Mon10252021

Last updateFri, 23 Nov 2018 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk

Tajuk

Sumber Makanan Pengganti Beras

Sementara itu, Anggit Sutedjo Slamet Utomo, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten yang juga sebagai penggagas lomba mengatakan, tujuan mengadakan lomba B2SA tersebut adalah untuk member tawaran alternatif  bahan makanan selain padi, karena banyak bahan pangan lain di sekitar kita.

Read more: Sumber Makanan Pengganti Beras

KETAHANAN PANGAN Program P2KP Terus Digenjot demi Tercapainya Swasembada dan Ketahanan Pangan

Kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, di samping ada masyarakat yang semula makanan pokoknya non beras beralih ke beras. Di lain pihak, lahan sawah terus mengalami penurunan sejalan terjadinya alih fungsi lahan ke non pertanian seperti untuk perumahan dan industri. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Read more: KETAHANAN PANGAN Program P2KP Terus Digenjot demi Tercapainya Swasembada dan Ketahanan Pangan

Wanita Tani

Melalui kegiatan P2KP tersebut, Kantor Ketahanan Pangan pada tahun lalu juga sudah memberikan bantuan kepada kelompok wanita tani (KWT) di berbagai kecamatan.

Read more: Wanita Tani

REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO

Apakah semua orang harus menjadi pahlawan?  Kalau pahlawan diartikan sebagai hero, heroic, dan heroism, memanggul senjata turun dari panser atau membawa tombak menunggang kuda  mengejar musuh untuk dibunuh,

Read more: REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO

Siapakah Dewa Itu : Kekerasan atau Sportivitas?

Proses kehidupan tidak pernah lepas dari hubungan  sosial antar manusia, baik yang bersifat mutual ataupun yang parasit. Hubungan ini selalu mewarnai kehidupan manusia, terlepas dari adanya kemungkinan untuk muncul hubungan yang lain.

Read more: Siapakah Dewa Itu : Kekerasan atau Sportivitas?

RSBI dan Mutu Pendidikan Kita

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan siap melaksanakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang penganuliran penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional (RSBI). Sebuah fenomena yang cukup (mengejutkan) di awal tahun.Sebenarnya, tujuan awal dibentuknya RSBI dan SBI bukan untuk menciptakan diskriminasi atau pengkastaan dalam pendidikan.

Read more: RSBI dan Mutu Pendidikan Kita

AIR TANAH

Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Banjarnegara Nomor 12 Tahun 2010 tentang Air Tanah sangat penting untuk diketahui oleh setiap orang. Apalagi pertimbangan mendasar lahirnya Perda ini untuk memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup agar keberadaan air tanah sebagai sumber daya air tetap mendukung dan mengantisipasi tuntutan perkembangan pembangunan yang berkelanjutan serta berpihak kepada kepentingan rakyat.

Read more: AIR TANAH

Tiga Perkara Sebabkan Seorang Hamba Merugi

Ada tiga perkara di bulan Ramadhan ini yang dapat menyebabkan seorang hamba sangat merugi karena sebab tiga perkara itu Dia dijauhkan dari rahmat Allah SWT dan dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT. Demikian uraian tausyiah Mubaligh Drs. Suhardi Ahmad di kegiatan Tarling Wabup Drs. Hadi Supeno, M. Si., bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) beserta SKPD, (25/06) di Dusun Doglek, Desa Panggisari, Mandiraja.

Read more: Tiga Perkara Sebabkan Seorang Hamba Merugi

Subcategories

  • REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO
    REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO Apakah semua orang harus menjadi pahlawan? Kalau pahlawan diartikan sebagai hero, heroic, dan heroism, memanggul senjata turun dari panser atau membawa tombak menunggang kuda mengejar musuh untuk dibunuh, tentulah tidak semua kurun waktu membutuhkan seorang pahlawan. Namun bila pahlawan diartikan sebagai orang yang memberikan kemanfaatan besar bagi publik, maka kehidupan ini membutuhkan banyak pahlawan untuk semua jenis kehidupan dan sepanjang masa. Dari 156 nama Pahlawan Nasional Indonesia tidak ada putera kelahiran Banjarnegara. Namun bukan berarti orang-orang Banjarnegara adalah orang-orang yang apatis apalagi menjadi pengkhianat bangsa dan Negara. Bahwa ada masa di mana para priyayi punggawa praja lebih menjadi bagian dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda sangatlah mungkin, dan itu menjadi fenomena umum di seluruh kawasan Nusantara. Hanya saja untuk dicatat, ada prasasti yang memastikan bahwa Banjarnega pernah melahirkan seorang hero yang berani mengambil resiko, dengan kekuatan semangat membara berihtiar mengusir penjajah Belanda dari Surakarta, tatkala raja Surakarta pun, yakni Paku Buwana II tidak mampu melakukannya. Dialah Tumenggung Mangunyudo. Dialah yang dengan gagah berani berangkat meninggalkan singgasana kekuasaannya di Banjar Petambakan menuju Surakarta memenuhi panggilan dharma Paku Buwana II untuk mengusir tentara Belanda yang menguasai keraton Surakarta, berkonspirasi dengan para elite keraton. Mangunyudo memang akhirnya gugur, yang kematiannya masih kontraversial sampai sekarang. Namun bahwa ia mati di Loji Kasunanan, di tempat yang menjadi pusat pertempuran cukup memberikan pesan bahwa seorang Mangunyudo mati dengan gagah berani saat melawan penjajah. Karena kematiannya itulah maka ia memperoleh gelar baru Mangunyudo Sedaloji. Dari buku “Sejarah dan Babad Banjarnegara” karangan guru saya Bapak S Adisarwono, begitu banyak dan penuh warna masa lalu Banjarnegara, baik yang bersifat historical dengan bukti-bukti otentiknya, legenda, mitos maupun cerita lisan yang tidak jelas sumber aslinya. Namun saya kira ada satu hal yang patut kita ambil dari buku tersebut, yaitu cerita perjuangan Tumenggung Mangunyudo. Ruh Mangunyudo adalah akar karakter orang Banjarnegara yang memiliki sifat semangat merdeka, pengorbanan untuk nusa bangsa, dan siap mengambil resiko demi sebuah kehormatan, betapapun sendirian menghadapi resiko tersebut. Bukankah kita layak mempertanyakan di mana para penguasa Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Semarang, dan yang lain-lainnya saat Mangunyudo krida bandhayuda di Surakarta? Seberapapun banyaknya tentara Belanda saat itu, seandainya Mangunyuda tidak dibiarkan sendiri memimpin pertempuran, Belanda akan mudah diusir dari Surakarta, setidaknya mundur ke kawasan lain yang bukan merupkan pusat pemerintahan. Namun itulah sejarah perang, selalu menghadirkan pahlawan dan pengkhianat, melahirkan pelopor dan kolaborator. Kita bersyukur, nenek moyang orang Banjarnegara bukan jenis kolaborator dan pengkhianat, namun masuk dalam golongan pahlawan. Mangunyudo telah lama tenggelam oleh waktu, tanpa sempat mampir dalam peta sejarah perjuangan bangsa, dan tidak masuk dalam jajaran 156 nama Pahlawan Nasional. Tetapi bila membaca sejarah hidup dan perjuangannya, tak ada yang menampik betapa gagah beraninya dia, dengan prajurit dan senjata seadanya, dengan ringannya meninggalkan Banjarnegara menuju Surakarta, lalu membinasakan para prajurit Belanda hingga dirinya berkalang tanah, lalu oleh sang kuda dilarikan hingga kembali ke tanah kelahirannya. Di makam tua pinggir Kali Merawu, sisa-sisa semangat kepahlawanan Mangunyudo masih ada. Maka di saat kita tengah getol berjuang mengubah nasib bangsa ini, mengubah Banjarnegara lebih baik lagi dari pada hari ini, kiranya ruh Mangunyuda bisa menuntun kita. Aktualisasi dari semangat Mangunyudo adalah keberanian kita untuk mandiri, untuk membela mereka yang miskin dan tertindas, membela hak, serta menegakkan harkat dan martabat sebagai manusia. Ruh Mangunyudo harus dihidupkan kembali agar generasi muda mendapatkan apinya, bukan abunya. Api Mangunyudo itu dalam konteks kekinian adalah bagaimana kita yang hidup pada saat sekarang berani hidup mandiri tanpa ketergantungan pada Negara misalnya, bagaimana memiliki kepedulian pada lingkungan hidup untuk tetap hijau dan memberikan mata air untuk menjamin sungai-sungai tetap mengalirkan air bagi kehidupan, atau tekun menemukan dan melahirkan karya-karya kreatif untuk menunjukkan kualitas sumber daya manusia pada dirinya. Pendek kata Mangunyudo harus hidup pada setiap dada generasi penerus Banjarnegara, sehingga kabupaten kita tercinta bukan ada sekedar menjalani keniscayaan alamiah pasrah sumarah tak pernah berubah, tetapi Banjarnegara yang lain, Banjarnegara yang berbeda, Banjarnegara yang selalu membawa kebanggaan untuk diucapkan dan dikibarkan. Nama-nama seperti Ebiet G Ade (musik), atau Kris John (olah raga), Prof Dr Heri Suhardiyanto (akademik), Sulistiyo (Ketua Umum PB PGRI/anggota DPD), adalah contoh bagaimana mereka telah berbuat lebih dari masyarakat pada umumnya. Para pelajar kita juga banyak yang memenangkan olimpiade internasional. Guru-guru kita juga banyak yang menjuarai lomba-lomba karya inovatif tingkat nasional. Dengan prestasi-prestasi seperti itulah kita dengan bangga bisa berkata lantang. “Inilah anak turun Mangunyudo Sedoloji yang gagah berani, yang bersedia mati untuk kehormatan sebuah negeri”. Membangkitkan semangat ruh Mangunyudo Sidoloji itulah yang harus mewarnai dan menjadi inti peringatan hari jadi Banjarnegara yang dirayakan setiap tanggal 22 Agustus. Bukan yang lainnya. Dirgahayu Banjarnegara! *** *) Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara. Pertanian Tetap Jadi Prioritas Pembangunan Banjarnegara
    Article Count:
    2

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan