, peneliti, tirulah ilmuwan-ilmuwan yang serius menghabiskan waktunya di laboratorium untuk penelitian. Kalau hari-hari kalian hanya dihabiskan untuk ngobrol, kongkow-kongkow dan comment di face book, apa jadinya masa depan kamu dan masa depan bangsa ini?” kata Hadi Supeno serius. Ia mencontohkan, negara kecil seperti Korea, mampu memproduksi mobil dan hand phone yang jadi favorit di Indonesia. “Bisa-bisa kita hanya jadi bangsa pemakai, karena minimnya dan malasnya anak bangsa melakukan penelitian,” kata Wabup didampingi Direktur Politeknik Banjarnegara, Dr. Teguh Supriyanto, M. Hum, memberi semangat kepada siswa. Wabup menambahkan, pengguna Blacberry (BB) terbesar di dunia adalah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa bangsa ini lebih menyukai budaya ngobrol dan santai, sementara bangsa lain terus menerus melakukan penelitian dengan sangat serius. “Dari dua ratus jutaan masyarakat Indonesia, tak ada satupun handhpone, sepeda motor, mobil atau produk bermutu kreasi anak bangsa yang digarap serius, tambah Wabup miris. Kepala Dindikpora Banjarnegara, Drs. Noor Tamami, M. Pd menjelaskan, Olimpiade Sains Internasional tingkat Kabupaten Banjarnegara diikuti 341 siswa perwakilan dari SMA/ MA yang ada di Banjarnegara. Bidang yang dilombakan antara lain : Fisika, Kebumian, Kimia, Astronomi, Biologi, Komputer, dan Geografi. Pembukaan pembinaan Olimpiade Sains Internasional dilakukan di Politeknik, dihadiri jajaran dinas pendidikan, dan para pembina masing-masing bidang. Pembinaan ini diikuti 139 siswa dari 5 bidang. Mereka adalah para peraih medali di ajang OSN 2014 lalu yang dilangsungkan di Lombok, NTB. Selain mendapat pembekalan materi teori mereka juga akan ditempa dengan uji praktikum. Pembinaan tahap I ini akan menyaring siswa yang nantinya akan disertakan dalam ajang olimpiade sains internasional 2015. Sementara itu, Direktur Politeknik Banjarnegara, Dr. Teguh Supriyanto, M. Hum, mengingatkan, para peserta pembinaan agar tidak hanya menjadi siswa yang pintar secara akademik saja. Karena, kunci sukses ada 4 hal, yaitu cerdas, jujur, tangguh, dan peduli. Jadi, selain memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni, mereka juga dituntut memiliki sikap jujur Wabup Hadi Supeno dan Teguh Supriyanto kemudian bersama-sama menyerukan pesan dan harapan agar beberapa tahun ke depan Indonesia bisa menghentikan dominasi negara-negara kuat dengan muncul sebagai peraih-peraih nobel. “Keyakinan akan kemampuan diri adalah yang utama,” katanya. (mujiprast).

Sebanyak 400 Guru Menerima Sertifikat Pendidik

Sebanyak 400 Guru menerima sertifikat pendidik. Sertifikat tersebut nantinya akan digunakan sebagai persyaratan mendapatkan tunjangan profesi. “Dari 416 guru yang mengikuti PLPG melalui lembaga pendidik dan tenaga pendidikan (LPTK) Universitas Negeri Surakarta, Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Yogyakarta, 400 dinyatakan lulus sementara  16 guru masih diberikan kesempatan mengikuti  tahun 2015 dengan pola PPGJ (Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan),” kata Kepada Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olah Raga Banjarnegara Noor Tamami.

Noor menambahkan saat ini jumlah guru TK, SD,SMP,SMA dan SMK menurut data Dindikpora sebanyak 9.548 guru yang terdiri dari PNS 5.339 dan Non PNS 4.209. Dari jumlah tersebut PNS yang mendapat sertifikat sejumlah 3981 guru dan Non PNS sebanyak 402 guru.

“Besarnya tunjangan profesi bagi PNS satu kali gaji pokok dan bagi non PNS atau  guru tetap yayasan sebesar Rp. 1.500.000, dan tahun 2015 bertambah menjadi 400 guru yang hari ini menerima sertifikat pendidik dan sebanyak 657 guru baru akan mengikuti tahapan Uji Kompetensi Guru serta 16 guru PLPG ulang, sehingga jumlah guru yang mendapatkan tunjangan profesi pada tahun 2015 nanti mencapai 4.783 guru,” lanjut Noortamami.

Terkait penyebab guru yang belum mendapat tunjangan profesi Noor menjelaskan beberapa hal diantaranya kualifikasi pendidikan belum S1, belum memiliki NUPTK yang diterbitkan Kementrian Pendidikan dan tidak sesuai dengan tugas mengajar serta tidak terpenuhinya jumlah jam mengajar minimal 24 jam.

Bupati Sutedjo Slamet Utomo pada kesempatan tersebut mengatakan  dalam peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

“Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, Sehat Jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” kata Sutedjo.

 Guru Harus Profesional

Sutedjo menambahkan sertifikat pendidik merupakan bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Profesional yang dimaksud adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standart mutu atau norma tertentu  serta memerlukan pendidikan profesi.

Lebih lanjut Bupati juga meminta kepada guru setelah menerima sertifikat pendidik agar mampu melaksanakan tugas secara proporsional dan profesional, dimana guru harus melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal.

“Pemenuhan beban guru sebagai pegawai 37,5 jam setiap minggunya dan beban kerja mengajar 24 jam benar-benar terpenuhi, saya berharap profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip karena memiliki bakat, minat dan panggilan jiwa,” lanjutnya.

Panggilan jiwa menurut Sutedjo  juga merupakan modal utama untuk menciptakan keharmonisan antara guru dan peserta didik. Dengan modal itu guru akan mampu menciptakan pembelajaran secara interaktif, Inspiratif, Menyenangkan,Menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. (**anhar)

Pemda Himbau Buang Sampah pada Tempatnya

(Buang Sampah Sembarangan Denda Menanti)

Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Banjarnegara sedang gencar mensosialisasikan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2014 tentang Penanganan Sampah.

Kepala KLH, Lukman Jarir saat ditemui di kantornya belum lama ini menjelaskan, dengan adanya peraturan daerah tersebut maka penanganan sampah di Banjarnegara memiliki dasar hukum yang jelas.

“Salah satunya disebutkan tentang denda bagi warga yang membuang sampah sembarangan. Namun pelaksanaannya tidak secara langsung dan tiba-tiba,” terang dia.

Lebih jauh ia menjelaskan, penerapan denda tersebut bukanlah untuk menakut-nakuti masyarakat. Melainkan untuk memberikan kesadaran pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Penerapan denda ini mengacu pada peraturan yang juga sudah diterapkan di sejumlah kota. Salah satunya Kota Bandung yang menerapkan aturan denda kurang lebih Rp.50 juta bagi warga yang membuang sampah sembarangan. “Tujuannya untuk memberi efek jera,” ujarnya.

Lingkungan Bersih dan Sehat

Peraturan daerah tentang penanganan sampah yang ditetapkan pada Desember tahun lalu, diharapkan juga akan mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. “Adanya peraturan daerah ini dapat menjadi pedoman hukum dalam pelaksanaan penanganan sampah dan bisa sebagai stabilitas untuk menekan orang yang membuang sampah sembarangan dengan sengaja,” kata dia.

Pembuatan peraturan daerah yang membutuhkan waktu satu tahun sejak 2013 ini juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan pengelolaan sampah.

Lukman menambahkan, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya saat ini masih perlu ditingkatkan.

Warga yang membuang sampah sembarangan masih sering ditemui bahkan saat berada di jalan. Dan untuk sementara ini, penanganan sampah dilakukan dengan cara menyediakan sarana dan prasarana seperti tempat sampah dengan menggandeng dinas lain yang terkait.

Selain itu pula melakukan inovasi pengelolaan daur ulang sampah yang diolah menjadi pupuk dan barang pakai yang memiliki nilai ekonomis seperti tas, vas bunga, dan tikar. “Sementara ini jika ada yang melanggar membuang sampah sembarangan akan diberi pengertian dan imbauan,” lanjutnya.

Pihaknya secara rutin juga melakukan sosialisasi dengan cara menghadiri pertemuan yang dilakukan warga, baik di tingkat kecamatan, desa, keluarahan, RT maupun RW.

Materi yang disampaikan, salah satunya ditekankan pada penanganan dan pengelolaan sampah menjadi barang ekonomis atau melalui bank sampah. “Harapannya masyarakat akan semakin sadar akan pentingnya lingkungan yang bersih untuk menciptakan kondisi keluarga dan masyarakat yang sehat,” pungkasnya. (** yovi humas)

Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru MGMP Bahasa Indonesia SMP Gelar workshop

 

 

 

Guna merumuskan pola pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP menyelenggarakan workshop “Menuju Pendidik Unggul dalam Perencanaan, Pelaksanaan, Penilaian, dan Pembelajaran yang Menyenangkan di Kelas”. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bawang, Senin 16 Februari  2015.  Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Fasilitator Daerah (Fasda)  USAID yang diikuti 70 peserta  guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP se-Kab Banjarnegara. Workshop dilaksanakan dalam empat pertemuan yaitu tanggal 16 dan 23 Februari serta tanggal 2 dan 16 Maret 2015.

Dalam pelaksanaannya peserta dibagi dalam tujuh kelompok diskusi, kemudian masing-masing kelompok bergiliran merepresentasikannya di depan para peserta. Tujuan workshop adalah untuk meningkatkan profesionalitas guru menuju pendidik unggul dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pembelajaran yang menyenangkan di kelas.

Workshop juga dihadiri oleh Kabid Sekolah Menengah (Kabid. Sekmen) Dindikpora Kab Banjarnegara  Drs. Aziz Purwanto, MM. Dalam sambutannya Aziz menyampaikan beberapa hal terkait dengan  profesionalitas guru antara lain bahwa guru harus benar-benar memahami tugas pokok dan fungsi guru mapel, menguasai metode dan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, mampu berinovasi dan harus mampu menciptakan ide-ide cemerlang. Meskipun sederhana bisa menjadi karya yang spektakuler.

Selain itu, guru harus dapat menjadi teladan bagi siswa dan menginspirasi siswa untuk berbuat positif yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Juga hendaknya memperhatikan sarana dan prasarana yang ada antara lain ruang kelas yang bersih agar belajar dengan nyaman, hasil kegiatan praktik siswa perlu  dipajang di dalam ruangan, agar menumbuhkan semangat untuk selalu berinovasi  dalam proses pembelajaran, imbuhnya.

Guru tidak harus terpaku  dengan buku dan lembar kerja siswa, namun harus lebih inovatif dalam memanfaatkan sarana prasarana yang ada. Proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas tetapi bisa di luar kelas dan alam terbuka yang lain, jelasnya.

 

Salah seorang peserta dari SMP Negeri 1 Bawang, Tjatur Budijantoro, S. Pd, mengaku sangat gembira dengan adanya pelatihan seperti ini. “Siswa sekarang sangat kritis karena informasi yang begitu cepat mereka dapat. Guru harus mengimbangi dengan daya kreatif untuk mencukupi keingintahuan siswa. Jika tidak ingin ketinggalan, guru harus selalu meng-upgrede pengetahuannya,” ujar Tjatur yang juga aktif di beberapa kegiatan seperti Pegiat Film Pelajar atau PIJAR ini dengan penuh semangat.. (mjp).

 

 

 

Forbara Gelar Sholat Gerhana

 

 

 

Musyawarah Daerah (Musda) Forum Rohis Banjarnegara (Forbara) terasa istimewa. Pasalnya, saat digelar Sabtu (4/4) di masjid SMA Negeri 1 Banjarnegara, berbarengan dengan fenomena alam langka, gerhana bulan. Karenanya, di sela-sela acara panitia menyelenggarakan sholat gerhana. Bertindak sebagai imam dan khotib Ustadz Yusman yang juga merupakan guru agama di SMP Negeri 3 Pagedongan. Dalam khutbahnya, Yusman berharap agar jamaah tidak mengaitkan fenomena gerhana bulan dengan keadaan-keadaan mistis atau kejadian luar biasa yang akan atau telah terjadi. “Gerhana bulan harus kita maknai sebagai sebuah bukti kebesaran Allah semata” tandas Yusman di hadapan peserta Musda Forbara.

Musda Forbara dilaksanakan setelah pada 14 Februari lalu dideklarasikan pendirian Forbara. Ketua panitia Musda Rijal Romolo berharap Musda yang didalamnya terdapat amalan sunah muakad harapannya menghasilkan program kerja yang bermanfaat besar bagi umat Islam. Ketua Rohis SMA Negeri 1 Banjarnegara tersebut juga berharap Musda ini semakin mempererat jaringan anggota Rohis SMA sederajat di Banjarnegara.

“Kami berharap dengan kerjasama antar Rohis yang kuat akan menjadikan nuansa keislaman di sekolah menjadi semakin kuat” ujar Rijal. Ia juga mengaku kegiatan Forbara juga didasari oleh keprihatinan para anggota Rohis dengan semakin maraknya bisnis prostitusi terselubung di tempat karaoke, marak beredarnya minuman keras di kalangan pelajar, serta aneka demoralisasi lainnya. “Peran kita sebagai pelajar sangat vital, terutama membentengi diri sendiri dari kondisi moral di masyarakat yang semakijn bobrok”tegar Rijal.

Salah satu peserta dari SMA Negeri 1 Sigaluh Solatif, mengungkap bahwa acara yag diikutinya sangatlah bermanfaat. “Selain menambah kenalan baru dari Rohis se Banjarnegara, kita juga mendapatkan banyak materi tentang pengelolaan organisasi Rohis yang sangat berguna di dalam organisasi Rohis di masing-masing sekolah” terang Solatif. (Luthfan Nizamuddin)

 

 

 

Kerugian yang Hakiki

Semua orang pasti ingin selalu bahagia dan tidak pernah menginginkan kesengsaraan walau sejenak. Semua orang ingin senantiasa beruntung dan berusaha maksimal menghindari kerugian, namun apa hendak dikata, fakta berbicara lain. Tidak semua yang diinginkan manusia di dunia terwujud, terkadang apa yang justru dihindari menjadi fakta yang harus diterima, meski terasa pahit. Kerugian terus mendera. Kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang berbeda-beda, mulai dari sikap ekstrim sampai yang biasa-biasa saja. Terkadang sikap itu justru mendatangkan kerugian atau penderitaan baru, seperti bunuh diri –na’udzu billah-, merusak harta-benda, mencederai diri sendiri atau mencederai orang lain. Tapi ada juga yang menyikapi dengan santai, tenang dan penuh kesabaran.

Dia menyadari bahwa kerugian yang dialami di dunia ini bukanlah kerugian hakiki, bukan kerugian yang akan mendatangkan penderitaan abadi, itu bukanlah kerugian yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam fiman-Nya:

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Az-Zumar: 15)

Karugian yang disebutkan dalam ayat di atas itulah kerugian yang hakiki, yang akan menyebabkan penyesalan yang kekal. Kerugian pada Hari Kiamat, kerugian di saat kebaikan dan keburukan manusia ditimbang dengan timbangan teradil yang tidak mengandung kecurangan sama sekali. Kerugian pada Hari Kiamat merupakan akibat dari perbuatan kita selama hidup di dunia. Jika kesempatan hidup ini bisa kita manfaatkan dengan baik dan maksimal, sebagaimana seorang pebisnis memanfaatkan modal usahanya yang sangat terbatas untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, maka insya Allah kita akan terselamatkan dari kerugian tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita semua dari Kerugia tersebut.

Kerugian terburuk yang menimpa seseorang adalah kerugian yang menimpa agamanya, karena kerugian ini akan menyebabkan penderitaan abadi di akhirat. Kerugian yang menimpa agama seseorang merupakan musibah terparah bagi seseorang.

Diantara ciri orang yang menderita kerugian dengan kerugian hakiki adalah ia melalaikan kesempatan beramal shaleh dalam kehidupannya. Dia membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja, sehingga akhirnya saat kematian tiba, amal kebaikan yang pernah dilakukannya masih sedikit, sementara keburukannya menggunung. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami (Al-A’raf: 8-9)

Tanda-tanda orang merugi lainnya adalah sering mengingkari janji, membuat kerusakan di muka bumi dengan menyebarkan syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Orang yang tunduk dan taat kepada orang-orang kafir serta memberikan loyalitas kepada mereka, juga diantara ciri orang yang rugi. Al-Qur’an dengan tegas telah mengingatkan perbuatan yang menyebabkan akibat buruk ini. Karena orang-orang kafir itu akan berusaha membuat kita seperti mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadikanlah kamu orang-orang yang rugi.(Ali Imran: 149)

Termasuk orang-orang yang merugi pada Hari Kiamat adalah orang yang hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat dia mendapatkan anugerah kebaikan, di saat hidupnya nyaman, enak dan makmur atau dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala disaat apa yang dilakukan itu bisa mendatangkan keuntungan atau kebaikan duniawi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (Al-Hajj: 11)

Termasuk merugi juga yaitu orang yang dilalaikan oleh harta dan keluarga sehingga tidak bisa beribadah kepada Allah.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata merugi dan hal-hal yang menyebabkan kerugian. Ini semua dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak tertimpa kerugian yang mengakibatkan penderitaan yang tidak terpikirkan akibatnya dalam kehidupan akhirat.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga dan menyelamatkan kita dari kerugian-kerugian tersebut. Amin yrb. (Kh. Suhedi, SH.)

150 Peserta Ikuti Seminar Parenting

 

 

 

Sebanyak 150 peserta mengikuti seminar parenting yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Cabang  (DPC) Gabungan Organisasi Penyelenggaran Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kabupaten Banjarnegara di Pendopo Dipayuda Adigraha Kabupaten Banjarnegara, (24/03). Mereka adalah pimpinan dan pengurus DPC GOPTKI Kabupaten Banjarnegara, Ketua Dewan Pengurus Ranting GOPTKI Se-Kabupaten Banjarnegara serta guru TK/PAUD perwakilan masing-masing ranting se-Kabupaten Banjarnegara. Ketua Panitia, Hj. Rusmiyati mengatakan tema kegiatan kali ini yakni Membuka Jendela Kecerdasan Anak Usia Dini Melalui Parenting dengan narasumber H. Fatkhurrohman, SE, Master Trainer Parenting Jawa Tengah.

“Maksud dan tujuan kegiatan ini yakni untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas guru TK/PAUD di Kabupaten Banjarnegara” katanya. Sementara itu, Ketua DPC GOPTKI Kabupaten Banjarnegara, Ny. Hj. Sundari Fahrudin Slamet Susiadi mengatakan saat ini orang tua banyak berharap anak-anaknya memperoleh bekal ilmu dan keterampilan di sekolah, namun komponen utama pendidikan yang tidak boleh dilupakan adalah penanaman rasa tanggungjawab moral, akhlak dan budi pekerti yang mulia harus ditekankan pada proses kegiatan belajar mengajar di taman kanan-kanak.

“Masa depan anak tergantung pada bagaimana kita merawat dan mendidik anak pada usia dini, karena apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar akan terekam di otak anak” katanya.

Untuk itu, lanjut Ny. Hj. Sundari Fahrudin, peran dari semua pihak sangat dibutuhkan, orang tua bertanggungjawab mendidik anak di rumah dan di lingkungan, sedangkan di sekolah pendidikan menjadi tanggungjawab para guru, kemudian tidak kalah pentingnya peran para penyelenggara pendidikan, dalam hal ini GOPTKI juga bertanggung jawab dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Pada Kesempatan yang sama, Dra. Sri Trisnainingsih, M.Si, Asisten Administrasi Sekda Kabupaten Banjarnegara mengatakan kegiatan ini sangat membantu pembangunan pendidikan tingkat anak usia dini dan kanak-kanak di Kabupaten Banjarnegara.

“Paud adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, pada dasarnya pendidikan paud merupakan salah satu bentuk bentuk penyelenggarakan pendidikan yang menitikberatkan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik anak,” pungkasnya.  (Sudin)

 

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan