Tue10192021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk T A J U K

T A J U K

T A J U K
2014, Waktunya Bertindak dari Awal
Bukan Awal untuk Meramal
Syahdan, Bulan Januari berasal dari kata Janus, sang dewa bermuka dua – satu menghadap ke depan – satu sebaliknya - dalam mitologi Yunani. Dengan nama itu, bulan Januari disimbolkan sebagai awal. Sebuah babakan baru untuk melihat ke depan dengan pertimbangan tatapan masa lalu, dalam spektrum kekinian, bukan berarti meramal, tapi tanpa meniadakan masa yang telah lewat. Demikianlah, Januari bisa dikatakan awalan dari sebuah akhiran. Dan akhiran adalah sebuah awalan baru, kata Aristoteles.



Namun, adakah awalan dari sebuah akhiran? Jika kemudian masa lalu datang begitu gencar di hadapan kita? Tidak hanya pada ingatan-ingatan yang kadang menyakitkan tapi juga dalam bentuk kasat mata yang membentur pemahaman kita? Inilah, dalam pemahaman Max Weber, zaman yang begitu kuat menyedot segala kesadaran kita, namun tak ada sesuatu yang berarti didapat. “Kita memasuki zaman spesialisasi tanpa visi, sensualitas tanpa hati; kekosongan ini membayangkan kita bahwa ia telah mencapai suatu level peradaban yang belum pernah dicapai sebelumnya,” begitu Weber bertafakur.
Lalu benarkah keprihatinan Weber itu? Mari kita lihat, saat ini kita begitu dibujuk ‘kemewahan-kemewahan’ yang begitu kuat merayu kita. Lihatlah papan reklame di jalan dengan provokatifnya berada di depan kita saat melintas. Iklan-iklan di TV tiap saat menjajakkan momen-momen bujukan, rayuan, dan bahkan provokasi yang dilakukan dengan berwayuh cara.
Akibatnya, bila kita ikut tersedot di dalamnya, kita bisa lupa bahkan alpha, dimana kita berada. Saat ini, masa lalu, atau masa depan? Apa yang terpampang menjadi tumpang tindih, berbaur, seperti tak ada jeda.
Tiba-tiba saja kita disuguhi gambaran zaman Majapahit setelah melihat goyang itiknya Sazkia Gothik, atau goyang bornya Inul. Lalu sekejap zaman berubah ke masa mendatang saat kita disuguhi kecanggihan teknologi lewat film-film yang menyajikan modernisasi zaman entah kapan yang mungkin kita tak akan bersua dengannya, ‘Film The Transformer’ misalnya. Bahkan, David Beckham ikon sepakbola saat ini, memasukkan oli mesin mobil lewat dada untuk mensuplay jantung hingga bisa menendang bola sepak dengan kecepatan tak terbendung. Bak rocket dengan kecepatan cahaya, untuk menunjukkan bahwa oli mesin mobil yang ditawarkan bisa menjadikan performance mobil bisa secepat roket dan sehebat dia dalam bermain bola.
Namun, di balik semua itu, kita tak pernah dapat memahami apa substansi dari segala yang ditawarkan, kecuali harus membeli. Dan apa yang ditawarkan untuk dibeli adalah bukan benda/objek tapi tanda. Jean Baudrillard menyebutkan, masyarakat kita adalah masyarakat yang sudah tidak bisa lagi mengontrol objek yang dibeli tapi dikontrol oleh objek yang dibeli. Masyarakat tak bisa lagi mengontrol simbol, status dan prestise lewat objek-objek yangh dikonsumsinya.
Setidaknya, ada dua kekuatan besar yang saling berkelindan mendorong dan membentuk jejaring yang tak bertepi dalam peradaban kini. Dua kekuatan tersebut menjadi motor percepatan peradaban. Semua berpatok pada seberapa cepat dan sesegera mungkin. Dua kekuatan besar tersebut adalah teknologi dan informasi. Dengan teknologi manusia bisa bergerak dan bertindak seleluasa mungkin kemana dan apa yang ia mau. Dengan informasi yang disokong teknologi, manusia bisa tahu sesegera mungkin kejadian kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun. Antara informasi dan teknologi, keduanya mengarahkan laju gerak manusia, bahkan peradaban ini.
Paul Virllo dalam pustaka Speed & Politics menyebut masa kini adalah masa dimana kecepatan sebagai kekuasaan. Kecepatan sebagai ciri kemajuan, sehingga membentuk kemajuan-kemajuan dalam tempo tinggi. Maka yang terjadi, kekuasan yang tertinggi adalah kecepatan. Ruang, kemudian digerakkan teknologi yang berupa barang elektronik yang bergerak melampaui skala global. Kini, manusia bergerak dari satu teritorial ke teritorial lain tidak dengan ekspansi, seperti : Jengis Khan menaklukkan wilayah Asia, dari Samuderat  Pasifik hingga Laut Kaspia; pedagang Gujarat berdagang ke Malaka; Sultan Agung berkonvoi menuju Batavia, akan tetapi teritorial yang telah di kuasai meledak ke dalam, menyedot dan mengerumuni manusia bak magnet.
Manusia, dengan menggunakan perangkat elektronik dapat menjelajah dan bertualang kemanapun semau dan sesuka ruang yang akan dijelajah. Kendaraan untuk bertualang tak lagi sepeda motor, mobil, kereta api atau pesawat boeing, melainkan telepon, komputer, internet. Kendaraan dinamis telah diganti dengan kendaraan statis. Tubuh manusia tak usah melontar banyak energi karena perjalanan, cukup diam di depan alat elektronik, maka semua dapat dijangkau dengan cepat. Manusia, kemudian, cukup menampung, menahan, menyerap setiap gerakan yang datang.
Weber, jauh telah prihatin akan memudarnya pesona yang dimiliki dunia. Dalam pandangan Weber masyarakat perlahan namun pasti, mengganti rasionalitas subtantif sebagai tipe rasionalitas dengan kemampuan memberi arah bagaimana manusia harus menjalani hidup dengan rasionalitas formal, yakni rasionalitas yang melibatkan kalkulasi means–ends (cara dan tujuan). Rasionalitas formal merujuk pada aturan, hukum dan bijakan yang diterapkan secara universal. Rasionalitas ini memiliki beberapa karekteristik.
    Pertama, struktur dan lembaga secara rasionalitas formal menekankan perhitungan/kalkulasi (calculability), atau semua dapat di hitung atau di kuantifikasi. Kedua, berfokus pada efisiensi (efficiency), pada pencarian cara terbaik untuk memperoleh tujuan. Ketiga, sangat memperhatikan terjaminnya prediksi/perkiraan (predictability), atau sebuah cara dapat diberlakukan dengan cara sama di lain tempat atau di lain waktu. Keempat, sistem rasionalitas formal dengan deras mereduksi kemanusiaan dan akhirnya mengganti teknologi yang dijalankan manusia (human technology) dengan mesin (nonhuman technology). Mesin (seperti sistem yang komputerisasi) dianggap lebih dapat diperhitungkan, lebih efisien, dan lebih dapat diperkirakan dibanding yang dijalankan manusia. Kelima, rasionalitas formal berusaha meningkatkan kontrol ketindakpastian,terutama ketidakpastian yang dimiliki manusia yang berkerja, atau dilayani oleh mesin mesin/teknologi.
    Akhirnya, sistem rasionalitas formal cenderung mempunyai konsekuensi irasional (irrational consequensces) yang berentetan bagi manusia yang terlibat dengan sistem tersebut dan bagi sistem itu sendiri, hingga bagi masyarakat luas.
    Satu dari irasionalnya rasionalitas, dalam pandangan Weber, adalah dunia cenderung menjadi kurang pesonanya (enchated), kurang dava magisnya dan akhirnya kurang berarti bagi manusia.
    Dalam bahasa Peter L.Berger, manusia kemudian tak menemui tempat untuk bersarang pemikiran akan realitasnya. Manusia menemui realitas berlalu begitu cepat, sedangkan proses internalisasi, yakni peresapan nilai- nilai hasil usaha manusia menakluk, membentuk dan membangun dunia, melalui proses penetapan kesadaran yang diakui secara kolektif, terus digerus perjalanan zaman. Maka yang ditemui manusia, dunia yang begitu jauh, begitu asing bagi dirinya. Manusia gamang akan realitasnya. Hidup cuma sekedar menjalani momen-momen, sehabis itu tak ada lagi yang harus di lakukan. Seperti tidak bervisi, dan bahkan anehnya ramalan menjadi pijakan untuk menunggu apa yang akan terjadi.
    “Manusia hanya bisa hidup, tapi tak bisa mengada”, kata Karl Jasper. Dunia sudah kehilangan pesona. Manusia hanya menemui petaka-petaka yang tiada henti, dari aksi teroris hingga panasnya dunia politisi yang penuh dramatisasi. Dan, manusia hanya bisa menatap. Jangankan masygul, untuk sekedar menyerap pun begitu sulit.
    Mengenai hal tersebut Benjamin menulis tentang Malaikat Sejarah: “Wajahnya menghadap kemasa silam. Dimana kita tangkap jalinan mata rantai peristiwa, yang ia saksikan hanyalah satu malapetaka yang terus menerus menumpuk remukan demi remukan dan melempakannya ke depan kakinya. Sang malaikat ingin tinggal, membangunkan mereka yang mati, dan mengutuhkannya segala yang telah rajam. Namun segunung badai menggemuruh dari kahyangan ; begitu dahsyat membuat kedua sayapnya tak lagi bisa ditutup. Badai itu tiada terlawan menggusur ke masa depan yang ia hadapi dengan punggungnya, selagi gundukan serpil di bawah tatapannya menjulang menebus langit. Badai inilah yang kita sebut kemajuan”.
    Kemajuan tersebut menjadi sebuah sangkar besi (iron cage) yang manusia tak bisa lepas bahkan sedikit hela di dalamnya. “Tak seorang pun tahu ….”, tulis Weber dalam The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism,”….siapa yang akan hidup di kandang ini di masa akan datang, ataukah pada akhir perkembangan besar ini akan muncul nabi-nabi yang seluruhnya baru, atau akan ada kelahiran kembali ide-ide dan cita-cita yang besar, atau jika tidak keduanya, kebekuan mekanis, yang dibumbui dengan sejenis keunggulan diri yang konvulsif.
    Renungan Weber tersebut mungkin di alamatkan pada kita di awal tahun 2014 ini. Manusia yang tengah menghadapi sebuah sangkar besi raksasa. Baik itu berbentuk birokrasi negara maupun sistem kapitalisme global.
    Namun, kita harusnya yakin, sebenarnya kita masih ingin berbisik satu tekad bersama-sama, untuk kemudian tidak hanya berbisik melainkan berucap, lantas bukan hanya berucap, melainkan berteriak : “Kami bermaksud memberikan karunia kepada kaum tertindas; Kami akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris di muka bumi!” (Al-Qashash:5)
    Nah, pilihannya ada di tangan kita selaku pemimpin dan pewaris bumi Allah ini, menjadikan 2014 sebagai awal untuk meramal atau bertindak dari awal untuk mencapai akhir yang dicita-citakan. 
(***yovi humas—).

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan