Sat10162021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk

Tajuk

Jadikan Perbedaan Sebagai Rahmatan Lil ’Alamin

Kepala Kantor Kementrian Agama Banjarnegara Farhani meminta warga untuk menghormati dan menghargai perbedaan dalam penetapan awal bulan Ramadhan 1433 Hijriah. “Mau mengikuti pemerintah boleh, mau tidak juga boleh, perbedaan itu kita sikapi sebagai bagian dari Rahmatan Rahmatan Lil’alamin,” kata Farhani saat memberikan tausiah usai sholat tarawih bersama SKPD di Pendapa Dipayudha Adigraha, (23/7).

Read more: Jadikan Perbedaan Sebagai Rahmatan Lil ’Alamin

Refleksi 181 tahun Kabupaten Banjarnegara

Majalah Derap Serayu edisi ini adalah edisi istimewa. Selain karena edisi khusus memperingati Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-181, di edisi ini ditampilkan pula suara wakil rakyat kita dari fraksi di DPRD Banjarnegara. Rubrik khusus Suara Wakil Rakyat ini adalah hasil wawancara reporter Derap Serayu, Dhian Budi Asih, SIP dengan narasumber. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Read more: Refleksi 181 tahun Kabupaten Banjarnegara

Mengejar Kesejahteraan Melewati Jalan Pendidikan

Kabupaten Banjarnegara telah diproklamasikan bebas dari status daerah tertinggal pada tahun 2010. Namun kemerdekaan itu tidak berarti bebas dari problema kemiskinan. Pemerintah Kabupaten yang berjuluk Kota Dawet Ayu, di usia ke-181 tahun masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mengejar terwujudnya cita-cita kesejahteraan bagi satu juta lebih penduduknya.

Read more: Mengejar Kesejahteraan Melewati Jalan Pendidikan

Menggapai Banjarnegara BaldatunThayyibatunWa Rabbun Ghafuur

Banjarnegara yang kita idam-idamkan adalah kabupaten yang masyarakatnya hidup rukun, tentram, damai dan sejahtera, atau dalam bahasa Al Qur-an disebut Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.

Read more: Menggapai Banjarnegara BaldatunThayyibatunWa Rabbun Ghafuur

DESA MINIATUR NEGARA

Kabupanen Banjarnegara merupakan kabupaten yang kaya akan sumber daya alam dan manusia yang sangat potensial untuk dikembangkan. Dalam kenyataannya sumber daya tersebut  belum sepenuhnya dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik, sehingga belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara optimal.

Read more: DESA MINIATUR NEGARA

Merawat Warisan Menginisiasi Kemajuan

Komitmen untuk membangun suatu daerah hanya akan terjadi bila didasari rasa bangga. Tanpa kebanggaan manusia hanya bekerja memenuhi aturan dan kewajiban birokratis semata. Dalam bahasa Mangkunegara IV disebutkan bahwa suatu negeri akan awet dan maju bila warga negaranya tumbuh rasa handarbeni, melu hangrungkebi, dan mulat sarira hangrasa wani (merasa memiliki, ikut merawat dan menjaga, serta siap berkurban untuk tumpah darahnya).

Read more: Merawat Warisan Menginisiasi Kemajuan

SALAM REDAKSI

Enam puluh tujuh tahun yang lalu, pada 17 Agustus 1945, kita berhasil mendirikan negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 melalui kegigihan berdiplomasi dan perjuangan bersenjata yang banyak menelan korban jiwa para syuhada pejuang kemerdekaan.

Read more: SALAM REDAKSI

BELAJAR MEM-PANCASILA

SELAMA bulan Juni 2012, begitu banyak kegiatan yang membicarakan Pancasila baik berupa diskusi, seminar, renungan, atau upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Ini sebuah fenomena menarik karena selama kurun waktu beberapa tahun pasca Reformasi orang sedikit bicara soal Pancasila. Pasahal dejure dan defacto, Pancasila adalah dasar Negara yang sangat jelas tercantum di dalam konstitusi kita.

Read more: BELAJAR MEM-PANCASILA

Subcategories

  • REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO
    REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO Apakah semua orang harus menjadi pahlawan? Kalau pahlawan diartikan sebagai hero, heroic, dan heroism, memanggul senjata turun dari panser atau membawa tombak menunggang kuda mengejar musuh untuk dibunuh, tentulah tidak semua kurun waktu membutuhkan seorang pahlawan. Namun bila pahlawan diartikan sebagai orang yang memberikan kemanfaatan besar bagi publik, maka kehidupan ini membutuhkan banyak pahlawan untuk semua jenis kehidupan dan sepanjang masa. Dari 156 nama Pahlawan Nasional Indonesia tidak ada putera kelahiran Banjarnegara. Namun bukan berarti orang-orang Banjarnegara adalah orang-orang yang apatis apalagi menjadi pengkhianat bangsa dan Negara. Bahwa ada masa di mana para priyayi punggawa praja lebih menjadi bagian dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda sangatlah mungkin, dan itu menjadi fenomena umum di seluruh kawasan Nusantara. Hanya saja untuk dicatat, ada prasasti yang memastikan bahwa Banjarnega pernah melahirkan seorang hero yang berani mengambil resiko, dengan kekuatan semangat membara berihtiar mengusir penjajah Belanda dari Surakarta, tatkala raja Surakarta pun, yakni Paku Buwana II tidak mampu melakukannya. Dialah Tumenggung Mangunyudo. Dialah yang dengan gagah berani berangkat meninggalkan singgasana kekuasaannya di Banjar Petambakan menuju Surakarta memenuhi panggilan dharma Paku Buwana II untuk mengusir tentara Belanda yang menguasai keraton Surakarta, berkonspirasi dengan para elite keraton. Mangunyudo memang akhirnya gugur, yang kematiannya masih kontraversial sampai sekarang. Namun bahwa ia mati di Loji Kasunanan, di tempat yang menjadi pusat pertempuran cukup memberikan pesan bahwa seorang Mangunyudo mati dengan gagah berani saat melawan penjajah. Karena kematiannya itulah maka ia memperoleh gelar baru Mangunyudo Sedaloji. Dari buku “Sejarah dan Babad Banjarnegara” karangan guru saya Bapak S Adisarwono, begitu banyak dan penuh warna masa lalu Banjarnegara, baik yang bersifat historical dengan bukti-bukti otentiknya, legenda, mitos maupun cerita lisan yang tidak jelas sumber aslinya. Namun saya kira ada satu hal yang patut kita ambil dari buku tersebut, yaitu cerita perjuangan Tumenggung Mangunyudo. Ruh Mangunyudo adalah akar karakter orang Banjarnegara yang memiliki sifat semangat merdeka, pengorbanan untuk nusa bangsa, dan siap mengambil resiko demi sebuah kehormatan, betapapun sendirian menghadapi resiko tersebut. Bukankah kita layak mempertanyakan di mana para penguasa Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Semarang, dan yang lain-lainnya saat Mangunyudo krida bandhayuda di Surakarta? Seberapapun banyaknya tentara Belanda saat itu, seandainya Mangunyuda tidak dibiarkan sendiri memimpin pertempuran, Belanda akan mudah diusir dari Surakarta, setidaknya mundur ke kawasan lain yang bukan merupkan pusat pemerintahan. Namun itulah sejarah perang, selalu menghadirkan pahlawan dan pengkhianat, melahirkan pelopor dan kolaborator. Kita bersyukur, nenek moyang orang Banjarnegara bukan jenis kolaborator dan pengkhianat, namun masuk dalam golongan pahlawan. Mangunyudo telah lama tenggelam oleh waktu, tanpa sempat mampir dalam peta sejarah perjuangan bangsa, dan tidak masuk dalam jajaran 156 nama Pahlawan Nasional. Tetapi bila membaca sejarah hidup dan perjuangannya, tak ada yang menampik betapa gagah beraninya dia, dengan prajurit dan senjata seadanya, dengan ringannya meninggalkan Banjarnegara menuju Surakarta, lalu membinasakan para prajurit Belanda hingga dirinya berkalang tanah, lalu oleh sang kuda dilarikan hingga kembali ke tanah kelahirannya. Di makam tua pinggir Kali Merawu, sisa-sisa semangat kepahlawanan Mangunyudo masih ada. Maka di saat kita tengah getol berjuang mengubah nasib bangsa ini, mengubah Banjarnegara lebih baik lagi dari pada hari ini, kiranya ruh Mangunyuda bisa menuntun kita. Aktualisasi dari semangat Mangunyudo adalah keberanian kita untuk mandiri, untuk membela mereka yang miskin dan tertindas, membela hak, serta menegakkan harkat dan martabat sebagai manusia. Ruh Mangunyudo harus dihidupkan kembali agar generasi muda mendapatkan apinya, bukan abunya. Api Mangunyudo itu dalam konteks kekinian adalah bagaimana kita yang hidup pada saat sekarang berani hidup mandiri tanpa ketergantungan pada Negara misalnya, bagaimana memiliki kepedulian pada lingkungan hidup untuk tetap hijau dan memberikan mata air untuk menjamin sungai-sungai tetap mengalirkan air bagi kehidupan, atau tekun menemukan dan melahirkan karya-karya kreatif untuk menunjukkan kualitas sumber daya manusia pada dirinya. Pendek kata Mangunyudo harus hidup pada setiap dada generasi penerus Banjarnegara, sehingga kabupaten kita tercinta bukan ada sekedar menjalani keniscayaan alamiah pasrah sumarah tak pernah berubah, tetapi Banjarnegara yang lain, Banjarnegara yang berbeda, Banjarnegara yang selalu membawa kebanggaan untuk diucapkan dan dikibarkan. Nama-nama seperti Ebiet G Ade (musik), atau Kris John (olah raga), Prof Dr Heri Suhardiyanto (akademik), Sulistiyo (Ketua Umum PB PGRI/anggota DPD), adalah contoh bagaimana mereka telah berbuat lebih dari masyarakat pada umumnya. Para pelajar kita juga banyak yang memenangkan olimpiade internasional. Guru-guru kita juga banyak yang menjuarai lomba-lomba karya inovatif tingkat nasional. Dengan prestasi-prestasi seperti itulah kita dengan bangga bisa berkata lantang. “Inilah anak turun Mangunyudo Sedoloji yang gagah berani, yang bersedia mati untuk kehormatan sebuah negeri”. Membangkitkan semangat ruh Mangunyudo Sidoloji itulah yang harus mewarnai dan menjadi inti peringatan hari jadi Banjarnegara yang dirayakan setiap tanggal 22 Agustus. Bukan yang lainnya. Dirgahayu Banjarnegara! *** *) Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara. Pertanian Tetap Jadi Prioritas Pembangunan Banjarnegara
    Article Count:
    2

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan