Mon10252021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk SOSOK SUMITRO KOLOPAKING, MERAJUT KETOKOHAN LOKAL

SOSOK SUMITRO KOLOPAKING, MERAJUT KETOKOHAN LOKAL

Semasa Pemerintahan Bupati Soemitro Kolopaking antara tahun 1927-1947, Kabupaten Banjarnegara memiliki sekitar 264 desa. Setiap 4-5 desa disatukan secara psikologis oleh seorang pinisepuh (untuk wilayah Karesidenan banyumas dinamakan Penatus, untuk wilayah Kedua dinamakan Glondong). Di Banjarnegara waktu itu terdapat sekitar 50 penatus.
Bupati tiga zaman ini dikenal mampu membina hubungan baik dan erat dengan desa-desa serta menciptakan persaudaraan yang sedalam-dalamnya. Ia ternyata memberdayakan ketokohan lokal untuk menciptakan sistem hubungan kemasyarakatan yang efisien dan produktif bagi pemerintahan dan pembangunan. Bagaimana ia merajut ketokohan lokal di Banjarnegara?

Penatus sebagai Ujung Tombak
    Sebagai Bupati, ia memandang penting laporan resmi dan rutin para camat yang dahulu disampaikan lewat wedana. Berdasarkan laporan itu, Bupati mengadakan turba (turun kebawah) dan penelitian, diikuti wedana, camat, dan sekelompok lurah. Jika diperlukan disertakan pegawai tingkat Kabupaten di bidang-bidang, seperti kepolisian, pertanian, pengairan, keagamaan, pendidikan, dsb.
    Namun disamping laporan resmi, Bupati harus menjalin hubungan kemasyarakatan dengan desa secara pribadi dan rahasia. Bagaimana kehumasan ini dijalankan? Mula-mula Bupati harus memiliki penatus dengan syarat jujur, progresif dengan ukuran desa, berani, terus terang dan memiliki pengalaman hidup yang luas baik diluar maupun didalam desa.
    Sebagai Bupati ia rajin menghubungi orang-orang tua itu dari waktu ke waktu. Kemudian merajutnya menjadi anyaman jaring sosial yang efektif menggerakan pembangunan.
    Jam kunjungan dipilih selepas maghrib karena umumnya mereka usai bekerja diladang. Soemitro biasanya mendatangi pinisepuh sendirian, membawa senapan angin (ketika itu) untuk membidik hewan musuh pertanian. Ia berpakaian sangat sederhana, dan membawa oleh-oleh kue, tempe keripik, kacang goreng, dsb.
    Ia akan menyapa para pinisepuh dengan ‘kaki’, sementara masyarakat pedusunan menyebut Bupati masa itu dengan ‘Ndara  Kanjeng’. Tidak lama kemudian kabar kedatangan Ndara Kanjeng menjadi magnet yang serentak menghimpun tetangga kanan-kiri dan masyarakat sedusun. Terjadilah dialog yang sangat akrab dan tulus. Bupati lebih memilih banyak mendengarkan dengan senang hati dan terbuka laporan tidak resmi masyarakat.  Masyarakat sendiri diberi kesempatan sebanyak mungkin menyampaikan aspirasi, ‘ngudarasa’ permasalahan, unek-unek dibidang ekonomi, pertanian, sosial  dan masalah lainnya yang dianggap urgen dipedusunan.
    Pada waktu sebelum tengah malam, ia akan kembali jalan kaki 8-10 km dengan diantar 3-4 pemuda yang membawa obor kalau rembulan gelap, menuju kendaraan di jalan besar. Berganti-ganti ia menyerap aspirasi diberbagai penatusan.
    “Demikianlah saya menghubungi berganti-ganti semua penatusan, dan lama-kelamaan terlihatlah kemajuan desa dalam beberapa bidang. Dengan inti kerjasama, orang-orang tua dalam sistem ini merupakan ‘spear point’ (ujung tombak), yang dapat menerobos dan menyingkirkan secara diam-diam puluhan, bahkan ratusan kesulitan dan pertengkaran, tanpa kekerasan dan tanpa biaya sedikitpun.
Teladan Kesederhanaan Seorang Pejabat
    Ditengah kehidupan yang makin materialis, dimana kaum muda kehilangan teladan hidup sederhana. Sosok Bupati Banjarnegara Ke-5 Soemitro Kolopaking merupakan inspirasi dan teladan pejabat tinggi yang tetap hidup bersahaja.
    Kehidupan Bupati Soemitro tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kesederhanaan. Sebelum berkelana jauh ke Eropa semasa belia pada usia 20-an, pola hidup bersahaja sudah ditanamkan kuat oleh kedua orang tuanya sejak kecil di rumah.
    Ia mengakui dalam biografinya, “Dari kecil mula saya oleh orang tuaku dididik untuk selalu hidup sesederhana mungkin, tidak menghiraukan pangkat-pangkat yang tinggi, tidak menghiraukan turunan bangsawan, tidak menghiraukan pujian, tidak menghiraukan popularitas yang kosong, partai-partai dan ormas-ormas, dan lainnya bersama-sama Pak Kromo di Pedusunan, Mbok Bikah dan Mbok Sarwinem diwarung kecil, dan pedagang-pedagang pasar di desa. Mereka semua itu adalah Saudaraku.”
    Tidak jarang saat turba di wilayah Bupati Soemitro beristirahat tengah hari dengan makan minum bersama kelompok masyarakat yang tengah sibuk gotong royong. Tidak sungkan makan dan minum di tanggul ataau jalan yang sedang dibikin atau dekat saluran irigasi yang baru digali.
    Kedekatan yang sangat antara pejabat tinggi dan masyarakat dimaksudkan untuk mematahkan mitos sakral jabatan. “Ada yang berkata, itu tidak sesuai dengan kedudukan seorang pegawai tinggi, dan akan memerosot kedudukan seorang pegawai tinggi, dan akan memerosotkan prestise seorang pembesar?” Ia mengutip keraguan kalangan kolot.
    Menurutnya, hal itu tidak benar. “Tidak, pada mulanya cara kekerjasama begitu memang dulunya dianggap aneh oleh rakyat jelata dan kaum feodal. Sekarang dimasa ‘civic mission’ anggapan kolot itu telah berkurang atau lenyap. Sebaliknya, rasa persaudaraan dan saling percaya dengan perlahan-lahan mulai bertambah dan berkembang.”
    Baginya, memang pekerja kasar seperti memikul batu atau tanah, masuk keselokan untuk mengatur air supaya sawahnya subur, atau mencangkul di tegalan, adalah pekerjaan yang phisiknya kotor, tapi mentalnya bersih. Berlainan sekali dengan menjalankan pekerjaan profesi secara cakap, ahli dan halus, tapi mudah muncul manipulasi-manipulasi yang ditunjukan ke korupsi yang bermacam-macam.
    Era kepemimpinan Soemiitro Kolopaking sudah setengah abad berlalu. Namun hidup bersahaja yang dicontohkannya masih relevan untuk diteladani kaum muda, masyarakat dan kalangan pegawai pemerintah utamanya para pejabat.

 (SAG / sumber: Buku Coret-coretan Pengalaman Sepanjang Masa, Otobiografi Soemitro Kolopaking).


Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan